17 Januari 2009

Merayakan Kehancuran Kapitalisme?


Judul : Kapitalisme; Teori dan Sejarah Perkembangannya
Penulis : Robert Lekachman & Borin van Loon
Penerbit : Resist Book
Cetakan : I, Agustus 2008
Tebal : 177 Halaman
Resenso : Musthafa Amin




Hampir seabad berlalu Karl Mark meramalkan bahwa Kapitalisme akan mengalami kehancuran. Dalam bukunya Das Kapital, Marx menguraikan tentang keniscayaan pergolakan dalam tubuh kapitalisme dan saat sentralisasi alat-alat produksi dan sosialisme buruh menuju satu titik puncak, maka tandon bernama kapitalisme ini akan meledak berantakan.

Pada prinsipnya, kapitalisme berdasarkan pada eksploitasi besar-besar terhadap segenap perlengkapan modal dan alat-alat produksi demi keuntungan pribadi dan pula kapitalisme selalu bergantung pada sistem pasar. Hingga kini, perlawanan terhadap kapitalisme masih terus dikumandangkan meski tidak melulu berasal dari lisan sosialisme. Optimisme Marx dan para pengikutnya barangkali tinggal rasa harap belaka. Perjuangan sosialisme untuk menghapus kapitalisme, sementara ini menjelma menjadi kesadaran utopis—untuk tidak mengatakannya gagal.

Adalah sangat sulit melawan Kapitalisme, setidaknya bila tidak mengkaji dan mengamati kapitalisme itu sendiri. Sebenarnya kapitalisme bukannya tidak mengalami pasang surut, namun keberhasilan sistem kapitalisme mengatasi segala krisis yang terjadi semakin menguatkan bahwa kapitalisme adalah sistem kuat tanpa celah sedikit pun.

Barangkali hal inilah yang hendak dikaji oleh Robert Leachman dalam Bukunya Kapitalisme; Teori dan Sejarah Perkembangannya. Dalam buku setebal 177 halaman tersebut, dipaparkan sejarah perkembangan kapitalisme yang sarat krisis beserta pemikiran teoritisi terkenal tentang kapitalisme seperti Adam Smith, Karl Marx, JM.Keynes dan Milton Friedman.

Secara historis, fase menuju konsep kapitalisme telah ada sejak abad ke-14 dan abad ke-16 jauh sebelum Adam Smith menerbitkan buku The Wealth of Nation pada tahun 1776. Fase ini dikenal dengan fase borjuis disusul dengan fase kapitalisme secara bertahap pada awal abad ke-16. di Perancis kemudian muncul aliran naturalisme pada pertengahan abad ke-18 yang melahirkan kaum naturalis (lesphisiocrates). Salah satu tokoh naturalis yang terkenal adalah John Locke (1632-1704) yang meramu teori naturalisme liberal. Tentang hak milik ia berkata, "Hak milik pribadi adalah salah satu hak alam dan insting yang tumbuh bersama pertumbuhan manusia. Karena itu tak ada seorangpun yang mengingkari insting ini."

Kapitalisme modern industrial dijelaskan dalam buku ini bermula dalam ideologi merkantilis, tepatnya dimulai di inggris abad ke-18. Figur utama merkantilis adalah penguasa monarki otoriter. Negara merkantilis bertujuan untuk memperbesar kekuasaan nasional, bukan pemenuhan aspirasi-aspirasi individual yang berhubungan dengan kemajuan material. Dampak negatifnya adalah Negara merkantilis berada dalam pertaruhan besar, permainan berani mati terutama setelah emas dan perak dari Dunia Baru habis. Dalam permainan antarbangsa, Inggris bisa makmur hanya jika Perancis atau Spanyol dikorbankan atau sebaliknya. Sampai saat itu, Eropa telah mengeksploitasi penduduk pribumi Peru dan Meksiko.

Karena tingkat tekhnologi rendah di masa merkantilis, cara memperoleh keuntungan maksimum dari para buruh adalah memperpanjang hari kerja dan masa kerja mulai dari kanak-kanak, dan juga menekan upah hingga di bawah tingkat subsistensi. Upah rendah ini didasarkan pada kemungkinan barang-barang inggris bisa bersaing di pasar-pasar asing dan agar para buruh tidak tertarik membeli barang-barang mewah asing seperti the, gula, dan kain katun (hlm. 33).

Pada perkembangannya, Kapitalisme sangat membutuhkan sistem pasar bebas di mana pihak bisa bersaing tanpa campur tangan pemerintah dan pasar-pasar buruh. Adalah Adam Smith yang di dalam bukunya The Wealth Nation menyediakan rasa aman bagi para kapitalis baru. Dengan perdagangan bebas di dalam dan luar negeri, tulis Smith, pengejaran keuntungan pribadi yang egois dan tanpa batas akan meningkatkan kesejahteraan bersama. Ia pula merumuskan sebuah tatanan di mana peran pemerintah sangat minim.

Sulit membayangkan bagaimana kepentingan pribadi yang tanpa batas bisa mengarah pada kebaikan bersama. Salah satu efek negatif yang dipaparkan buku ini, adalah bentuk dorongan untuk meraup laba cepat yang ternyata menafikan kelayakan produk yang dipasarkan. Pernah ada perusahaan farmasi terkenal di Inggris yang memasarkan thalidomide, suatu obat yang belum teruji diperuntukkan bagi wanita hamil. Akhirnya, banyak lusinan bayi cacat lahir menyedihkan.

Ekslploitasi dan Kesenjangan ekonomi yang terjadi antara pemilik modal dan pekerja adalah sebuah paradoks kapitalisme. Para kapitalis berdalih, dalam buku ini, bahwa orang miskin dan tidak beruntung bisa memperoleh yang dinginkan di pasar bebas sementara di satu sisi ketidaksetaraan dalam gaji adalah wajib demi efisiensi ekonomi.

Yang menarik dari buku ini adalah tentang bagaimana kapitalisme mampu memperbaharui diri ketika diterjang krisis. Setiap kali sistem kapitalistik mengalami krisis, kapitalisme mampu bangkit dan tetap merajai dinasti perekonomian dunia.

Salah satu adalah masa Depresi Besar, yang berlangsung 1929-1939. Negara penganut Kapitalisme seperti Inggris, Jerman dan Amerika Serikat mengalami krisis berkepanjangan sehingga diprediksi sistem kapitalisme sedang berada di titik nadir. Yang paling parah tentu Amerika Serikat. GNP jatuh drastis dari 104 milyar dolar di tahun 1929 menjadi 56 milyar dolar di tahun 1933. angka pengangguran dari 1.5 milyar menjadi 12,8 milyar, satu di antara empat buruh kehilangan pekerjaan. Sembilan juta rekening tabungan hilang karena bank-bank runtuh. 30 juta dolar aset finansial hilang saat pasar bursa ambruk. Satu dari lima sekolah di Detroit secara resmi tercatat sebagai murid kurang gizi pada tahun 1932.

Sebuah peristiwa besar dan sebuah teori baru menyelamatkan kapitalisme dunia dan memberinya nafas baru kehidupan. Peristiwa itu adalah Perang Dunia II. Di masa sebelum era nuklir, sebuah perang besar memberi jaminan buruhan penuh baik di angkatan senjata atau industri perang lainnya, lagipula, kehancuran yang yang disebabkan pengeboman memberi jaminan ledakan buruhan rekonstruksi begitu perang berakhir. Teori baru yang muncul adalah hasil pemikiran J.M. Keynes tentang makroekonomi yang berfokus kepada pendapatan nasional, investasi bisnis dan volume lapangan kerja bukan kepada pada harga dan pasar individual yang menjadi titik tolak kapitalisme sebelumnya.

Pembahasan buku ini berlanjut pada penolakan sejumlah teorisi terhadap teori Keynesian ini. Setelah sekian lama kemakmuran ekonomi identik dengan pemerintahan bergaya Keynesian, ternyata masih ada borok kelemahan yang selalu menghantui sistem Keynesian ini yakni inflasi dan penganguran yang berjalan simultan. Milton Friedman adalah tokoh ekonom yang mengajukan antitesis teori Keynesian dengan menawarkan sistem monetarisme, sebuah sistem ekonomi baru yang fokus pada penyediaan uang sebagai npenjelasan baik tentang inflasi dan ringkat efektifitas ekonomi yang tidak dituju oleh teori Keynesian.

Bagi Robert Lekachman dalam buku ini, monetarisme tidak lebih adalah model lawas kapitalisme dengan nama baru. Karena ide monetarisme tentang inflasi yang berasal dari ekspansi yang berlebihan dari suplai uang pemerintah, telah lama dipegang para ahli ekonomi konservatif dan sifat monetarisme yang retrogresif berbalik arah ke ekonmi Adam Smith. Begitu pula teori Keynesian, menurut Lekachman, tidak memnutus hubungan dengan akar-akar ini sehingga kebersinambungan ini masih tetap dalam mode manajemen kapitalisme.

Krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini seolah menyiratkan bahwa Kapitalisme yang dianut oleh negara-negara maju mulai menuju ambang kehancuran. Negara besar semacam Amerika AS memasuki resesi terburuk sejak Depresi Besar tahun 1930. Angka pengangguran di AS diprediksi sebesar 8-8,5 persen pada akhir tahun 2008. Lima sektor penting seperti finansial, otomotif, pemerintahan/organisasi nirlaba, transportasi, dan ritel mengalami PHK besar-besaran. Belanja konsumen juga terus terpuruk. Namun pertanyaan mendasar yang muncul adalah apakah krisis ini adalah awal kehancuran kapitalisme atau langkah awal lahirnya kapitalisme anyar yang lebih kuat?

Akhirnya, memang kita harus jeli bahwa kapitalisme memang akan selalu mencari pembenaran atas upayanya untuk melakukan konsentrasi produksi. Dalam dunia yang sudah dicengkeram oleh beragam model kapitalisme, kebutuhan akan diskusi-diskusi lebih lanjut mengenai berbagai manifestasi kapitalisme tidak dapat dielakkan. Karena itu buku ini adalah referensi penting untuk mewujudkan rasa perlawanan terhadap kapitalisme yang eksploitatif tapi berasa wajar dan alamiah agar kematian kapitalisme benar-benar bisa dirayakan.

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP