19 September 2008

Koleksi Buku atau Baca Buku; Hasil Memandangi Rak Buku


[Anjuran; Jangan Dibaca bila tidak Ingin Kecewa]

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam [Al-‘Alaq: 1-4].


Petikan ayat di atas memiliki makna dan tujuan tertentu. Sebagai serangkaian ayat yang diturunkan pertama kali pada Muhammad tentu beragam alasan/hikmah dapat kita tafsirkan. Makna yang mampu saya tafsirkan adalah tentang kebutuhan kita untuk membaca. Membaca, bagi saya, menduduki posisi tertinggi kesekian di samping kebutuhan pokok seperti makan, minum, ‘merokok’ dan lain sebagainya. Tujuan membaca adalah sebagai proses pembekalan kita dalam menuju cita-cita luhur manusia sebagai ‘khalifah fil ‘ardh. Jika makan dan minum adalah nutrisi tubuh agar bisa lebih kuat, maka membaca adalah nutrisi otak agar memiliki lebih banyak ilmu pengetahuan di saat nanti membenamkan diri dalam pengalaman. 

Dalam dimensi sosial, membaca adalah sebuah proses penting sebelum menuangkan gagasan dalam tulisan. Karena dengan tulisan, kita bisa mengenalkan gagasan kepada banyak kalangan. Tanpa menafikan fungsi lisan, tulisan sama pentingnya seperti penyampaian ilmu pengetahuan melalui lisan. Bahkan di saat-saat tertentu, saat jasad tidak lagi bergerak, tulisan masih leluasa melanglang di dalam pikiran orang-orang. Pelembagaan ilmu pengetahuan lebih abadi ketimbang lisan yang mengandalkan keaktifan fungsi akal dan hafalan. Tentu saja bila, Khalifah Abu Bakar sampai kelabakan sewaktu banyak penghafal Al-Qur’an meninggal di waktu perang sehingga beliau berijtihad untuk mengumpulkan al-Qu’an dalam tulisan hingga bisa disempurnakan oleh Khalifah Utsman bin Affan meski kental gejolak.

Dua paragraph di atas sebenarnya hanya pengantar. Saya latah untuk mengutip beberapa ayat al-Qur’an karena sekarang masih dalam semarak Nuzulul Qur’an meski sebenarnya ada hal yang ingin saya utarakan berkenaan Buku dan Bulan Suci Ramadlan. 


Menurut Quraish Shihab (2003) dalam bukunya Lentera Hati, Puasa dimaknai puasa sebagai sebuah ritus keagamaan yang mencoba meniru sifat Tuhan (Allah) yakni tidak makan, minum, tidak beranak dan diperanakkan. Kata Shaum diartikan sebagai ‘menahan’ dari segala hawa nafsu kemanusiaan. Tetapi ada semacam rasa penasaran yang menghinggapi saya. Bagi seorang kutu buku yang menganggap membaca adalah basic needs layaknya makan dan minum atau berhubungan seksual (yang jelas bukan saya), bagaimana ia menjalankan ibadah puasa? Apakah dia harus juga menahan hawa nafsunya untuk membaca? Dan hanya bisa membaca di saat sudah buka puasa? J

Ah…sebenarnya saya bingung mau menulis apa. Sebenarnya tidak ada hal yang penting untuk saya utarakan. Saya hanya tertegun memandangi koleksi buku saya. Koleksi tersebut sudah mulai berkurang meski setiap bulan saya selalu menyisihkan uang saku untuk menambah koleksi buku. Banyak kawan-kawan yang seringkali pinjam tanpa izin hingga rak koleksi buku saya berangsur-angsur menjadi longgar. Sudah menjadi komitmen saya pribadi, mengoleksi buku adalah sebuah kebutuhan. Minimal dalam satu bulan, ada satu buku yang akan menambahi rak buku saya. Hal tersebut adalah perkara wajib. Tetapi, ada kebiasaan buruk yang sering saya lakukan, yang jangan sampai dilakukan oleh kolektor buku yang seyogyanya juga harus berstatus kutu buku. Saya sangat jarang membaca tuntas buku yang baru saya beli sehingga sempat saya dicemooh seorang teman, “Ngapain juga beli buku banyak-banyak tapi tidak dibaca.” Tetapi saya tidak terlalu menanggapi hal tersebut karena bagi saya ini adalah komitmen diri saya karena saya yakin koleksi ini akan berguna dan kelak akan saya baca.

Saya mampu membaca tuntas sebuah buku jika isi buku tersebut menarik bagi saya walaupun hingga kini saya masih belum bisa menyimpulkan makna ‘menarik’ tersebut. Mood saya bisa
dibilang gampang berubah dan wacana-wacana yang terdapat dalam buku datang silih bergantian hingga saya sering berganti-ganti buku tanpa menunggu membaca tuntas. Seringkali saya dihadapkan kenyataan bahwa saya akan rajin baca buku jika ada tuntutan seperti tugas perkuliahan, diskusi rutinan dan selebihnya saya memuseumkannya.

Tetapi tidak apalah, karena saya yakin sepenuhnya kelak keinginan untuk tuntas membaca koleksi saya akan kesampaian. Biarlah komitmen mengoleksi buku terus berjalan karena hal tersebut yang bisa saya andalkan saat ini. Bila sampai waktuku, akan kubaca semua tanpa melewatkan pun satu buku.

Sumbersari, 17 September 2008

Read more/Selengkapnya...

Puisi; Kembang Kempis

Kembang Kempis

Kembang kempis menepis kelakar
Dari sorot matanya sepertinya dia akan melayu
Beriringan dengan kematian pucuk-pucuk 
Tergores panas memuai aroma ganja

Di balik mekar mahkota
Tersimpan racun-racun jingga
Tak tercium, tapi bereaksi jika dihirup
Kekosongan itu yang menyerap duri-duri
Dia mematikan walau kelihatan hidup

Siapa yang bakal tahu
Jika romansa keindahan itu tak dapat dipuja
Hanya bisa dirasa dan diraba

27 Agustus 2008





Type rest of the post here

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP