12 April 2008

Warisan dari Guru Kehidupan




Judul: Penjelasan Sejarah (Historical Explanation)
Penulis: Kuntowijoyo
Penerbit: Tiara Wacana Jogjakarta
Cetakan: I, Februari 2008
Tebal: 179 Halaman

Sejarah sering diwarnai oleh persoalan bagaimana laiknya sejarah itu dibaca dan dipahami, termasuk pula pada persoalan data, perbedaan cara penafsiran, dan variasi metode dalam pengajaran sejarah. Tak heran bila di kalangan sejarawan Yunani Kuno, ada pepatah yang mengatakan "sejarah adalah guru kehidupan".

Tokoh eksistensialis sekaliber Nietzsche pernah pula membincangkan signifikansi sejarah bagi kehidupan manusia. Kendati dengan mengkonsumsi sejarah terlalu banyak, tulis Nietzsche, bisa menyebabkan gejala historische krankheit (sakit sejarah). Nietzsche berusaha menyinambungkan sisi historis dan non-historis dalam kehidupan manusia. Ada dua kesadaran sejarah yang harus dilakukan untuk hidup yang lebih baik, kesadaran atas peristiwa masa silam dan kesadaran yang dibangun dengan melupakannya (Sunardi, 2003).

Maka atas dasar pemikiran itulah, dalam dunia disiplin sejarah, kita berutang budi kepada almarhum Kuntowijoyo (1943-2005). Dua buku mengenai sejarah karya beliau sebelumnya, Pengantar Ilmu Sejarah (1995) dan Metodologi Sejarah (1994), menempatkan beliau sebagai tokoh pengembang dalam pendekatan memahami sejarah.

Kini kembali hadir buku karya Kuntowijoyo. Buku ini terbit selang tiga tahun beliau meninggal. Bersama dua buku pendahulunya, buku Penjelasan Sejarah ini merupakan paripurna dan kesatuan karya, suatu trilogi penjelasan almarhum tentang ilmu sejarah. Buku ini pada dasarnya, merupakan pembahasan lebih lanjut dari buku Metodologi Sejarah. Jika pada buku Metodologi Sejarah Kuntowijoyo lebih menekankan pada segi pembicaraan yang berhubungan dengan kerangka berpikir konseptual, pendekatan, sumber-sumber sejarah, jenis kajian sejarah, maka di buku ini, pembahasan Kuntowijoyo lebih berpusat pada aspek teori sejarah, yaitu historical explanation theory (teori penjelasan sejarah).

Kuntowijoyo melakukan review kritis atas karya sejarawan dunia. Terhitung ada kurang lebih 60 sumber bacaan, dari penulis dalam negeri dan luar negeri, yang dikaji guna menjelaskan delapan tema sub bab bahasan paska menguraikan hakikat sejarah di bab pertama.

Ada sembilan bab yang disusun oleh Kuntowijoyo di buku Pendekatan Sejarah, yaitu (1) Penjelasan Sejarah, (2) Periodisasi, (3) Kausalitas, (4) Analisis Struktural, (5) Paralelisme, (6) Generalisasi Sejarah, (7) Sejarah dan Teori Sosial, (8) Kuantifikasi, dan (9) Sejarah Naratif. Jika didasarkan pada jumlah sumber bacaan pada tiap bab, Kuntowijoyo setidaknya menggunakan paling banyak 11 sumber bacaan untuk satu tema (bab kausalitas) dan paling sedikit adalah bab kuantifikasi dan bab sejarah naratif dengan 5 sumber bacaan per bab (hal. vii).

Bukti kecermatan Kuntowijoyo atas kekayaan data di buku ini, bisa dilihat dari tokoh-tokoh yang menjadi bahan review beliau untuk menjelaskan sejarah. Nama-nama sekaliber Clifford Geertz, Takashi Shiraishi, Benedict R OG Anderson, Sartono Kartodirdjo, Parakriti T Simbolon, dan Djoko Suryo menjadi sumber review untuk menjelaskan sejarah secara teoretis dan aplikatif.

Sebagai review pada bermacam karya, Kuntowijoyo memaparkan dengan ajeg dimensi teoretis dan metodologis. Penyair, Sejarawan, dan Cerpenis ini menguraikan pokok-pokok sejarah dengan ciamik dan sederhana. Secara implisit, Kuntowijoyo sanggup meracik mesra hakikat penjelasan sejarah yang diperbincang-debatkan selama tiga dekade pada abad XX oleh kaum positivis dan kaum idealis.

Inilah sebuah penuntasan karya seorang Kuntowijoyo tentang sejarah. Peninggalan sejarah yang sangat bermakna untuk masa depan. [Musthafa Amin, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang]

Sempat di Muat di Koran Suara Pembaruan edisi Minggu, 06 April 2008
URL: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/04/06/Buku/buku02.htm

Thanks untuk Mas Ali Usman

Read more/Selengkapnya...

05 April 2008

Kisah Hamil Perempuan

Sore itu, tanpa mengeluh, perempuan bermata lembut itu memandang kandungannya dengan penuh kasih sayang. Dibelainya perut buncitnya dengan lembut. Matanya nanar melihat hamparan pasir yang menjulang luas di hadapannya. Debu bergulung-gulung, menjejaki pasir bagai timbunan-timbunan berombak. Kematian suaminya sewaktu berdagang ke Syiria, masih membuatnya trauma. Wajah suaminya yang rupawan masih membekas di pikirannya. Tiupan angin disertai lantunan pasir beterbangan masih segar memperlihatkan wajah sang suami ketika berpamitan. Kepergian itu menjadi tragedi. Dia sakit dan meninggal. Pupus sudah harapan mengasuh anaknya bersama. Mengajari buah hatinya beribadah kepada Latta dan Uzza dan menjadi abdi Ka'bah yang setia. Dengan sesunggukan, dia merasakan gerakan-gerakan dari cabang bayinya. “Ah, kau takkan merasakan kehangatan seorang ayah, anakku,” pikirnya miris. 

Perempuan bermata lentik masih terus memikirkan nasib anaknya, beban pikirannya semakin menumpuk. Bagaikan badai pasir, persoalan-persoalan itu muncul laiknya titik pasir yang bergerombol menyerang. Kabilah yang tiada kekuatan, tentu menjemput ajal dengan nafas pasir merendam. Kehilangan suami bukanlah satu-satunya masalah. Ia masih khawatir janin yang dia kandung berkelamin perempuan. Dia sendiri heran, kenapa dirinya masih selamat kala bayi dulu. Dia hanya beranggapan, sebagai keturunan langsung bani Zuhra yang menyelamatkan waktu itu atau barangkali kedua orang tuanya masih hidup saat melahirkannya. Entah. Hingga kini, kakak-kakak iparnya masih begitu taat dengan simbolisme tradisi itu. Wanita adalah aib, tidak berguna dan lemah. Melahirkan perempuan adalah melahirkan sampah. Ketimbang mengotori rumah, lebih baik dipenggal dan dikuburkan dalam-dalam di tanah. Kini, dia hanya mengharap anaknya adalah laki-laki, semoga bukan perempuan. Siapakah yang melindungiku jika ia berkelamin sama dengannya, sementara suaminya tiada.



Malam itu entah semakin menghitam. Sedikit bintang bertebaran menjadi tenggelam dilahap kekuasaan gelap malam. Jibril baru saja pergi. Dengan sayap agungnya, sekali kepak, dia menghilang. Tak nampak di permukaan, seperti bersembunyi di balik bintang yang sesekali mengerdip. Perempuan itu masih tertegun. Dia masih belum percaya kejadian sepersekian menit itu. Percakapan dengan Jibril masih lekat di benaknya, “Sesungguhnya Allah telah memilihmu dan mensucikanmu dan memilih kamu melebihi perempuan-perempuan di dunia.(1)”



“Benarkah ini seperti yang Dia ucapkan. Amanah apa yang akan ditimpakan padaku, seorang putera?” Tanyanya dalam hati, tidak sabar.



“Tidakkah kau ingat kisah ayah angkatmu sendiri?” ucap Jibril. Wajahnya tanpa ekspresi. Tenang.



Diam. Seketika kamar itu terbungkam. Suara-suara malam sejenak berhenti berhilir mudik di luar rumah. Ayah angkatnya, di saat umurnya mencapai satu abad, setelah menunggu lama, akhirnya memperoleh keturunan. Sungguh mengherankan dan tidak masuk akal. Di umur tua, saat sistem reproduksi mulai melemah, ibu angkatnya hamil dan memberikannya saudara angkat. Sekarang, dia akan dipinta melakukan hal yang sama. Namun, sungguh kali ini berbeda. Janin siapa yang akan kukandung? Memang, sungguh aku damba memiliki buah hati yang akan kujaga setiap hari. Melihatnya tumbuh besar. Bermain dengan kawanan kecilnya. Memandangnya menangis ketika tidak bisa memanjat pohon kurma dengan baik. Ah, tangisannya merupakan kebahagiaan tersendiri. Tetapi mungkinkah?”

Semakin lama, kandungannya semakin membesar. Tinggal menunggu hari hingga ketubannya pecah. Perempuan itu semakin gelisah. Khawatir, terjadi apa-apa dengan kandungannya. Bayangan-bayangan masa lampau dan keluarganya menekannya. Kadang-kadang, amanah ini begitu berat ia emban. Jikalau untuk dirinya sendiri, barangkali dia masih mampu bersabar. Namun faktor keluarga dan masyarakat sungguh memusingkan dia. Harapan dan kekhawatiran dibunuh masih memberatkan.

Di sela kebingungannya, dia pun mengambil keputusan. Malam itu, kala manusia lelap dalam hening kegelapan, dia menyingkir ke tempat yang jauh. Ia hanya ingin anaknya lahir dengan selamat.

Beberapa hari kemudian, di sisi batang pohon kurma, perempuan itu menjerit hebat. Suaranya ditelan kekosongan dan bersemai dengan gema. Rasa sakit menjulur hebat dari sekujur tubuh. Dia menggetar hebat, menggelinjang dengan peluh berurai. Sumbernya berasal dari perutnya, tetapi sakitnya terasa ke seluruh tubuh. Kaku. “Aduhai, sekiranya aku mati sebelum ini, jadilah aku barang yang dilupakan sama sekali (2),” pekiknya pelan. Keheningan malam itu kembali pecah. Namun bukan jeritan, namun tangisan bayi. Sang bayi bergerak-gerak di samping ibunya. Sang ibu tak kuasa berkata. Rasa syukur dia panjatkan lewat senyuman.

“Laki-laki tampan.”

Benar, maha kasih tuhan, puteramu mirip dengan ayahmu. Nanti dia bakal menjadi pemuda tegap dan berparas tampan.”

“Aku sepakat denganmu paman.”

Di pinggir sandarannya, perempuan berbulu mata lentik itu menatap sang putera dengan penuh cinta. Habis sudah segala kekuatirannya. “Dia pria suamiku. Dia mirip denganmu. Hidung mancung, rambut hitam dan mata yang tajam menawan. Tentu khan banyak wanita tergoda. Coba kau masih di sini, menemaniku menimang dia.”Gegap gempita keluarga itu merayakan kelahiran seorang putera. Sang kakak ipar sendiri merayakannya dengan memotong beberapa ekor kambing. Penuh syukur dia mencium dahi sang anak dari saudaranya. Entah, apa yang akan dia lakukan dan semestinya dia rayakan jika saja keponakannya adalah perempuan.

“Kuberi nama engkau Isa, wahai calon pmimpin bangsa Israel.”

Nama yang diberikan cukup mencengangkan khalayak. Karena nama tersebut belum lazim digunakan oleh bangsa arab apalagi di bani mereka. Sang kakek hanya tersenyum penuh harap ketika melihat cucunya. Pikirannya seperti menduga, dia mempunyai keturunan yang luar biasa dan akan dikenang sepanjang masa.

Keramaian pesta itu berpuluh-puluh tahun kemudian akan menjelma menjadi pertikaian. Keakraban itu beralih menjadi permusuhan saat keyakinan mulai berbeda. Sementara diamnya bayi malam itu karena jejak kaki ibunya yang memancarkan air kehidupan, sanggup menghempaskan dahaganya. Kelak, dia akan difitnah, dipancung, disalib dengan luka penuh simbol di balik wajah pengikutnya.

(1)Al-Qur’an Surat 03 Ayat 41.

(2) Sepenggal ayat 22-23 Qur'an Surat 19

 

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP