15 April 2009

Lomba Penulisan Cerpen BUMIPUTERA

Informasi ini saya peroleh dari catatannya mas Kurnia Effendi di Facebook. Saya ingin membaginya dengan kawan-kawan...


Memperingati 97 Tahun Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, bekerjasama dengan Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam), kami mengundang masyarakat umum, terutama para pecinta sastra, untuk mengikuti “Lomba Penulisan Cerita Pendek (Cerpen).”

Sebagai asuransi tertua dan terbesar di Indonesia, Bumiputera dikenal peduli terhadap pengembangan kreativitas masyarakat yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan lomba penulisan setiap tahunnya, termasuk menyelenggarakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia. Sedangkan PaSar MaLam dikenal dengan kegiatannya seperti Sastra Reboan yang digulirkan secara rutin setiap hari Rabu akhir bulan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan.

Topik : “Sosial, Human Interest”

Persyaratan Peserta :

1. Masyarakat umum, warga negara Indonesia.
2. Peserta boleh menggunakan nama samaran (namun nama asli tetap dicantumkan di daftar riwayat hidup).
3. Melampirkan daftar riwayat hidup, (termasuk alamat lengkap, nomor telepon, dan e-mail).
4. Lomba ini tertutup bagi pegawai tetap (organik) AJB Bumiputera 1912.

Ketentuan Lomba :

1. Cerpen harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang asuransi;
2. Cerpen tidak mengandung SARA.
3. Bentuk tulisan dengan gaya bahasa yang cair, kreatif, dan tidak dalam bentuk makalah ilmiah.
4. Setiap karya wajib menyebutkan kata “asuransi” dan “AJB Bumiputera 1912” sedikitnya satu kali.
5. Panjang cerpen maksimum 15.000 karakter, disajikan dalam teks Times New Romans, 1,5 spasi, dengan font 12.
6. Cerpen harus asli, bukan saduran atau terjemahan;
7. Cerpen belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media apapun;
8. Cerpen ditunggu paling lambat tanggal
30 Juni 2009 pukul 24:00 (untuk email) dan berdasarkan cap pos untuk pengiriman melalui pos.
9. Cerpen yang menjadi pemenang akan dimuat di majalah “bumiputeranews” (hadiah sudah termasuk honorarium pemuatan);
10. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.
11. Pengumuman pemenang lomba penulisan akan dilakukan pada bulan Agustus 2009 di website AJB Bumiputera 1912 di
http://www.bumiputera.com/, website panitia di http://www.bumiputeramenulis. com/ dan http://www.reboan.com/.
12. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada akhir Agustus 2009, yang tempat dan waktunya akan diberitahukan kepada para pemenang.

Tata Cara Pengiriman Cerpen :

1. Peserta lomba dapat menulis lebih dari satu cerpen;
2. Cerpen dikirim melalui email ke komunikasi@bumipute ra.com atau bila dalam bentuk hardcopy melalui pos ke alamat: Departemen Komunikasi Perusahaan, AJB Bumiputera 1912, Wisma Bumiputera Lantai 19, Jl. Jend. Sudirman Kav 75, Jakarta 12910

Untuk informasi lebih lanjut hubungi Bumiputera :
Telp. 021-5224565;
Faks. 021-5224566
Email : komunikasi@bumipute ra.com

Hadiah :

1. Juara I : Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan.
2. Juara II : Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan piagam penghargaan.
3. Juara III : Rp. 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan piagam penghargaan.
4. Juara Harapan sebanyak 5 orang masing-masing sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu juta rupiah).
5. Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang.

Read more/Selengkapnya...

12 April 2009

Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009







Dewan Kesenian Jakarta sedang punya gawe. Buat kawan-kawan yang hobi menela'ah sastra, sekarang waktunya untuk unjuk gigi. Tadi saya dapat email langganan dari DKJ yang memberitahukan tentang Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009. Gambar di samping adalah attachment yang dikirim.



Untuk lebih jelas bisa dilihat di situs DKJ atau di SINI

Read more/Selengkapnya...

Mengunduh Novel Q & A Vikas Swarup


Sebagai novel, Q & A (2005) karya Vikas Swarup ini tidak semonumental film Slumdog Millionaire yang merebut penghargaan Oscar. Tidak seperti film adaptasi lainnya di Indonesia—sebagai perbandingan saja—yang novelnya meraih sukses lebih dulu kemudian difilmkan, semisal Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi, Novel Question & Answer ini malah dicari-cari orang banyak paska pemutaran filmya. Novel ini bahkan diterbitkan ulang dan judulnya menjadi Slumdog Millionaire serupa judulnya filmnya. Memang, meski dari luar film ini terkesan Bollywood (dengan tokoh pencinta yang selalu menang dan romantisme berbalut nyanyian dan tari-tarian India), namun nuansa garapan Hollywood sudah bisa dipastikan mulai dari scriptwriter (Simon Beaufoy) hingga produser (Danny Boyle). Apalagi acara WWM (Who Wants to be a Millionaire?) adalah acara produk Amerika, di mana akan menjadi makanan empuk para pengkaji budaya pop.

Seperti film adaptasi karya sastra lainnya, ada perombakan-perombakan dalam menvisualisasikan novel dalam bentuk percakapan dan gerak untuk membuatnya “lebih diterima” di dunia perfilman, terutamanya Hollywood. Mulai dari tokoh Jamal Malik (agar berkesan Muslim) yang dalam novelnya bernama Ram Muhammad Thomas (tiga nama berbeda yang identik dengan tiga agama), tokoh Salim bukan saudaranya, hanya teman akrab sesama pengemis yang nantinya menjadi aktor Bollywood, tidak mati seperti di filmnya, dan acara WWM yang sebenarnya dalam novelnya adalah Who Will Win a Billion?.

Overall, Saya tidak akan terlalu jauh mengomentari adaptasi novel ini menjadi film, karena niatan awal mem-posting ini adalah memberikan fasilitas men-download novel Q & A (berbahasa inggris) ini. Barangkali anda seperti teman saya Mashuri, mahasiswa Bahasa & Sastra Inggris konsentrasi Sastra UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang sedang menjadikan novel ini sebagai bahan analisis skripsinya. Mungkin berguna…itu saja. Data novel Q & A ini, saya download di salah satu situs saat Googling (saya lupa URL-nya) akhir Maret kemarin menggunakan fasilitas Torrent.

Tuk Men-download Novelnya klik di sini

Read more/Selengkapnya...

07 April 2009

Antara Dusta dan Cinta

The lies come from love can devastate as much as those come from false

Pernahkah anda tidak berbohong dalam kehidupan anda sehari-hari? Saya bisa meyakini, jawabannya akan bermuara pada kata “tidak” karena lagi-lagi saya meyakini, sebagian besar kita pernah berbohong pada siapa pun. Ada banyak macam kebohongan, kebohongan karena rasa takut, kebohongan karena rasa jengkel, rasa benci, dan yang begitu problematis adalah berbohong demi cinta.

Ajaran agama saya memerintahkan saya agar tidak berbohong, kepada siapapun. Meski diberikan beberapa keringanan demi tujuan tertentu. Semisal bila saya dipaksa untuk berpindah agama, dengan ancaman dibunuh, saya diperbolehkan untuk berkata “ya” alias berpindah dengan syarat iman saya tidak akan berpaling.

Kebohongan di satu sisi bertemali dengan rasa takut. Sebab kenapa harus berbohong, bila kebenaran itu sangat mulia, begitu menggoda dan mendapat pahala? Ada kala, takut tidak dipuji, takut tidak dihargai, takut dianggap begini, begitu atau yang lainnya adalah alasannya. Padahal konsekuensi logis jika kebohongan kita terungkap, balasannya setimpal dengan apa yang kita takutkan pada awalnya.

Sejenak, saya masih tersenyum bila mengingat ucapan Ibu Ajeng di film Mereka Bilang Saya Monyet, sebuah film gubahan dari dua cerpen Djenar Mahesa Ayu, orang yang berbohong itu bukan karena takut, tetapi berani, berani untuk bertanggung jawab atas kebohongan yang dia sampaikan, apapun konsekuensinya.

Begitukah? Ironiskah? Laiknya menghadiri pemakaman seseorang, bukan duka yang sebenarnya hendak kita berikan, namun kita diberi kesadaran akan keniscayaan kematian bagi manusia termasuk kita sendiri. Ada yang harus kita berikan, ada pula yang kita dapatkan dan renungkan. Begitu pula dengan kebohongan. Apakah dibenarkan berbohong demi tujuan cinta yang tulus? Agar kita dianggap sosok pahlawan bagi seseorang yang kita sayangi?

Jawaban itu secara sederhana, bisa anda temukan pada film ini. Resurrecting the Champ, begitulah judulnya. Makna kebangkitan kembali (resurrection) ini seolah mengarahkan pada pemahaman tentang seseorang yang bangkit dari kematian. Kematian di sini dimaknai dengan keterpurukan, kejatuhan dan kegagalan.

Resurrecting the Champs, adalah kisah fiksi tentang seorang jurnalis The Denver Times, Erik Kernan Jr (Josh Harnett) yang meliput kisah seorang gelandangan (Samuel L. Jackson) yang mengaku-ngaku sebagai Bob Satterfield, seorang Petinju tahun 50-an. Bob Satterfield sendiri adalah petinju kelas berat yang cukup dikenal di ring dunia. Bahkan di Majalah The Ring, yang nota bene adalah majalah olahraga terkenal tentang olahraga adu pukul ini, dia termaktub nomor 58 dalam jajaran 100 petinju terbaik dunia.

Erik Kernan Jr., adalah sosok jurnalis olahraga. Namanya cukup dikenal lantaran nama ayahnya Erik Kernan, adalah broadcaster olahraga paling digemari pada zamannya. Alih-alih karir jurnalistiknya mulus, karirnya saat itu berada sedang di simpang jalan. Pergantian manajer baru, Meltz membuatnya kerja setengah mati demi tulisannya dimuat. Padahal dengan manajer sebelumnya, Kirby, Erik selalu menghasilkan banyak tulisan. Di lain sisi, Erik tertuntut menjadi sosok ayah sempurna bagi anaknya, Teddy (Dakota Goyo).

Pertemuannya dengan gelandangan berjuluk Champ, yang mengaku Bob Satterfield, petinju kawakan, berawal ketika dia selesai meliput pertandingan tinju kelas bulu. Dia menolong sang juara itu dari gangguan anak-anak nakal. Selang beberapa hari, tekanan dari karir jurnalisnya di redaksi surat kabar kian membesar. Tawaran dari dewan pimpinan membuatnya gelap mata, apalagi ketika dia menawarkan untuk meliput sang mantan juara dunia Satterfield, mereka langsung mengiyakan. Hal tersebut membuatnya tanpa sadar langsung memercayai bahwa gelandangan yang dia temui sebelumnya adalah Bob Satterfield sebenarnya. Tanpa ada uji kebenaran terlebih dahulu, dia pun langsung melakukan reportase karena desakan mengangkat karirnya, apalagi niatnya ini diamini oleh manajer umum surat kabar, sebab Bob Satterfield termasuk petinju legenda, tentunya tanpa sepengetahuan Meltz.

Hari pertama penerbitan features-nya cukup mengesankan. Tidak dia sangka, Bob Satterfield adalah sosok petinju yang digemari banyak orang, bahkan tak segan mereka merogoh koceknya untuk membantu petinju melarat itu keluar dari keadaannya itu setelah membaca kisahnya yang mengharukan. Karir Erik pun melonjak tinggi, bahkan dia diundang acara Showtime, salah satu program olahraga yang memiliki rating tinggi di Amerika. Bukan karirnya yang begitu meledak dahsyat, yang begitu membahagiakan dia adalah puteranya yang dia lihat semakin bangga padanya.

Konflik yang sedari awal terbangun tertatih-tatih memuncak saat selang beberapa hari Kernan muncul di Showtime. Banyak teman sejawat dan seangkatan Bob Satterfield yang bermunculan menyangsikan bahwa dia masih hidup. Bahkan sang anak sempat datang ke kantor Denver Times, mencoba menuntut atas pemberitaan yang dilakukan Erik Kernan pada ayahnya.

Secara keseluruhan, film ini menggambarkan tentang kebohongan yang didasari rasa cinta. Cinta kepada orang yang dikasihi di mana film ini menjembatani kecintaan Erik kepada puteranya. Dari keterpurukan, melalui kebohongan, Erik bisa bangkit dan meraih popularitas baik di dalam dunia jurnalisme maupun puteranya. Tapi apa hendak dikata, semua itu hancur saat kebohongan terkuak. Tidak hanya kerjanya yang terancam, kekecewaan anaknya menjadi palu godam yang menghantam tubuhnya. Dia tersungkur, malu dan meringkuk dalam penyesalan. Setimpal dengan apa yang dia takutkan saat terpuruk dulu.

Memang tidak ada yang lebih manis daripada berkata jujur. Seperti kacang mete, saat dimakan dengan kulitnya, terasa pahit dan gatal, namun bila dengan sabar mengupas kulitnya, rasa gurih dan garing yang dapat dinikmati. Film ini memiliki ending yang bahagia. Semua akhirnya dapat memaklumi kebohongan Erik meski hal itu dia dapatkan setelah mengungkapkan hal yang sebenarnya. Sosok Superman itu dia dapatkan saat dia jujur tentang keadaan sebenarnya. Kebohongan memang sulit dibenarkan dengan alasan apapun. Kesuksesan yang akan diperoleh akan hancur tidak tersisa.

Berikut kutipan feature-nya tentang Bob Satterfiled:

The writer like a boxer must stand alone. Having your words published, like entering the ring which your talent is on display and there is nowhere to hide. I never intended to write the story about myself…my son or about love, or the lies that could sometimes come from the love. I would tell you this about the man called champ whom everybody called the champ. He was, against all of reason, my friend and he was also a liar. But was it because he tried to make himself better than who he, or was it because one the force more powerful than son wants the abbreviation from his father or the father wants get abbreviation from his son sometimes we need help of imagination to reach that status. It is no easy task being strongest wisest more beloved man in life. And what is shattered on that moment when our children discovered the real we’re not superman we’ve created or rather Herman Mellvile once wrote, “a man drained of valley”. The lies come from love can devastate as much as those come from false. Champ like; I guess is inspiration for the truth and beauty thing can emerged from that. A beauty of children that admirer us conditionally, love us in conditionally like as I love my son. Mucho Grande.


Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP