03 Oktober 2009

Sekolah (Bukan) Sebagai Komoditas


Judul : Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru)
Penulis : St. Kartono
Penerbit : Penerbit Buku Kompas – Jakarta
Cetakan Ke-1 : 2009
Tebal : 221 halaman








SEKOLAH (BUKAN) SEBAGAI KOMODITAS


Pendidikan adalah elemen penting dalam membentuk manusia yang intelek dan berkualitas. Dari sinilah asal muasal seorang pemimpin yang nanti akan memimpin negara ke depan. Menilik sistem pendidikan Indonesia, sebenarnya sejak dahulu ia menjadi concern pemerintah. Salah satunya adalah alokasi APBN sebesar 20 persen, yang bila dilaksanakan dengan baik dan benar, pendidikan Indonesia dinilai dapat berkembang dengan pesat dan semua lapisan masyarakat dapat mengenyam pendidikan dengan biaya murah bahkan gratis. Namun secara faktual, pendidikan di tanah air hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Sekolah acapkali dijadikan ajang bisnis, lahan mencari keuntungan dengan beragam cara dan motif.


Semisal pada proses penerimaan siswa baru, sudah menjadi rahasia umum adanya upaya-upaya “jual jasa” dari beberapa oknum lembaga pendidikan. Lain pula, bila ditilik dari segi biaya-biaya pendidikan yang semakin bervariasi dan pasti mahal menyisakan kegelisahan bahwa ukuran sekolah yang baik dan berkualitas harus mahal, di samping masih ada pungutan-pungutan liar mengatasnamakan kebijakan sekolah-sekolah. Dan juga bukan rahasia lagi, bila di dalam kebobrokan sistem tersebut, pendidik dan birokrasi memiliki andil dalam melanggengkan peralihan fungsi sekolah dari lembaga pendidikan menjadi lembaga jual beli.

Akibatnya, sistem “pasar” ini mengakibatkan terjadinya klasifikasi pendidikan ala ideologi pasar kapitalis. Si kaya akan mengenyam pendidikan berkualitas dan si miskin mengenyam pendidikan seadanya atau tidak sama sekali alias putus sekolah. Seumpama barang mahal, hanya kaum kaya yang mampu membeli. Hal ini tentu telah mengesampingkan hak rakyat atas pendidikan dan kewajiban negara sebagai penyedia pendidikan yang layak bagi masyarakat.

Buku Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru) karya ST. Kartono ini merupakan salah bentuk otokritik dan perlawanan terhadap sistem pendidikan ala pasar dan perilaku aparat pendidikan di dalamnya. Penulis dengan bernas mengurai permasalahan-permasalahan yang menimpa dunia pendidikan di tanah air. Beliau menyajikan gagasan-gagasan konstruktif dan detail dalam mengkritisi dunia pendidikan Indonesia kontemporer.

Buku ini merupakan bunga rampai artikel-artikel ST. Kartono di salah satu media massa nasional. Secara garis besar, pokok pikiran beliau dapat dirumuskan pada kesalahan sistem pendidikan yang bermuara pada money interest. Kepentingan yang bersifat pragmatis ini mulai menyelimuti seluruh sistem pendidikan. Yang terlibat di dalamnya pun beragam dan terpola sistematis dan terorganisir, mulai dari birokrat pendidikan dan pendidik.

Empat puluh tulisan dalam buku ini dipetakan dalam tiga bagian dengan konteks pendidikan yang beragam. Bab pertama, Sekolah di Zaman Kini, penulis mengulas persoalan-persoalan yang selalu menggelantungi pendidikan dewasa ini terutama terkait alih fungsi sekolah menjadi pasar. Mulai dari perihal mahalnya biaya buku, sekolah sebagai proyek dan lain sebagainya. Bab kedua adalah Tergantung pada Guru yang menjelaskan bagaimana peran sesungguhnya seorang guru beserta problematika guru kekinian semisal terjerat dalam masalah kelayakan gaji. Dan bab yang terakhir adalah Mengajarkan Keutamaan. Pada bab terakhir ini, rumusan tulisan lebih dibentuk untuk menafsiri efek pendidikan pasar terhadap objek pendidikan yakni para siswa.

Artikel-artikel penulis di dalam buku ini ditulis dari kurun tahun 1996 hingga 2008 sebagai upaya kajian perilaku pendidikan di tanah air secara berturut-turut. Bisa dibayangkan bahwa problematika pendidikan pasar ini sudah mengakar sejak 8 tahun sebelumnya atau bahkan mulai tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, persoalan-persoalan yang dihadapi dunia pendidikan masih cukup seragam: pendidikan adalah komoditas. Bila itu semua tidak dapat teratasi, sekolah sebagai ladang pasar dan pengeruk keuntungan akan semakin langgeng dan tujuan dasarnya akan tergerus oleh perilaku oknum yang tidak mendidik. Sudah saatnya sekolah dibebaskan dari suasana bisnis yang dilakukan oleh siapa pun, baik oleh birokrat pendidikan nasional, kepala sekolah atau bahkan guru sekalipun.

Sebagai praktisi pendidikan, sekumpulan artikel penulis yang telah mendedikasikan diri sebagai guru selama puluhan tahun ini, menyiratkan objektifitas tentang perilaku negatif dunia pendidikan di tanah air. Tanpa tedeng aling-aling, penulis menggali dan menyodorkan banyak fakta. Fakta-fakta yang bermunculan mengarah pada oknum yang banyak berasal dari para guru sendiri. Meskipun penulis sendiri adalah guru, tanpa keraguan sedikitpun penulis membeberkan persoalan-persoalan sekolah sebagai ajang jual beli. Karena bagi penulis, terdapat banyak ruang yang perlu dikritisi dari dunia pendidikan dan ini harus dilakukan guna memperbaiki dan meningkatkan sistem pendidikan nasional yang lebih baik dan berkualitas.

Kehadiran buku ini tentunya diharapkan mampu menjadi otokritik dan perlawanan atas silang sengkarut dunia pendidikan saat ini di Indonesia, terutama dalam kondisi seperti sekarang ini di mana kebebasan berpendapat mulai dihormati. Buku ini layak dibaca dan menjadi rujukan oleh semua orang yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan, terutama bagi pengamat pendidikan, guru, birokrat pendidikan dan mahasiswa.

Read more/Selengkapnya...

29 Juli 2009

Identitas Sebuah Cerita


Semua orang punya cerita. Tetapi tidak semuanya dituliskan. Ada untuk konsumsi pribadi ada juga untuk konsumsi khalayak. Saya hanya sekedar menunaikan titah Pram. Dia bilang,"Semua harus ditulis. Apa pun.... Jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna." (Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1, 2004)

Di bawah ini adalah cerita, kisah tentang pengalaman studi. Mungkin tidak menarik bagi anda kendati hal ini masih menyisakan gelak tawa dan senyuman, minimal untuk diri saya. Ini cerita tentang sakralnya sebuah simbol. Ini adalah kisah saya dengan Samuel Huet, dosen native saat semester 4 (kalau tidak salah) Di UIN malang. Kala itu dia mengampu mata kuliah Writing III (Alhamdulillah saya mendapat E, dan saya merasa pantas, untuk kekhilafan saya di masa itu).

Are You Fascist?
Pagi hari di Joyosuko, matahari memang sudah terbit namun belum menyengat. Malah menusuk dingin, menghembuskan hawa penuh rasa ingin tidur kembali. Aku harus bangun, dosen kali ini lumayan tangguh. Tidak ada kata telat. Telat, pertanda engkau akan dipandanginya. Kalau dipandangi mahasiswa masih lumayan, sebab pandangannya dilapisi senyum. Mengejek tentunya. Sementara dosen tangguh ini tatapannya lain. Tatap penuh pengertian dan penuh kata. Memberikan pengertian padaku dan berujar,”sebaiknya anda jangan masuk, sebaiknya anda pulang.”

Sial, aku lupa. Mesin air mati. Sumur pun kering. Sudah satu hari kamar mandi bau pesing. Mau sholat saja harus ke Musholla bapak Padil di tengah sawah. Terpaksa, ku turut teman satu kontrakan menuju tempat pemandian. Namanya sungai Metro, tempat pemandian tanpa sekat, tanpa dinding pembatas. Kelebihannya, airnya sangat jernih. Jauh berbeda dari air-air di wilayah Sumbersari dan Kerto, yang pekat, kuning dan penuh zat besi. Saran saya jangan telanjang bila mandi di tempat ini, dijamin anda aman dari bahaya intip-mengintip.

Dan lagi-lagi sial. Selesai mandi dan telah sampai di pintu kamar. Aku sadar, baju-bajuku belum kering. Hanya tinggal sepotong kaos dan jaket hitam agak lusuh. Sementara jam sudah menunjukkan enam lewat seperempat pagi. Terpaksa, itu saja yang kupakai, dengan bercelana tentunya. Oh…sepertinya ku bakal berlari lagi.

***

Untung saja, di gedung B lantai dua, dari jauh kulihat teman-temanku masih bergerombol di luar kelas. Pertanda yang sangat baik untukku. Sebuah doa bodoh muncul di otakku, “tuhan, semoga dia tidak masuk saja.” Kuperlambat langkahku. Lumayan, untuk mengeringkan keringatku yang sedikit muncul di pori-pori. Sayang, doaku tidak dikabulkan. Malah dosen tangguh itu muncul dari arah yang berlawanan dan lebih dekat dengan kelas. Aduh…duh…lari lagi!

Kelas dimulai. Dosen tangguh ini emang benar-benar hebat dalam mengajar. Rencana pembelajarannya matang, materi-materinya menarik, gak bikin bosen dan seringkali diselingi dengan joke-joke. Toh, meski begitu, tidak ada jaminan mahasiswa bakal tertarik juga mendengarkan. Repot mau menyalahkan siapakah yang sebenarnya bermasalah saat sistem pengajaran tidak berlaku baik. Mahasiswa cenderung menyalahkan dosen, sebaliknya dosen menganggap mahasiswanya kurang semangat. Hanya segelintir mahasiswa yang mengakui bahwa dirinya bermasalah sebab tidak memperhatikan, tidak mengerjakan tugas-tugas yang ada dan lainnya. Dan sedikit dosen juga yang mau peduli kenapa mahasiswanya seperti itu, kebanyakan menganggap tugas saya sebatas jam kerja saja. Meski lagi-lagi ini praduga saya.

Kuliah telah selesai, meski sudah sejak seperempat jam sebelumnya bukuku sudah kumasukkan dalam tas. Sudah terbayang, mau memasak apa di kontrakan. Pecek terong apa sayur asem. Atau hanya mie kuah diselingi dengan tempe menjes ala warung mas Andik.

Bapak Samuel Huet, si dosen tangguh itu sudah mempersilahkan mahasiswanya pulang. Semuanya kompak merapikan tas dan bergegas keluar kelas. Saat hendak mendekati pintu, tiba-tiba Bapak Samuel Huet memanggilku. Sontak saja aku kaget dan langsung beralih ke mejanya. “Why do you put that symbol in your jacket?” Tanya beliau penuh penasaran. Karuan saja, aku kebingungan dan langsung melihat jaketku. Di bahuku, ya jaketku memiliki beberapa jahitan bordiran berbentuk logo. Di bahu kanan berupa bendera jerman. Di bahu kiri berupa lambang swastika, symbol NAZI di era Hitler. Barangkali dia penasaran kenapa ada lambang NAZI di jaketku. “Is there something wrong sir?” kubalik bertanya. Sebab sejauh jaket ini ini kubuat sejak semester satu, tidak ada yang mempertanyakan, kenapa harus kuberi lambang NAZI dan bendera Jerman. Yang sering malah dipinjam oleh anak-anak kontrakan (Sholeh, Idil) dan kawan-kawan di Komisariat (Idris, Miftah, Faruq dll). Bahkan, sampai ada yang menanyakan jaket ini milik kelompok apa, kok sering dipakai banyak orang. Aku hanya tergelak dan berujar dalam hati, “yang ada bukan kumpulan atau grup tapi satu jaket dipakai banyak orang.”

Dosen Samuel tidak menjawab malah bertanya lagi. Pertanyaan dijawab pertanyaan, bukanlah hal yang asing dalam komunikasi meski dapat mengasingkan pikiran jernih. “Are you fascist?”, pertanyaannya menyentakku dan menyadarkanku bahwa symbol semacam ini masih begitu berarti bagi sebagian orang. Symbol yang kita pakai adalah bagian diri kita, bukan untuk bergaya, bukan untuk gagah-gagahan di depan orang. Ini adalah salah satu bentuk dentitas kita yang membedakan diri kita dengan orang lain. Sementara banyak orang di luar sana, memakai symbol untuk menegaskan eksistensinya, saya adalah ini atau saya adalah itu. Namun hanya sebatas kulit luar tak sampai mengenal lebih dalam atau malah menjadi bagian. Hal ini seperti orang yang memakai kaus Che Guevara dan dengan serius mengatakan dia bersaudara dengan Bob Marley dan Mbah Surip. Saya sadar, seketika itu juga.

“No sir, it’s just a symbol. It’s not my ideology,” jawabku sekenanya. Tanpa penjelasan lebih lanjut, aku pamit keluar. Bayangan menanak nasi bersama teman-teman kontrakan masih cukup kuat. Hal itu tidak menggangguku. Barangkali dosen Samuel masih terbayang-bayang apakah aku keturunan fasis yang katanya pelaku holocaust itu. Entah kenapa beliau mempertanyakannya. Apakah bagi orang luar negeri, symbol tersebut masih begitu sakral hingga hanya orang dengan ideology tersebut yang berani memakainya, atau barangkali benih-benih ideology semacam itu masih berkembang di beberapa Negara seperti kaum skinhead di Inggris yang begitu benci orang imigran. Ah, untung saja ku tak memakai logo palu arit, bisa-bisa ku dilaporkan ke BIN (Badan Intelejen Negara) untuk suksesi penguatan basis komunisme. Ah, lagi-lagi pikiranku terlalu kemana-mana. Hari itu kemudian berjalan seperti biasa. Penuh dengan kegiatan-kegiatan rutin.

Kini, jaket itu telat lusuh, sebagian kancingnya telah lepas. Kini kupajang dia di lemari pakaian bersama toga. Ada banyak kenangan di sana berkumpul dengan keringat kawan-kawan yang membekas di jaket itu. Kuanggap keringat itu masih ada meski sudah kucuci berulang-ulang. Keringat yang menandakan kita sempat memiliki identitas yang sama.

Kraksaan Probolinggo, 12 Juli 2009
NB: percakapan bahasa inggris tersebut hanya rekaan, yang inti pembicaraannya semacam itu. Sudah terlalu lama untuk ingat detailnya.

Read more/Selengkapnya...

14 Juni 2009

Lomba Cerpen Science Fiction (SIFIC)

Fiksi ilmiah akan memungkinkan kita semua untuk mengupas realitas dan menemukan kebenaran di dalamnya.” (Arthur C. Clarke)

Fiksi ilmiah adalah suatu bentuk fiksi spekulatif yang terutama membahas tentang pengaruh sains dan teknologi yang diimajinasikan terhadap masyarakat dan para individual. Di dunia sastra Indonesia, genre yang satu ini agak jarang disentuh. Tetapi di dunia sastra internasional, genre ini adalah genre yang sudah ada sejak pertengahan Abad 19. Jules Verne, yang kerap disebut-sebut sebagai Bapak Fiksi Sains menerbangkan balon udara dalam cerita mengelilingi dunia dengan balon selama delapan belas hari, sebelum Zeppelin menemukan balon udara; membantu NASA meluncurkan Apollo 11 dalam novelnya From The Earth to the Moon. Verne tidak menganggap novel-novelnya hanyalah khayalan. Dia yakin ada ilmuwan yang dapat mewujudkan imajinasi-imajinasi nya itu.

Di situlah letak keindahan sebuah fiksi-sains, bercerita melebihi jamannya. Yang patut digaris bawahi adalah pandangan pengarang tentang masa depan tidak hanya berpijak pada sudut pandang imajinasi semata, melainkan juga dari kaca mata ilmu pengetahuan. Berdasarkan kalkulasi akurat tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan dimasa sekarang, pengarang menciptakan sebuah imaji masa depan tentang keadaan masyarakat atau makhluk lain yang berada di luar khayalan manusia di abadnya. Kemudian timbul pula pertanyaan, mengapa di Indonesia masih sedikit penulis fiksi ilmiah? Apakah karena para ilmuwan kita tidak memiliki bakat mengarang dan para pengarang kita tidak punya latar belakang sains.

Menjawab pertanyaan ini maka Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFIS) Universitas Brawijaya, Malang akan mengadakan acara Science Fiction dengan tema:

Leading our future with imagination

Dengan Sub Tema Sebagai berikut:

  • Bagaimana sains merubah masa depan Indonesia
  • Mitologi Indonesia dalam Bingkai Sains
  • Indonesia tahun 2030

Peserta : Umum Pengumpulan : 4 Mei – 4 Juni 2009 Persyaratan cerpen yang dilombakan :

  1. cerpen harus karya asli penulis/pengarang; bukan terjemahan atau saduran
  2. Cerpen mengandung unsur sains, pendidikan, tidak bermuatan pornografi dan SARA.
  3. cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa, dan tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan lain
  4. Cerpen diketik dengan komputer dalam kertas A4 margin 4-3-3-3 spasi 1,5. Panjang 4 - 8 halaman; Times New Roman 12.
  5. Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 judul cerpen sesuai dengan tema
  6. Pendaftaran Rp. 20.000 / Cerpen
  7. Karya dikirim dalam bentuk hard copy dan HARUS disertai soft copy (dalam CD), formulir pendaftaran yang bisa di download pada web www.himafis. brawijaya. ac.id/sific2009. html dan fotokopi pengenal (KTP/KTM/SIM/ Paspor), dan bukti pembayaran.
  8. Naskah dikirim ke Panitia Science Fiction (SIFIC) Kesekretariatan Himpunan Mahasiswa Fisika Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Jl. Veteran no 1 Malang 65145
  9. Batas terakhir pengiriman naskah 4 Juni 2009 (Cap Pos)
  10. Semua naskah cerpen yang masuk sudah menjadi hak milik panitia
  11. Dipilih 30 nominator yang cerpennya akan diterbitkan oleh Bisnis2030 Online Publisher (Internet Business Provider) Webstore: www.bookoopedia. com

Aspek- Aspek yang dinilai adalah :

  • Base on Science (30%)
  • Kesesuaian dengan tema (25%)
  • Unsur-unsur Instrinsik (plot, setting, penokohan dll) (25%)
  • Pesan moral (20%)

Dewan juri:

  • Ir. D.J Djoko. H.S M.Phil.,Ph.D
  • Evi Widiarti (Perwakilan dari Bisnis2030)

Pengumuman pemenang Juara I, II, III dan nominator akan diumumkan pada acara seminar kepenulisan “Fiksi Ilmiah dalam Sastra Indonesia” pada tanggal 13 juni 2009 atau bisa langsung dilihat web HIMAFIS : www.himafis. brawijaya. ac.id


berita ini dilansir dari mywritingblogs.com

Read more/Selengkapnya...

Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2009

PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA

Kembali menyelenggarakan: LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2009) Memperebutkan: LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD

Total Hadiah Senilai Rp 80 Juta Peserta: Terdiri dari 3 (tiga) kategori : Pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Guru/Umum

Syarat-Syarat Lomba:

  • Lomba terbuka untuk Pelajar SLTP (Kategori A), Pelajar SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia atau yang sedang studi/dinas di luar negeri
  • Lomba dibuka tanggal 10 Mei 2009 dan ditutup tanggal 3 Oktober 2009
  • Tema cerita: Dunia remaja dan segala aspeknya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, penderitaan, maupun kekecewaan)
  • Judul bebas, tetapi mengacu pada Butir 3
  • Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) judul
  • Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang benar, indah (literer) dan komunikatif serta bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasi
  • Ditulis di atas kertas ukuran kuarto (A-4), ditik berjarak 1,5 spasi, font 12 (huruf Times New Roman), margin kiri kanan rata (justified) maksimal 5Cm
  • Panjang naskah antara 6 – 10 halaman, disertai: sinopsis, biodata dan foto pengarang, foto copy indentitas (pilih salah satu: KTP/Paspor/SIM/Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa) yang masih berlaku
  • Naskah yang dilombakan dicetak/diprint-out masing-masing judul 3 (tiga) rangkap disertai file dalam bentuk CD
  • Naskah yang dilombakan per judul dilampiri 1 (satu) kemasan LIP ICE jenis apa saja atau 1 (satu) segel pengaman SELSUN.
  • Naskah yang dilombakan beserta lampirannya (perhatikan ketentuian Butir 7b, 7c dan 7d) dimasukkan ke dalam amplop tertutup/dilem, cantumkan Kategori Peserta pada kanan ataspermukaan amplop dan dikirimkan ke Panitia LMCR-2009 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau Sentul City, Bogor 16810 – Jawa Barat
  • Hasil lomba diumumkan 31 Oktober 2009 melalui website www.rayakultura.net dan www.rohto.co.id
  • Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat
  • Naskah yang dilombakan menjadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarang
  • Hadiah untuk Pemenang Karya Favorit (jika ada) memperoleh Piagam LIP ICE-SELSUN
  • Semua pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2009
  • Pajak hadiah para pemenang ditanggung oleh PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA
  • Informasi lebih lanjut e-mail ke: lmcr.2009@gmail.com
berita ini dilansir dari mywritingblogs.com

Read more/Selengkapnya...

Lomba Menulis Cerpen “Girlie Zone” Piala MENPORA

Ketentuan Umum

  • Peserta tak terbatas, boleh warga Indonesia atau luar negeri.
  • Usia dan jenis kelamin bebas.
  • Tema tentang dunia remaja, lebih disukai yang mengandung nilai-nilai motivasi berprestasi, pencerahan atau nilai-nilai kemanusiaan, persahabatan dan persaudaraan.

Ketentuan Khusus

  • Naskah diketik komputer (atau ditulis tangan dengan jelas; spasi 1,5; font 12; sepanjang 5-12 halaman kuarto.
  • Naskah dikirimkan rangkap 3.
  • Dilampiri dengan formulir pendaftaran lomba yang didapatkan di majalah Girliezone edisi 3 hingga 7 (nggak boleh foto kopi, harus asli).
  • Disertai kartu identitas yang masih berlaku.
  • Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu cerpen, masing-masing cerpen 1 formulir pendaftaran asli.
  • Naskah ditunggu selambat-lambatnya 12 September 2009 (cap pos)
  • Naskah dikirim ke redaksi Girlie Zone (Indiva Media Kreasi). Jl Apel II/No 30, Jajar, Laweyan, Surakarta.
  • Pengumuman juara akan dimuat di majalah Girlien Zone edisi 9
  • Nama penulis tidak boleh dicantumkan dalam naskah cerpen atau dilampirkan dalam kertas tersendiri beserta biodata lengkap
  • Content/isi naskah tidak boleh mengandung unsur pornografi ataupun sara

Hadiah

Juara 1: Rp 1.000.000 + paket sponsor + piala menpora + piagam + langganan Girliezone selama 6 edisi Juara 2: Rp 750.000 + paket sponsor + piala menpora + piagam + langganan Girliezone selama 6 edisi Juara 3: Rp 500.000 + paket sponsor + piala menpora + piagam + langganan Girliezone selama 6 edisi

Naskah yang tidak menjadi juara namun memenuhi kriteria akan dimuat di majalah Girliezone dengan honor seperti biasa.


berita ini dilansir dari mywritingblogs.com

Read more/Selengkapnya...

15 April 2009

Lomba Penulisan Cerpen BUMIPUTERA

Informasi ini saya peroleh dari catatannya mas Kurnia Effendi di Facebook. Saya ingin membaginya dengan kawan-kawan...


Memperingati 97 Tahun Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912, bekerjasama dengan Paguyuban Sastra Rabu Malam (PaSar MaLam), kami mengundang masyarakat umum, terutama para pecinta sastra, untuk mengikuti “Lomba Penulisan Cerita Pendek (Cerpen).”

Sebagai asuransi tertua dan terbesar di Indonesia, Bumiputera dikenal peduli terhadap pengembangan kreativitas masyarakat yang diwujudkan dalam berbagai kegiatan lomba penulisan setiap tahunnya, termasuk menyelenggarakan Lomba Kreativitas Ilmiah Guru dan Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia. Sedangkan PaSar MaLam dikenal dengan kegiatannya seperti Sastra Reboan yang digulirkan secara rutin setiap hari Rabu akhir bulan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, Jakarta Selatan.

Topik : “Sosial, Human Interest”

Persyaratan Peserta :

1. Masyarakat umum, warga negara Indonesia.
2. Peserta boleh menggunakan nama samaran (namun nama asli tetap dicantumkan di daftar riwayat hidup).
3. Melampirkan daftar riwayat hidup, (termasuk alamat lengkap, nomor telepon, dan e-mail).
4. Lomba ini tertutup bagi pegawai tetap (organik) AJB Bumiputera 1912.

Ketentuan Lomba :

1. Cerpen harus memiliki nilai manfaat bagi pengembangan pengetahuan, khususnya pengetahuan tentang asuransi;
2. Cerpen tidak mengandung SARA.
3. Bentuk tulisan dengan gaya bahasa yang cair, kreatif, dan tidak dalam bentuk makalah ilmiah.
4. Setiap karya wajib menyebutkan kata “asuransi” dan “AJB Bumiputera 1912” sedikitnya satu kali.
5. Panjang cerpen maksimum 15.000 karakter, disajikan dalam teks Times New Romans, 1,5 spasi, dengan font 12.
6. Cerpen harus asli, bukan saduran atau terjemahan;
7. Cerpen belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya dan belum pernah dipublikasikan di media apapun;
8. Cerpen ditunggu paling lambat tanggal
30 Juni 2009 pukul 24:00 (untuk email) dan berdasarkan cap pos untuk pengiriman melalui pos.
9. Cerpen yang menjadi pemenang akan dimuat di majalah “bumiputeranews” (hadiah sudah termasuk honorarium pemuatan);
10. Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat.
11. Pengumuman pemenang lomba penulisan akan dilakukan pada bulan Agustus 2009 di website AJB Bumiputera 1912 di
http://www.bumiputera.com/, website panitia di http://www.bumiputeramenulis. com/ dan http://www.reboan.com/.
12. Penyerahan hadiah dilaksanakan pada akhir Agustus 2009, yang tempat dan waktunya akan diberitahukan kepada para pemenang.

Tata Cara Pengiriman Cerpen :

1. Peserta lomba dapat menulis lebih dari satu cerpen;
2. Cerpen dikirim melalui email ke komunikasi@bumipute ra.com atau bila dalam bentuk hardcopy melalui pos ke alamat: Departemen Komunikasi Perusahaan, AJB Bumiputera 1912, Wisma Bumiputera Lantai 19, Jl. Jend. Sudirman Kav 75, Jakarta 12910

Untuk informasi lebih lanjut hubungi Bumiputera :
Telp. 021-5224565;
Faks. 021-5224566
Email : komunikasi@bumipute ra.com

Hadiah :

1. Juara I : Rp. 5.000.000,- (Lima juta rupiah) dan piagam penghargaan.
2. Juara II : Rp. 4.000.000,- (Empat juta rupiah) dan piagam penghargaan.
3. Juara III : Rp. 3.000.000,- (Tiga juta rupiah) dan piagam penghargaan.
4. Juara Harapan sebanyak 5 orang masing-masing sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu juta rupiah).
5. Pajak hadiah ditanggung oleh pemenang.

Read more/Selengkapnya...

12 April 2009

Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009







Dewan Kesenian Jakarta sedang punya gawe. Buat kawan-kawan yang hobi menela'ah sastra, sekarang waktunya untuk unjuk gigi. Tadi saya dapat email langganan dari DKJ yang memberitahukan tentang Sayembara Telaah Sastra DKJ 2009. Gambar di samping adalah attachment yang dikirim.



Untuk lebih jelas bisa dilihat di situs DKJ atau di SINI

Read more/Selengkapnya...

Mengunduh Novel Q & A Vikas Swarup


Sebagai novel, Q & A (2005) karya Vikas Swarup ini tidak semonumental film Slumdog Millionaire yang merebut penghargaan Oscar. Tidak seperti film adaptasi lainnya di Indonesia—sebagai perbandingan saja—yang novelnya meraih sukses lebih dulu kemudian difilmkan, semisal Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi, Novel Question & Answer ini malah dicari-cari orang banyak paska pemutaran filmya. Novel ini bahkan diterbitkan ulang dan judulnya menjadi Slumdog Millionaire serupa judulnya filmnya. Memang, meski dari luar film ini terkesan Bollywood (dengan tokoh pencinta yang selalu menang dan romantisme berbalut nyanyian dan tari-tarian India), namun nuansa garapan Hollywood sudah bisa dipastikan mulai dari scriptwriter (Simon Beaufoy) hingga produser (Danny Boyle). Apalagi acara WWM (Who Wants to be a Millionaire?) adalah acara produk Amerika, di mana akan menjadi makanan empuk para pengkaji budaya pop.

Seperti film adaptasi karya sastra lainnya, ada perombakan-perombakan dalam menvisualisasikan novel dalam bentuk percakapan dan gerak untuk membuatnya “lebih diterima” di dunia perfilman, terutamanya Hollywood. Mulai dari tokoh Jamal Malik (agar berkesan Muslim) yang dalam novelnya bernama Ram Muhammad Thomas (tiga nama berbeda yang identik dengan tiga agama), tokoh Salim bukan saudaranya, hanya teman akrab sesama pengemis yang nantinya menjadi aktor Bollywood, tidak mati seperti di filmnya, dan acara WWM yang sebenarnya dalam novelnya adalah Who Will Win a Billion?.

Overall, Saya tidak akan terlalu jauh mengomentari adaptasi novel ini menjadi film, karena niatan awal mem-posting ini adalah memberikan fasilitas men-download novel Q & A (berbahasa inggris) ini. Barangkali anda seperti teman saya Mashuri, mahasiswa Bahasa & Sastra Inggris konsentrasi Sastra UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang sedang menjadikan novel ini sebagai bahan analisis skripsinya. Mungkin berguna…itu saja. Data novel Q & A ini, saya download di salah satu situs saat Googling (saya lupa URL-nya) akhir Maret kemarin menggunakan fasilitas Torrent.

Tuk Men-download Novelnya klik di sini

Read more/Selengkapnya...

07 April 2009

Antara Dusta dan Cinta

The lies come from love can devastate as much as those come from false

Pernahkah anda tidak berbohong dalam kehidupan anda sehari-hari? Saya bisa meyakini, jawabannya akan bermuara pada kata “tidak” karena lagi-lagi saya meyakini, sebagian besar kita pernah berbohong pada siapa pun. Ada banyak macam kebohongan, kebohongan karena rasa takut, kebohongan karena rasa jengkel, rasa benci, dan yang begitu problematis adalah berbohong demi cinta.

Ajaran agama saya memerintahkan saya agar tidak berbohong, kepada siapapun. Meski diberikan beberapa keringanan demi tujuan tertentu. Semisal bila saya dipaksa untuk berpindah agama, dengan ancaman dibunuh, saya diperbolehkan untuk berkata “ya” alias berpindah dengan syarat iman saya tidak akan berpaling.

Kebohongan di satu sisi bertemali dengan rasa takut. Sebab kenapa harus berbohong, bila kebenaran itu sangat mulia, begitu menggoda dan mendapat pahala? Ada kala, takut tidak dipuji, takut tidak dihargai, takut dianggap begini, begitu atau yang lainnya adalah alasannya. Padahal konsekuensi logis jika kebohongan kita terungkap, balasannya setimpal dengan apa yang kita takutkan pada awalnya.

Sejenak, saya masih tersenyum bila mengingat ucapan Ibu Ajeng di film Mereka Bilang Saya Monyet, sebuah film gubahan dari dua cerpen Djenar Mahesa Ayu, orang yang berbohong itu bukan karena takut, tetapi berani, berani untuk bertanggung jawab atas kebohongan yang dia sampaikan, apapun konsekuensinya.

Begitukah? Ironiskah? Laiknya menghadiri pemakaman seseorang, bukan duka yang sebenarnya hendak kita berikan, namun kita diberi kesadaran akan keniscayaan kematian bagi manusia termasuk kita sendiri. Ada yang harus kita berikan, ada pula yang kita dapatkan dan renungkan. Begitu pula dengan kebohongan. Apakah dibenarkan berbohong demi tujuan cinta yang tulus? Agar kita dianggap sosok pahlawan bagi seseorang yang kita sayangi?

Jawaban itu secara sederhana, bisa anda temukan pada film ini. Resurrecting the Champ, begitulah judulnya. Makna kebangkitan kembali (resurrection) ini seolah mengarahkan pada pemahaman tentang seseorang yang bangkit dari kematian. Kematian di sini dimaknai dengan keterpurukan, kejatuhan dan kegagalan.

Resurrecting the Champs, adalah kisah fiksi tentang seorang jurnalis The Denver Times, Erik Kernan Jr (Josh Harnett) yang meliput kisah seorang gelandangan (Samuel L. Jackson) yang mengaku-ngaku sebagai Bob Satterfield, seorang Petinju tahun 50-an. Bob Satterfield sendiri adalah petinju kelas berat yang cukup dikenal di ring dunia. Bahkan di Majalah The Ring, yang nota bene adalah majalah olahraga terkenal tentang olahraga adu pukul ini, dia termaktub nomor 58 dalam jajaran 100 petinju terbaik dunia.

Erik Kernan Jr., adalah sosok jurnalis olahraga. Namanya cukup dikenal lantaran nama ayahnya Erik Kernan, adalah broadcaster olahraga paling digemari pada zamannya. Alih-alih karir jurnalistiknya mulus, karirnya saat itu berada sedang di simpang jalan. Pergantian manajer baru, Meltz membuatnya kerja setengah mati demi tulisannya dimuat. Padahal dengan manajer sebelumnya, Kirby, Erik selalu menghasilkan banyak tulisan. Di lain sisi, Erik tertuntut menjadi sosok ayah sempurna bagi anaknya, Teddy (Dakota Goyo).

Pertemuannya dengan gelandangan berjuluk Champ, yang mengaku Bob Satterfield, petinju kawakan, berawal ketika dia selesai meliput pertandingan tinju kelas bulu. Dia menolong sang juara itu dari gangguan anak-anak nakal. Selang beberapa hari, tekanan dari karir jurnalisnya di redaksi surat kabar kian membesar. Tawaran dari dewan pimpinan membuatnya gelap mata, apalagi ketika dia menawarkan untuk meliput sang mantan juara dunia Satterfield, mereka langsung mengiyakan. Hal tersebut membuatnya tanpa sadar langsung memercayai bahwa gelandangan yang dia temui sebelumnya adalah Bob Satterfield sebenarnya. Tanpa ada uji kebenaran terlebih dahulu, dia pun langsung melakukan reportase karena desakan mengangkat karirnya, apalagi niatnya ini diamini oleh manajer umum surat kabar, sebab Bob Satterfield termasuk petinju legenda, tentunya tanpa sepengetahuan Meltz.

Hari pertama penerbitan features-nya cukup mengesankan. Tidak dia sangka, Bob Satterfield adalah sosok petinju yang digemari banyak orang, bahkan tak segan mereka merogoh koceknya untuk membantu petinju melarat itu keluar dari keadaannya itu setelah membaca kisahnya yang mengharukan. Karir Erik pun melonjak tinggi, bahkan dia diundang acara Showtime, salah satu program olahraga yang memiliki rating tinggi di Amerika. Bukan karirnya yang begitu meledak dahsyat, yang begitu membahagiakan dia adalah puteranya yang dia lihat semakin bangga padanya.

Konflik yang sedari awal terbangun tertatih-tatih memuncak saat selang beberapa hari Kernan muncul di Showtime. Banyak teman sejawat dan seangkatan Bob Satterfield yang bermunculan menyangsikan bahwa dia masih hidup. Bahkan sang anak sempat datang ke kantor Denver Times, mencoba menuntut atas pemberitaan yang dilakukan Erik Kernan pada ayahnya.

Secara keseluruhan, film ini menggambarkan tentang kebohongan yang didasari rasa cinta. Cinta kepada orang yang dikasihi di mana film ini menjembatani kecintaan Erik kepada puteranya. Dari keterpurukan, melalui kebohongan, Erik bisa bangkit dan meraih popularitas baik di dalam dunia jurnalisme maupun puteranya. Tapi apa hendak dikata, semua itu hancur saat kebohongan terkuak. Tidak hanya kerjanya yang terancam, kekecewaan anaknya menjadi palu godam yang menghantam tubuhnya. Dia tersungkur, malu dan meringkuk dalam penyesalan. Setimpal dengan apa yang dia takutkan saat terpuruk dulu.

Memang tidak ada yang lebih manis daripada berkata jujur. Seperti kacang mete, saat dimakan dengan kulitnya, terasa pahit dan gatal, namun bila dengan sabar mengupas kulitnya, rasa gurih dan garing yang dapat dinikmati. Film ini memiliki ending yang bahagia. Semua akhirnya dapat memaklumi kebohongan Erik meski hal itu dia dapatkan setelah mengungkapkan hal yang sebenarnya. Sosok Superman itu dia dapatkan saat dia jujur tentang keadaan sebenarnya. Kebohongan memang sulit dibenarkan dengan alasan apapun. Kesuksesan yang akan diperoleh akan hancur tidak tersisa.

Berikut kutipan feature-nya tentang Bob Satterfiled:

The writer like a boxer must stand alone. Having your words published, like entering the ring which your talent is on display and there is nowhere to hide. I never intended to write the story about myself…my son or about love, or the lies that could sometimes come from the love. I would tell you this about the man called champ whom everybody called the champ. He was, against all of reason, my friend and he was also a liar. But was it because he tried to make himself better than who he, or was it because one the force more powerful than son wants the abbreviation from his father or the father wants get abbreviation from his son sometimes we need help of imagination to reach that status. It is no easy task being strongest wisest more beloved man in life. And what is shattered on that moment when our children discovered the real we’re not superman we’ve created or rather Herman Mellvile once wrote, “a man drained of valley”. The lies come from love can devastate as much as those come from false. Champ like; I guess is inspiration for the truth and beauty thing can emerged from that. A beauty of children that admirer us conditionally, love us in conditionally like as I love my son. Mucho Grande.


Read more/Selengkapnya...

17 Januari 2009

Merayakan Kehancuran Kapitalisme?


Judul : Kapitalisme; Teori dan Sejarah Perkembangannya
Penulis : Robert Lekachman & Borin van Loon
Penerbit : Resist Book
Cetakan : I, Agustus 2008
Tebal : 177 Halaman
Resenso : Musthafa Amin




Hampir seabad berlalu Karl Mark meramalkan bahwa Kapitalisme akan mengalami kehancuran. Dalam bukunya Das Kapital, Marx menguraikan tentang keniscayaan pergolakan dalam tubuh kapitalisme dan saat sentralisasi alat-alat produksi dan sosialisme buruh menuju satu titik puncak, maka tandon bernama kapitalisme ini akan meledak berantakan.

Pada prinsipnya, kapitalisme berdasarkan pada eksploitasi besar-besar terhadap segenap perlengkapan modal dan alat-alat produksi demi keuntungan pribadi dan pula kapitalisme selalu bergantung pada sistem pasar. Hingga kini, perlawanan terhadap kapitalisme masih terus dikumandangkan meski tidak melulu berasal dari lisan sosialisme. Optimisme Marx dan para pengikutnya barangkali tinggal rasa harap belaka. Perjuangan sosialisme untuk menghapus kapitalisme, sementara ini menjelma menjadi kesadaran utopis—untuk tidak mengatakannya gagal.

Adalah sangat sulit melawan Kapitalisme, setidaknya bila tidak mengkaji dan mengamati kapitalisme itu sendiri. Sebenarnya kapitalisme bukannya tidak mengalami pasang surut, namun keberhasilan sistem kapitalisme mengatasi segala krisis yang terjadi semakin menguatkan bahwa kapitalisme adalah sistem kuat tanpa celah sedikit pun.

Barangkali hal inilah yang hendak dikaji oleh Robert Leachman dalam Bukunya Kapitalisme; Teori dan Sejarah Perkembangannya. Dalam buku setebal 177 halaman tersebut, dipaparkan sejarah perkembangan kapitalisme yang sarat krisis beserta pemikiran teoritisi terkenal tentang kapitalisme seperti Adam Smith, Karl Marx, JM.Keynes dan Milton Friedman.

Secara historis, fase menuju konsep kapitalisme telah ada sejak abad ke-14 dan abad ke-16 jauh sebelum Adam Smith menerbitkan buku The Wealth of Nation pada tahun 1776. Fase ini dikenal dengan fase borjuis disusul dengan fase kapitalisme secara bertahap pada awal abad ke-16. di Perancis kemudian muncul aliran naturalisme pada pertengahan abad ke-18 yang melahirkan kaum naturalis (lesphisiocrates). Salah satu tokoh naturalis yang terkenal adalah John Locke (1632-1704) yang meramu teori naturalisme liberal. Tentang hak milik ia berkata, "Hak milik pribadi adalah salah satu hak alam dan insting yang tumbuh bersama pertumbuhan manusia. Karena itu tak ada seorangpun yang mengingkari insting ini."

Kapitalisme modern industrial dijelaskan dalam buku ini bermula dalam ideologi merkantilis, tepatnya dimulai di inggris abad ke-18. Figur utama merkantilis adalah penguasa monarki otoriter. Negara merkantilis bertujuan untuk memperbesar kekuasaan nasional, bukan pemenuhan aspirasi-aspirasi individual yang berhubungan dengan kemajuan material. Dampak negatifnya adalah Negara merkantilis berada dalam pertaruhan besar, permainan berani mati terutama setelah emas dan perak dari Dunia Baru habis. Dalam permainan antarbangsa, Inggris bisa makmur hanya jika Perancis atau Spanyol dikorbankan atau sebaliknya. Sampai saat itu, Eropa telah mengeksploitasi penduduk pribumi Peru dan Meksiko.

Karena tingkat tekhnologi rendah di masa merkantilis, cara memperoleh keuntungan maksimum dari para buruh adalah memperpanjang hari kerja dan masa kerja mulai dari kanak-kanak, dan juga menekan upah hingga di bawah tingkat subsistensi. Upah rendah ini didasarkan pada kemungkinan barang-barang inggris bisa bersaing di pasar-pasar asing dan agar para buruh tidak tertarik membeli barang-barang mewah asing seperti the, gula, dan kain katun (hlm. 33).

Pada perkembangannya, Kapitalisme sangat membutuhkan sistem pasar bebas di mana pihak bisa bersaing tanpa campur tangan pemerintah dan pasar-pasar buruh. Adalah Adam Smith yang di dalam bukunya The Wealth Nation menyediakan rasa aman bagi para kapitalis baru. Dengan perdagangan bebas di dalam dan luar negeri, tulis Smith, pengejaran keuntungan pribadi yang egois dan tanpa batas akan meningkatkan kesejahteraan bersama. Ia pula merumuskan sebuah tatanan di mana peran pemerintah sangat minim.

Sulit membayangkan bagaimana kepentingan pribadi yang tanpa batas bisa mengarah pada kebaikan bersama. Salah satu efek negatif yang dipaparkan buku ini, adalah bentuk dorongan untuk meraup laba cepat yang ternyata menafikan kelayakan produk yang dipasarkan. Pernah ada perusahaan farmasi terkenal di Inggris yang memasarkan thalidomide, suatu obat yang belum teruji diperuntukkan bagi wanita hamil. Akhirnya, banyak lusinan bayi cacat lahir menyedihkan.

Ekslploitasi dan Kesenjangan ekonomi yang terjadi antara pemilik modal dan pekerja adalah sebuah paradoks kapitalisme. Para kapitalis berdalih, dalam buku ini, bahwa orang miskin dan tidak beruntung bisa memperoleh yang dinginkan di pasar bebas sementara di satu sisi ketidaksetaraan dalam gaji adalah wajib demi efisiensi ekonomi.

Yang menarik dari buku ini adalah tentang bagaimana kapitalisme mampu memperbaharui diri ketika diterjang krisis. Setiap kali sistem kapitalistik mengalami krisis, kapitalisme mampu bangkit dan tetap merajai dinasti perekonomian dunia.

Salah satu adalah masa Depresi Besar, yang berlangsung 1929-1939. Negara penganut Kapitalisme seperti Inggris, Jerman dan Amerika Serikat mengalami krisis berkepanjangan sehingga diprediksi sistem kapitalisme sedang berada di titik nadir. Yang paling parah tentu Amerika Serikat. GNP jatuh drastis dari 104 milyar dolar di tahun 1929 menjadi 56 milyar dolar di tahun 1933. angka pengangguran dari 1.5 milyar menjadi 12,8 milyar, satu di antara empat buruh kehilangan pekerjaan. Sembilan juta rekening tabungan hilang karena bank-bank runtuh. 30 juta dolar aset finansial hilang saat pasar bursa ambruk. Satu dari lima sekolah di Detroit secara resmi tercatat sebagai murid kurang gizi pada tahun 1932.

Sebuah peristiwa besar dan sebuah teori baru menyelamatkan kapitalisme dunia dan memberinya nafas baru kehidupan. Peristiwa itu adalah Perang Dunia II. Di masa sebelum era nuklir, sebuah perang besar memberi jaminan buruhan penuh baik di angkatan senjata atau industri perang lainnya, lagipula, kehancuran yang yang disebabkan pengeboman memberi jaminan ledakan buruhan rekonstruksi begitu perang berakhir. Teori baru yang muncul adalah hasil pemikiran J.M. Keynes tentang makroekonomi yang berfokus kepada pendapatan nasional, investasi bisnis dan volume lapangan kerja bukan kepada pada harga dan pasar individual yang menjadi titik tolak kapitalisme sebelumnya.

Pembahasan buku ini berlanjut pada penolakan sejumlah teorisi terhadap teori Keynesian ini. Setelah sekian lama kemakmuran ekonomi identik dengan pemerintahan bergaya Keynesian, ternyata masih ada borok kelemahan yang selalu menghantui sistem Keynesian ini yakni inflasi dan penganguran yang berjalan simultan. Milton Friedman adalah tokoh ekonom yang mengajukan antitesis teori Keynesian dengan menawarkan sistem monetarisme, sebuah sistem ekonomi baru yang fokus pada penyediaan uang sebagai npenjelasan baik tentang inflasi dan ringkat efektifitas ekonomi yang tidak dituju oleh teori Keynesian.

Bagi Robert Lekachman dalam buku ini, monetarisme tidak lebih adalah model lawas kapitalisme dengan nama baru. Karena ide monetarisme tentang inflasi yang berasal dari ekspansi yang berlebihan dari suplai uang pemerintah, telah lama dipegang para ahli ekonomi konservatif dan sifat monetarisme yang retrogresif berbalik arah ke ekonmi Adam Smith. Begitu pula teori Keynesian, menurut Lekachman, tidak memnutus hubungan dengan akar-akar ini sehingga kebersinambungan ini masih tetap dalam mode manajemen kapitalisme.

Krisis ekonomi yang melanda dunia saat ini seolah menyiratkan bahwa Kapitalisme yang dianut oleh negara-negara maju mulai menuju ambang kehancuran. Negara besar semacam Amerika AS memasuki resesi terburuk sejak Depresi Besar tahun 1930. Angka pengangguran di AS diprediksi sebesar 8-8,5 persen pada akhir tahun 2008. Lima sektor penting seperti finansial, otomotif, pemerintahan/organisasi nirlaba, transportasi, dan ritel mengalami PHK besar-besaran. Belanja konsumen juga terus terpuruk. Namun pertanyaan mendasar yang muncul adalah apakah krisis ini adalah awal kehancuran kapitalisme atau langkah awal lahirnya kapitalisme anyar yang lebih kuat?

Akhirnya, memang kita harus jeli bahwa kapitalisme memang akan selalu mencari pembenaran atas upayanya untuk melakukan konsentrasi produksi. Dalam dunia yang sudah dicengkeram oleh beragam model kapitalisme, kebutuhan akan diskusi-diskusi lebih lanjut mengenai berbagai manifestasi kapitalisme tidak dapat dielakkan. Karena itu buku ini adalah referensi penting untuk mewujudkan rasa perlawanan terhadap kapitalisme yang eksploitatif tapi berasa wajar dan alamiah agar kematian kapitalisme benar-benar bisa dirayakan.

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP