03 Mei 2008

Zinah




Gila, kau mau dirajam?!!!

Aku mengangguk pasti. Keputusanku sudah bulat. Alasanku bertanya pada Sahir, temanku dari Lamongan, hanya sebagai pemerkuat saja. Segala cerita keluh kesah yang aku sampaikan, hanya agar dia mengerti bahwa ia hanya sebagai pendengar setia. Aku tidak butuh dia menyarankan hal lain yang berseberangan denganku.

“Aku tidak tahan dengan ini, hir. Batinku melemah. Aku telah melanggar syariat. Sial!” gerutuku tak pasti. Menyesakkan, mengetahui bahwa aku melakukan zinah. Seumur-umur aku hidup, hanya dua perbuatan yang paling aku hindari dan tak ingin aku lakukan, mabuk dan zinah. Pengetahuan agamaku memang tidak begitu mendetail seperti kyai-kyai dan penceramah di televisi. Tetapi, bagi aku yang sejak kecil hingga lulus SMA hidup di lingkungan pedesaan, yang rimbun dengan kultur keagamaan, membuatku cukup mengerti mana hal yang halal dan haram, mana yang dosa kecil dan dosa besar.

“Tapi dari mana kamu tau kalau kamu benar-benar berzinah.” Lagi-lagi Sahir masih menyangsikan ceritaku. Ini kali ketiga Sahir menanyakan hal yang sama. Menurutku, sebenarnya ia ingin melarangku melaksanakan hukum rajam, tapi dia mengerti tabiatku. Jika seorang Hasanuddin sudah berucap dan menginginkan sesuatu, tak ada seorang pun sanggup menghalangi. Ucapan akan dibalas ucapan, bahkan meninggi. Tindakan pun dibalas tindakan.

“Ah, kau tidak tau rasanya menjadi aku. Sumpah, erangannya masih jelas kudengar. Basah kulitnya masih licin kurasa. Perempuan itu seolah pasrah kunikmati malam itu. Aku sendiri heran, aku tidak kuasa menolak untuk menindihnya. Orang macam apa aku ini hir.” Kurebahkan tubuhku di sofa. Mataku memejam. Ingin kutenggelamkan tubuhku dalam kelembutan sofa ini. Menghilangkan segalanya agar dosaku semakin tenggelam bersama keberadaan yang mengabur. Oh, sedimikian laknatkah aku di pandanganmu, Tuhan.

“Ingat-ingat lagi San, siapa tahu itu bayanganmu saja. Kau khan sendiri cerita, pagi kau terbangun, tak ada seorang pun di ranjangmu, yo opo sih.”

“Kau masih tidak percaya?”

“Ini bukan masalah percaya atau tidak. Di sini kota bung, meski kamu memang melakukannya, takkan ada yang mau merajammu. Paling banter, kamu akan disuruh tobat. Disuruh semakin mendekat pada Tuhan.”

“Tapi,” sangkalku.

“Kamu mbok ya ada-ada aja San, maen rajam saja, bisa melepuh kulitmu. Atau kau bisa mati. Apa kata orang jika kamu mati dirajam. Bukannya dihormarti, tapi malah diejek, dicaci. Urusan sekecil itu kok pingin mati, begitu anggapan orang-orang nantinya sama kamu.”

“Diam hir, kalau tidak mau membantu, gak usah berceramah di depanku. Berengsek kau!” Makiku kesal. Bukannya membantu, dia malah menganggap masalah ini kecil. Dia anggap apa Tuhan. Kalau hukuman zinah rajam, ya rajam. Tidak perlu diperkeruh dengan tawaran lain. Kubanting pintu rumahnya, sempat kudengar dia memaki-maki kotor ketika kumelangkah keluar. Ketakutanku pada azab zinah di akhirat membuatku enggan melayani umpatannya.

Sejuk sore ini kurasakan gerah. Polusi kendaraan dan bau-bau menyengat di kota ini semakin memperkeruh pikiran. Aku ingin pulang ke kamar. Mencoba cara lain agar bisa dihukum rajam. Bagaimanapun, aku harus menebus dosaku ini. Jika tidak, kelak aku tidak bisa menikmati indah sorga, mencicipi manis madunya, yang dijanjikan nabi, bercanda dengan bidadari cantik nan rupawan dan kenikmatan lainnya, seperti yang diajarkan guru-guru agama di pengajian kampung. “Yah, besok aku akan pergi ke tokoh agama di sini, mau tidak mau, besok aku sudah harus dirajam. Purna sudah gelisahku jika begitu. Daging ini menjadi lembek seperti daging babi, kujilat-jilat seperti anjing. Tulang-tulang ini, yang syahdan menciptakan Hawa, kupandang najis dan jijik. Berkali-kali aku menelan ludah. Sanggupkah aku melewatkan dua puluh empat jam ke depan. Bagaimana jika Izrail datang. Sanggupkah aku menolak kehendaknya sementara aku masih kotor?

Kring…Kring…Kring…

Telepon rumah berdering, mengagetkanku dalam tidur. “Ah, tengah malam seperti ini, gak ada kerjaan apa,”gerutuku. Segera kuangkat telepon itu dan kuserapahi dia karena menggangguku malam-malam.

“Mas, aku hamil”

“Hamil…ini siapa?”

“Ah, jangan sok lupa begitu. Waktu di hotel dulu, masak kamu gak ingat. Aku khan sudah bilang, pakai kondom. Tapi kamu sendiri bilang, jika ada apa-apa kamu bakal tanggung jawab.”

“Jangan ngaco kau!”

Kubanting telepon itu. Sialan, perempuan itu, tau dari mana nomorku. Seingatku, tak pernah kuberikan nomor rumahku pada siapapun, hanya pada teman kerja. Jangan sampai dia terus menghubungiku, apalagi menemuiku. Sial…urusan ini bukan privat lagi. Meski, aku dirajam percuma, dosaku masih melekat jika perempuan itu masih hidup dengan orok darahku. Segumpal awan hitam mengarak di kepalaku. Membenamkanku dalam gelisah. Tak bertuan, kemanusiaanku kini tiada arti. Di hadapan Tuhan, aku tidak berguna. Di muka manusia, wajahku mulai menyerupai anjing hitam kudisan. Dulu, aku begitu disayang, sebentar lagi akan dipandang najis dan jijik. Kepala-kepala orang yang tidak kukenal menyeruak awan gelap itu. Semuanya menertawakan kebodohanku. Semua wajahnya asing. Sebagian dengan anatomi wajah tak lengkap. Dengan ejek, seorang tanpa hidung dan telinga berseru, “San, kau itu goblok ya. Kenapa tidak kamu bilang iya, aku bertanggung jawab. Toh, dengan begitu pelacur itu akan bungkam. Perkara dia mencarimu, la wong dia tidak ngerti alamatmu. Goblok kamu. Hahaha,” beiringan wajah-wajah itu menertawai kebodohanku. Urusan dosa seperti ini, yang hanya dua belah pihak saja yang tahu, mengapa harus dihukum dan dipertontonkan di depan umum. Lebih baik meminta ampun saja. Tuhan khan maha pemaaf. Mereka menyerangku lewat makian dan cemoohan. Aku tak bisa mengelak. Aku kerdil. Waktu itu aku buntung, yang tersisa hanya kupingku, yang semakin memerah mendengar suara mereka. Ah….

Tubuhku bersimbah peluh, aku meringis dan beringsut dari tempat tidur. Untung hanya mimpi, meski sebenarnya bunga tidur ini begitu menyiksa laksana alam nyata. Bagaimana jika itu memang benar kenyataan: realitas yang kualami bersama kasur, bertelungkup bantal. Sial, mimpi itu ternyata masih mengejarku.

Sudah hampir subuh, pikirku setelah melihat jam dinding. Sela beberapa menit di kekalutanku di ranjang, suara adzan di musholla sebelah bergema nyaring. Heran, ajakannya aku rasakan ejekan. Lantunan pengakuan itu kudengar seperti menegaskan bahwa apa yang aku perbuat patut mendapatkan hukuman.

”Dan janganlah kamu mendekati zina”
“Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.
“Dan suatu jalan yang buruk” 1

Arrghhhh….aku berteriak mendekati kematian. Aku ketakutan setengah mati. Dinding-dinding mulai bersuara. Awalnya sudut-sudutnya saling berbisik. Selanjutnya mereka semua tertawa, menyaksikan aku yang mulai kehilang kesadaran. Nyaring sekali mereka menertawakanku. Aku harus melakukannya sekarang, tegasku. Tidak ada waktu lagi sebelum aku gila. Waras saja aku kewalahan menunaikan tuntutan ini, apalagi gila. Aku harus…harus…melaksanakannya. Sekarang…

Perumahan di sudut kota Malang, hari itu geger. Seorang pengusaha tewas mengenaskan di depan rumhanya. Tubuhnya tergeletak bersimbah darah di jalan kecil perumahan. Punggungnya penuh dengan deraan yang mirip dengan sayatan-sayatan pedang. Tangan kanannya menggenggam buku agama. Di depannya, batu-batu yang dia kumpulkan masih utuh, tidak berserakan. Sepertinya Hasanuddin baru sadar, dia belum menikah. Masih perawan sehingga dia tidak perlu melakukan rajam, cukup dengan lima puluh cambukan. Atau barangkali dia sudah tahu, sehingga dia ingin melakukan semuanya, dirajam, dicambuk dan dilihat banyak orang. Tidak ada yang tahu peristiwa itu dengan sebenarnya. Masyarakat hanya menduga, Hasanuddin kembali gila. Memang, jauh sebelum dia jadi pengusaha sukses, dia pernah gila. Sering mengamuk-ngamuk di lingkungannya. Kadang, dia melempari masyarakat yang sedang berjudi di perumahan itu. Memukuli orang-orang yang mabuk-mabukan di pinggir warung. Namun setelah dia dirawat di RSJ kota sebelah, dia berangsur-angsur pulih. Sekembalinya, dia mulai ramah kepada penduduk, selalu mengajak mereka melakukan hal-hal baik. Usahanya pun mulai berkembang dan menjadi salah satu pengusaha sukses dan terkenal. Bersama Sahir, seorang koleganya dan juga sahabat, keduanya berhasil meningkatkan perkembangan usahanya.

Tidak ada rintik hujan yang menemani kepergian Hasanuddin pagi itu. Di musin penghujan ini, di ceruk-ceruk jalan berlobang diperumahan tidak nampak kubangan-kubangan air hujan. Hanya di depan rumah Hasanuddin yang jalannya tergenang, dipenuhi darah yang merembes segar dari punggungnya. Darahnya bercecer dari dalam rumah. Warga banyak yang tahu kematiannya ketika diteriaki petugas musholla. Di balik adzan yang bertalu subuh tadi, hanya dialah yang menghuni musholla di pinggir rumah Hasanuddin. Mendengar teriakan dan raungan Hasanuddin, dia bergegas mencarinya. Dengan sekumpulan kerikil-kerikil tajam dibungkus plastik hitam dia berseru ke petugas musholla itu, “Rajam aku, rajam aku, bangunkan warga, bangunkan warga”. Setelah itu dia menggelepar laiknya ayam sembelihan. Petugas musholla itu hanya tercekat diam. Serentak kemudian dia berlari dan membangunkan semua warga. Kerumunan warga seketika mengitari Hasanuddin. Namun dia sudah tak bernyawa dan membujur kaku dengan buku agama yang masih dia genggam erat.

Tidak ada kata zinah di media hari itu. Semuanya tertulis dengan jelas dengan menyatakan berita pengusaha yang bunuh diri karena gila. Kejadian yang sebenarnya, upaya penghukuman diri karena zinah tidak terbeber di paragraf demi paragraf. Rahasia itu terkunci rapat di permukaan jalan, lokasi kematian Hasanuddin. Warga pun demikian, cibiran dan kesinisan menyertai kepergian Hasanuddin ke alam lain. Seorang gila pantas mati agar tidak menularkan kegilaan pada orang lain.

Sahir hanya termangu melihat tubuh sahabatnya yang ditutupi kain kafan. Dia turut menyertai penguburan Hasannudin yang hanya ditemani segelintir orang dan petugas musholla itu yang menjadi pembaca talqin. Pikirannya menerawang, mengembara ke masa lalu. Malam itu, di hotel dia menyaksikan sendiri ketika Hasanuddin menolak menerima pelacur yang disediakan panitia kongres pengusaha kala itu. Dia menolak mentah-mentah dan mengunci pintu kamarnya. Sementara Sahir menerima suka rela suguhan pelacur yang disediakan. Ditambah pelacur untuk Hasanuddin yang dia gunakan juga. Di sela-sela kenikmatan tidak terkira, dia sempat dengarkan teriakan Hasanuddin yang bertempat di samping kamarnya. Teriakan yang jelas bercampur igauan.

Langit masih cerah dan awan-awan bearak beriringan. Harapan Sahir agar hujan membasahi pekarangan terakhir kandas seiring petugas musholla itu menyelesaikan talqin dan balutan tubuh Hasanuddin mulai tertutup tanah sejengkal demi jengkal. Sementara langit tidak pernah bergelayut mendung hingga petang. Kota malang memungkasi hari itu dengan taburan aroma kematian yang berbau sangit dan penuh kejanggalan.

Malang, 18 April 2008

Catatan
Al-Qur’an Surat Al-Israa Ayat 32

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP