03 Oktober 2009

Sekolah (Bukan) Sebagai Komoditas


Judul : Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru)
Penulis : St. Kartono
Penerbit : Penerbit Buku Kompas – Jakarta
Cetakan Ke-1 : 2009
Tebal : 221 halaman








SEKOLAH (BUKAN) SEBAGAI KOMODITAS


Pendidikan adalah elemen penting dalam membentuk manusia yang intelek dan berkualitas. Dari sinilah asal muasal seorang pemimpin yang nanti akan memimpin negara ke depan. Menilik sistem pendidikan Indonesia, sebenarnya sejak dahulu ia menjadi concern pemerintah. Salah satunya adalah alokasi APBN sebesar 20 persen, yang bila dilaksanakan dengan baik dan benar, pendidikan Indonesia dinilai dapat berkembang dengan pesat dan semua lapisan masyarakat dapat mengenyam pendidikan dengan biaya murah bahkan gratis. Namun secara faktual, pendidikan di tanah air hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Sekolah acapkali dijadikan ajang bisnis, lahan mencari keuntungan dengan beragam cara dan motif.


Semisal pada proses penerimaan siswa baru, sudah menjadi rahasia umum adanya upaya-upaya “jual jasa” dari beberapa oknum lembaga pendidikan. Lain pula, bila ditilik dari segi biaya-biaya pendidikan yang semakin bervariasi dan pasti mahal menyisakan kegelisahan bahwa ukuran sekolah yang baik dan berkualitas harus mahal, di samping masih ada pungutan-pungutan liar mengatasnamakan kebijakan sekolah-sekolah. Dan juga bukan rahasia lagi, bila di dalam kebobrokan sistem tersebut, pendidik dan birokrasi memiliki andil dalam melanggengkan peralihan fungsi sekolah dari lembaga pendidikan menjadi lembaga jual beli.

Akibatnya, sistem “pasar” ini mengakibatkan terjadinya klasifikasi pendidikan ala ideologi pasar kapitalis. Si kaya akan mengenyam pendidikan berkualitas dan si miskin mengenyam pendidikan seadanya atau tidak sama sekali alias putus sekolah. Seumpama barang mahal, hanya kaum kaya yang mampu membeli. Hal ini tentu telah mengesampingkan hak rakyat atas pendidikan dan kewajiban negara sebagai penyedia pendidikan yang layak bagi masyarakat.

Buku Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru) karya ST. Kartono ini merupakan salah bentuk otokritik dan perlawanan terhadap sistem pendidikan ala pasar dan perilaku aparat pendidikan di dalamnya. Penulis dengan bernas mengurai permasalahan-permasalahan yang menimpa dunia pendidikan di tanah air. Beliau menyajikan gagasan-gagasan konstruktif dan detail dalam mengkritisi dunia pendidikan Indonesia kontemporer.

Buku ini merupakan bunga rampai artikel-artikel ST. Kartono di salah satu media massa nasional. Secara garis besar, pokok pikiran beliau dapat dirumuskan pada kesalahan sistem pendidikan yang bermuara pada money interest. Kepentingan yang bersifat pragmatis ini mulai menyelimuti seluruh sistem pendidikan. Yang terlibat di dalamnya pun beragam dan terpola sistematis dan terorganisir, mulai dari birokrat pendidikan dan pendidik.

Empat puluh tulisan dalam buku ini dipetakan dalam tiga bagian dengan konteks pendidikan yang beragam. Bab pertama, Sekolah di Zaman Kini, penulis mengulas persoalan-persoalan yang selalu menggelantungi pendidikan dewasa ini terutama terkait alih fungsi sekolah menjadi pasar. Mulai dari perihal mahalnya biaya buku, sekolah sebagai proyek dan lain sebagainya. Bab kedua adalah Tergantung pada Guru yang menjelaskan bagaimana peran sesungguhnya seorang guru beserta problematika guru kekinian semisal terjerat dalam masalah kelayakan gaji. Dan bab yang terakhir adalah Mengajarkan Keutamaan. Pada bab terakhir ini, rumusan tulisan lebih dibentuk untuk menafsiri efek pendidikan pasar terhadap objek pendidikan yakni para siswa.

Artikel-artikel penulis di dalam buku ini ditulis dari kurun tahun 1996 hingga 2008 sebagai upaya kajian perilaku pendidikan di tanah air secara berturut-turut. Bisa dibayangkan bahwa problematika pendidikan pasar ini sudah mengakar sejak 8 tahun sebelumnya atau bahkan mulai tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, persoalan-persoalan yang dihadapi dunia pendidikan masih cukup seragam: pendidikan adalah komoditas. Bila itu semua tidak dapat teratasi, sekolah sebagai ladang pasar dan pengeruk keuntungan akan semakin langgeng dan tujuan dasarnya akan tergerus oleh perilaku oknum yang tidak mendidik. Sudah saatnya sekolah dibebaskan dari suasana bisnis yang dilakukan oleh siapa pun, baik oleh birokrat pendidikan nasional, kepala sekolah atau bahkan guru sekalipun.

Sebagai praktisi pendidikan, sekumpulan artikel penulis yang telah mendedikasikan diri sebagai guru selama puluhan tahun ini, menyiratkan objektifitas tentang perilaku negatif dunia pendidikan di tanah air. Tanpa tedeng aling-aling, penulis menggali dan menyodorkan banyak fakta. Fakta-fakta yang bermunculan mengarah pada oknum yang banyak berasal dari para guru sendiri. Meskipun penulis sendiri adalah guru, tanpa keraguan sedikitpun penulis membeberkan persoalan-persoalan sekolah sebagai ajang jual beli. Karena bagi penulis, terdapat banyak ruang yang perlu dikritisi dari dunia pendidikan dan ini harus dilakukan guna memperbaiki dan meningkatkan sistem pendidikan nasional yang lebih baik dan berkualitas.

Kehadiran buku ini tentunya diharapkan mampu menjadi otokritik dan perlawanan atas silang sengkarut dunia pendidikan saat ini di Indonesia, terutama dalam kondisi seperti sekarang ini di mana kebebasan berpendapat mulai dihormati. Buku ini layak dibaca dan menjadi rujukan oleh semua orang yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan, terutama bagi pengamat pendidikan, guru, birokrat pendidikan dan mahasiswa.

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP