29 Oktober 2008

Memahami Agama dengan Pengalaman



Judul : Pergulatan Iman
Penyunting : Nong Harol Mahmada
Penerbit : Penerbit Nalar Jakarta
Cetakan : Juni, 2008
Tebal : xxiv + 216 halaman

Perbincangan mengenai agama sejauh ini selalu mengandung perdebatan. Argumen empiris tentang hal-hal metafisis, misalnya keberadaan Tuhan, ketika ditransformasikan menjadi argumen rasional dengan rancak menyuburkan pemikiran-pemikiran spekulatif yang berujung klaim kebenaran. Hal inilah yang kemudian menjadi concern kajian tokoh-tokoh filsafat sekaliber Sigmund Freud (1856-1939) dan William James (1842-1910). Mereka beranggapan, selama akal pikiran masih diberikan ruang untuk mendiskusikan hal-hal yang noumena (realitas yang tidak bisa dipersepsi), maka tidak ada kata ujung untuk menyudahi perdebatan semacam itu.

Karena itulah, mereka lebih suka menjelaskan fenomena keagamaan apa adanya, seperti yang mereka lihat. Bilamana Freud lebih memandang agama adalah respon manusia terhadap situasi ketakberdayaan mereka dalam menghadapi dunia yang tak dapat mereka kontrol hingga membentuk figur bapak utama (primal father) yang dianggap pelindung, James melihat gejala kejiwaan keagaamaan secara positif. Pengalaman spiritual setiap pemeluk agama, bagi James adalah keniscayaan absolut pada semua individu dan karena itu ia lebih penting dan bermakna ketimbang klaim-klaim mereka tentang identitas formal agama yang mereka miliki.

Dalam kajian filsafat, sikap semacam ini disebut Fideisme (fideism), berasal dari bahasa Latin, fides yang berarti “iman”. Seorang fideis (sebutan bagi penganut aliran ini) tidak terlalu perduli apakah imannya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, karena baginya, akal sama sekali tak relevan ketika seseorang berbicara tentang iman. Iman bagi mereka berada di atas akal. Sisi-sisi metafisika pada agama mustahil untuk dinalar tetapi dapat diyakini dengan pengalaman spiritual yang dialami.


Sejauh ini, meski pengalaman spiritual dan atau pengalaman personal keagamaan bisa kita jumpai pada siapa saja, perbincangan tersebut masih identik dibicarakan dan didedah oleh tokoh-tokoh agama semisal Kyai, Ulama’, Pastur, Pendeta, Biksu dan lain sebagainya. Sehingga seolah-olah pengalaman spiritual personal yang tidak berasal dari kalangan tersebut dipinggirkan—untuk tidak mengatakan disalahkan—karena hanya pengalaman mereka lah yang pantas dikumandangkan jika membincang keimanan.

Adalah Buku Pergulatan Iman yang mencoba mengangkat tema tersebut dengan pendekatan berbeda. Sebagai Buku hasil rekaman wawancara tentang pergumulan Iman sekumpulan individu, ia memilah audiennya dari latar belakang yang beragam yang nota bene bukan ahli agama atau mungkin sosok yang kadung dikenal masyarakat sebagai ahli di bidang lain. Ada sutradara, artis, novelis, penulis, politisi, aktivis sosial, budayawan, akademisi dan lain sebagainya. Dengan terbuka, mereka mengungkapkan bagaimana mereka meretas dimensi keagamaan di dalam perjalanan hidup mereka.

Berbagai tulisan wawancara dalam buku ini menghadirkan dinamika keagaaman yang pernah mereka alami di dalam hidupnya dan jalan yang mereka tempuh sebagai jalan keluar. Sikap yang mereka tempuh di dalam dinamika tersebut antara lain adalah sebagai langkah penyelamatan iman agar lepas dari tekanan lingkungan konservatif dan mengekang, sebagai upaya penegasan keimanan universal agar terbebas dari ikatan-ikatan formal agama yang sempit, sebagai respon atas modernisme karena agama-agama formal mereka anggap kesulitan mengantisipasi perubahan di era modern ini dan juga sebagai bentuk protes pada pemahaman konvensional beberapa ajaran agama.

Dengan gambaran tersebut, Almarhum Munir, misalnya dalam sub judul “Islam Harus Berpihak pada yang Tertindas”, ternyata pernah bersikap sangat radikal dalam urusan agama. Lahir di lingkungan yang ketat, dia mengakui pernah terpengaruhi doktrin-doktrin Islam sebagai agama paling benar sehingga, dalam satu waktu dalam hidupnya dia selalu membawa senjata tajam sebagai persiapan jika terlibat konflik dengan pemeluk agama lain.

Sikap ini dianutnya kurang lebih lima tahun hingga ia kemudian berkenalan dengan versi Islam yang lebih moderat. Setelah perkenalalnnya tersebut, Munir meninggalkan masa lalunya yang suram. Ia kemudian mengakui bahwa agama yang ditafsirkan secara radikal akan menghancurkan tatanan kehidupan. Sebagaimana diakuinya, “Ekstremitas beragama itu bisa menghancurkan peradaban manusia. Intoleransi, apapun bentuknya akan menghancurkan peradaban. Banyak orang beranggapan bahwa mereka sedang membangun. Akan tetapi yang mereka bangun justru simbol-simbol yang menghancurkan peradaban.” (hlm. 107)

Kecenderungan para tokoh itu “memberontak”, sebenarnya bukan karena mereka tidak mengakui peran agama (baik Islam, Katolik, Protestan, maupun Buddha) dalam kehidupan mereka. Malah sebaliknya, mereka semua mengakui besarnya peran agama dan kuatnya pengalaman keberagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Agama yang seharusnya bersifat universal, dirasa gagal dalam mewadahi dan mengakomodir pemikiran mereka yang terus berkembang. Doktrin-doktrin keagamaan yang ada seakan stagnan dan tidak berubah, sementara para tokoh itu terus mendapatkan pengetahuan baru di luar. Sehingga fungsi agama sebagai sistem moral gagal memberikan dampak positif bagi tatanan sosial. Sikap semacam ini bisa kita baca dengan jelas pada wawancara dengan tokoh-tokoh seperti Lies Marcos-Natsir, Wardah Hafidz (Islam), Ayu Utami (Katolik) dan Dee Lestari (Protestan kemudian Buddha) yang direpresentasikan sebagai aktivis perempuan.

Dari rangkuman seluruh pengakuan pengalaman mereka yang disajikan, buku ini mengungkapkan adanya kecenderungan fideisme pada sebagian para tokoh dan aktifis di Indonesia. Mereka menganggap pengalaman spiritual personal jauh lebih penting ketimbang identitas formal agama dan doktrin-doktrin kaku keagamaan. Dari pengalaman tersebut, menunjukkan betapa agama formal tidak mampu menampung aspirasi keberagamaan para pemeluknya. Agama formal dalam bentuknya yang mekanistis (dalam pengertian adanya aturan-aturan yang baku, kewajiban-kewajiban, dan sanksi-sanksi) terlalu sistematis dan kaku sehingga sulit baginya mengakomodir hal-hal di luar dunia pembuktian. Padahal iman bukanlah soal pembuktian, karena tidak bisa diuraikan secara rasional, iman adalah pengalaman individu yang hanya bisa dirasakan namun tak bisa diuraikan.

Sebenarnya, pemilihan tokoh-tokoh yang menjadi sumber wawancara dalam buku ini bisa disimpulkan ke mana arah pemikiran yang hendak disampaikan oleh buku ini. Semua wawancara di buku ini merupakan transkrip talk show salah satu program kegiatan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dilakukan sepanjang tahun 2002 sampai 2005. Wawancara ini juga dimuat di beberapa media massa dan disiarkan di beberapa stasiun radio yang juga merupakan program sindikasi media JIL. Karena itu, nuansa moderat dan liberal sangat kental menghiasi setiap pembicaraan setiap tokoh.

Meskipun demikian, hadirnya buku ini jelas membuat pemahaman kita akan keimanan semakin terbuka. Tentang begitu pentingnya pengalaman spiritual sebagai penguat keimanan kita. Ragam pendapat dalam persoalan agama adalah lumrah, namun bagaimana perbedaan tanpa masalah bisa diolah. Walaupun pengalaman tersebut cenderung subjektif karena tidak lepas dari pelbagai unsur dalam diri individu setidaknya kita dapat mengambil pelajaran dari buku ini, yakni—sebagaimana disampaikan Gunawan Muhammad dalam epilog buku ini—tentang bagaimana menerjemahkan Iman bukan sekedar suatu akhir proses intelektual, melainkan peleburan diri ke dalam suatu proses yang sepenuhnya berlangsung dalam hidup, dengan segala gejolaknya.

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP