29 Juli 2009

Identitas Sebuah Cerita


Semua orang punya cerita. Tetapi tidak semuanya dituliskan. Ada untuk konsumsi pribadi ada juga untuk konsumsi khalayak. Saya hanya sekedar menunaikan titah Pram. Dia bilang,"Semua harus ditulis. Apa pun.... Jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna." (Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1, 2004)

Di bawah ini adalah cerita, kisah tentang pengalaman studi. Mungkin tidak menarik bagi anda kendati hal ini masih menyisakan gelak tawa dan senyuman, minimal untuk diri saya. Ini cerita tentang sakralnya sebuah simbol. Ini adalah kisah saya dengan Samuel Huet, dosen native saat semester 4 (kalau tidak salah) Di UIN malang. Kala itu dia mengampu mata kuliah Writing III (Alhamdulillah saya mendapat E, dan saya merasa pantas, untuk kekhilafan saya di masa itu).

Are You Fascist?
Pagi hari di Joyosuko, matahari memang sudah terbit namun belum menyengat. Malah menusuk dingin, menghembuskan hawa penuh rasa ingin tidur kembali. Aku harus bangun, dosen kali ini lumayan tangguh. Tidak ada kata telat. Telat, pertanda engkau akan dipandanginya. Kalau dipandangi mahasiswa masih lumayan, sebab pandangannya dilapisi senyum. Mengejek tentunya. Sementara dosen tangguh ini tatapannya lain. Tatap penuh pengertian dan penuh kata. Memberikan pengertian padaku dan berujar,”sebaiknya anda jangan masuk, sebaiknya anda pulang.”

Sial, aku lupa. Mesin air mati. Sumur pun kering. Sudah satu hari kamar mandi bau pesing. Mau sholat saja harus ke Musholla bapak Padil di tengah sawah. Terpaksa, ku turut teman satu kontrakan menuju tempat pemandian. Namanya sungai Metro, tempat pemandian tanpa sekat, tanpa dinding pembatas. Kelebihannya, airnya sangat jernih. Jauh berbeda dari air-air di wilayah Sumbersari dan Kerto, yang pekat, kuning dan penuh zat besi. Saran saya jangan telanjang bila mandi di tempat ini, dijamin anda aman dari bahaya intip-mengintip.

Dan lagi-lagi sial. Selesai mandi dan telah sampai di pintu kamar. Aku sadar, baju-bajuku belum kering. Hanya tinggal sepotong kaos dan jaket hitam agak lusuh. Sementara jam sudah menunjukkan enam lewat seperempat pagi. Terpaksa, itu saja yang kupakai, dengan bercelana tentunya. Oh…sepertinya ku bakal berlari lagi.

***

Untung saja, di gedung B lantai dua, dari jauh kulihat teman-temanku masih bergerombol di luar kelas. Pertanda yang sangat baik untukku. Sebuah doa bodoh muncul di otakku, “tuhan, semoga dia tidak masuk saja.” Kuperlambat langkahku. Lumayan, untuk mengeringkan keringatku yang sedikit muncul di pori-pori. Sayang, doaku tidak dikabulkan. Malah dosen tangguh itu muncul dari arah yang berlawanan dan lebih dekat dengan kelas. Aduh…duh…lari lagi!

Kelas dimulai. Dosen tangguh ini emang benar-benar hebat dalam mengajar. Rencana pembelajarannya matang, materi-materinya menarik, gak bikin bosen dan seringkali diselingi dengan joke-joke. Toh, meski begitu, tidak ada jaminan mahasiswa bakal tertarik juga mendengarkan. Repot mau menyalahkan siapakah yang sebenarnya bermasalah saat sistem pengajaran tidak berlaku baik. Mahasiswa cenderung menyalahkan dosen, sebaliknya dosen menganggap mahasiswanya kurang semangat. Hanya segelintir mahasiswa yang mengakui bahwa dirinya bermasalah sebab tidak memperhatikan, tidak mengerjakan tugas-tugas yang ada dan lainnya. Dan sedikit dosen juga yang mau peduli kenapa mahasiswanya seperti itu, kebanyakan menganggap tugas saya sebatas jam kerja saja. Meski lagi-lagi ini praduga saya.

Kuliah telah selesai, meski sudah sejak seperempat jam sebelumnya bukuku sudah kumasukkan dalam tas. Sudah terbayang, mau memasak apa di kontrakan. Pecek terong apa sayur asem. Atau hanya mie kuah diselingi dengan tempe menjes ala warung mas Andik.

Bapak Samuel Huet, si dosen tangguh itu sudah mempersilahkan mahasiswanya pulang. Semuanya kompak merapikan tas dan bergegas keluar kelas. Saat hendak mendekati pintu, tiba-tiba Bapak Samuel Huet memanggilku. Sontak saja aku kaget dan langsung beralih ke mejanya. “Why do you put that symbol in your jacket?” Tanya beliau penuh penasaran. Karuan saja, aku kebingungan dan langsung melihat jaketku. Di bahuku, ya jaketku memiliki beberapa jahitan bordiran berbentuk logo. Di bahu kanan berupa bendera jerman. Di bahu kiri berupa lambang swastika, symbol NAZI di era Hitler. Barangkali dia penasaran kenapa ada lambang NAZI di jaketku. “Is there something wrong sir?” kubalik bertanya. Sebab sejauh jaket ini ini kubuat sejak semester satu, tidak ada yang mempertanyakan, kenapa harus kuberi lambang NAZI dan bendera Jerman. Yang sering malah dipinjam oleh anak-anak kontrakan (Sholeh, Idil) dan kawan-kawan di Komisariat (Idris, Miftah, Faruq dll). Bahkan, sampai ada yang menanyakan jaket ini milik kelompok apa, kok sering dipakai banyak orang. Aku hanya tergelak dan berujar dalam hati, “yang ada bukan kumpulan atau grup tapi satu jaket dipakai banyak orang.”

Dosen Samuel tidak menjawab malah bertanya lagi. Pertanyaan dijawab pertanyaan, bukanlah hal yang asing dalam komunikasi meski dapat mengasingkan pikiran jernih. “Are you fascist?”, pertanyaannya menyentakku dan menyadarkanku bahwa symbol semacam ini masih begitu berarti bagi sebagian orang. Symbol yang kita pakai adalah bagian diri kita, bukan untuk bergaya, bukan untuk gagah-gagahan di depan orang. Ini adalah salah satu bentuk dentitas kita yang membedakan diri kita dengan orang lain. Sementara banyak orang di luar sana, memakai symbol untuk menegaskan eksistensinya, saya adalah ini atau saya adalah itu. Namun hanya sebatas kulit luar tak sampai mengenal lebih dalam atau malah menjadi bagian. Hal ini seperti orang yang memakai kaus Che Guevara dan dengan serius mengatakan dia bersaudara dengan Bob Marley dan Mbah Surip. Saya sadar, seketika itu juga.

“No sir, it’s just a symbol. It’s not my ideology,” jawabku sekenanya. Tanpa penjelasan lebih lanjut, aku pamit keluar. Bayangan menanak nasi bersama teman-teman kontrakan masih cukup kuat. Hal itu tidak menggangguku. Barangkali dosen Samuel masih terbayang-bayang apakah aku keturunan fasis yang katanya pelaku holocaust itu. Entah kenapa beliau mempertanyakannya. Apakah bagi orang luar negeri, symbol tersebut masih begitu sakral hingga hanya orang dengan ideology tersebut yang berani memakainya, atau barangkali benih-benih ideology semacam itu masih berkembang di beberapa Negara seperti kaum skinhead di Inggris yang begitu benci orang imigran. Ah, untung saja ku tak memakai logo palu arit, bisa-bisa ku dilaporkan ke BIN (Badan Intelejen Negara) untuk suksesi penguatan basis komunisme. Ah, lagi-lagi pikiranku terlalu kemana-mana. Hari itu kemudian berjalan seperti biasa. Penuh dengan kegiatan-kegiatan rutin.

Kini, jaket itu telat lusuh, sebagian kancingnya telah lepas. Kini kupajang dia di lemari pakaian bersama toga. Ada banyak kenangan di sana berkumpul dengan keringat kawan-kawan yang membekas di jaket itu. Kuanggap keringat itu masih ada meski sudah kucuci berulang-ulang. Keringat yang menandakan kita sempat memiliki identitas yang sama.

Kraksaan Probolinggo, 12 Juli 2009
NB: percakapan bahasa inggris tersebut hanya rekaan, yang inti pembicaraannya semacam itu. Sudah terlalu lama untuk ingat detailnya.

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP