08 Maret 2008

JEJAK KELAS



Dulu, Karl Marx berbicara tentang dualisme kaum Proletar dan Borjuis. Pertentangan yang hingga kini masih hangat diperbincangkan. Dua kubu kelas yang saling bertentangan tersebut saling bertarung merebut dominasi. Lumrahnya, Proletar selalu dikenal dengan sang Tertindas dan Borjuis adalah sang penindas, dengan bekal modalnya.

Marxisme mengalir. Membuncah di permukaan. Berlanjut kemudian, paham-paham baru bermunculan sebagai pelanjut, pemelihara, pengembang dan penolak tesis tokoh bercambang lebat tersebut.

Jauh sebelum itu, dalam Buddhisme telah lama berkutat dengan jeda kelas bernama kasta. Empat kasta itu adalah representasi sosial masyarakat. Ujung-ujungnya sama, dominasi sang kelas atas.

Aforisme “Liar”, yang kuat yang menang, bagi kebanyakan orang selalu identik dengan perilaku binatang. Siapa yang mendominasi, menguasai hutan. Laiknya dunia binatang, manusia pun begitu. Penguasa selalu menindas meski dengan dalih berbeda, kebijakan, regulasi, perintah, hingga eksekusi. Walaupun aforisme itu merujuk pada binatang, toh pada kenyataannya, lebih sesuai dengan perangai manusia.

Singa adalah Raja Hutan. Dialah sang penguasa dunia liar itu. Tetapi ada yang mencurigakan. Mengapa bukan manusia yang disebut Raja Diraja Hutan, padahal jika manusia berada di sana, tentu dia lah yang paling berkuasa. Meskipun, tidak ada jaminan, kawasan yang ditinggali manusia adalah belantara hutan yang lebih luas, berbelukar, penuh duri dan jebakan alam. Ah, manusia memang pintar mencari alasan dan menggelarkannya di leher orang lain.

Cukup tentang itu.

Soekarno, bereksperimen dengan Demokrasi Terpimpinnya. Beliau dengan keras menolak, teori pemerintahannya ini memindai asli eksperimen Lenin dan Stalin. Masyarakat Indonesia majemuk, dan tidak hanya bisa dikategorikan dengan dua kelas saja. Sehingga dia tetap bersikukuh model demokrasi yang dia rancang murni dan bersih dari nilai komunisme barat. Itu Soekarno, yang meracik bumbu komunismenya sendiri. Dia pun tidak melupakan ada kelas lain dalam Indonesia yang juga perlu dijadikan ancang-ancang peletakan konsep. Kaum agamis, itulah salah satu pondasi Soekarno.

(Intermezo)

Sayang. Kita begitu menyanjung kebebasan. Kita mengangungkan demokrasi. Tapi kita larut dalam serangan halus Kelas. Perbudakan, dominasi fisik, dominasi Jender, bisa disebut usang jika berkaca pada tumpukan referensi yang membukukan itu. Penolakan liberalisme, kapitalisme dan materialisme juga begitu, masih muncul dengan sinismenya yang telah berumur ribuan tahun.

Dari kesemua hal tidak berguna yang aku kemukan, aku pikir aku terlalu jauh memikirkan hal itu. Aku hidup di kawasan feodal. Kawasan yang menurutku, lahan subur penindasan dan dominasi. Bagi sebagian orang, kehidupan pesantren tidak berguna. Perhormatan pada kyai itu omong kosong. Merendahkan sekali mencium tangan orang lain.
Ah, itu kata orang yang tidak pernah merasakan kehangatan. Sisi feodalisme kyai dan pesantren itu hanya bumbu. Sebuah pelengkap dari kehidupan sebenarnya. Kenikmatan paling sempurna dari hidup adalah menikmati keadaan tertindas. Senang dalam dominasi. Tunduk pada jejak kaki di atas kepala kita. Menikmatinya bagi beberapa orang adalah pelecehan, perendahan martabat. Padahal hal ini lebih nikmat daripada tertindas tetapi tidak mengetahui. Bersipongah berkuasa padahal tunduk pada dominasi kasat mata.

Nikmati Hidup, itu saja!

Catatan Tak Berguna. Delete Saja!!!


Read more/Selengkapnya...

02 Maret 2008

Sajak Sastrawan Jerman


You who never arrived

You who never arrived
in my arms, Beloved, who were lost
from the start
I don't even know what songs
would please you. I have given up trying
to recognize you in the surging wave of the next
moment. All the immense
images in me--the far-off, deeply-felt landscape,
cities, towers, and bridges, and un-
suspected turns in the path,
and those powerful lands that were once
pulsing with the life of the gods--
all rise within me to mean
you, who forever elude me.

You, Beloved, who are all
the gardens I have ever gazed at,
longing. An open window
in a country house--, and you almost
stepped out, pensive, to meet me. Streets that I chanced upon,--
you had just walked down them and vanished.
And sometimes, in a shop, the mirrors
were still dizzy with your presence and, startled, gave back
my too-sudden image. Who knows? perhaps the same
bird echoed through both of us
yesterday, separate, in the evening...

Rainer Maria Rilke

Review seorang Cindira Montoya



You who never arrived...a review on rilke's situation

the mirror game,the seek for god or the other is a constant in rilke's work.Me the far off is also a synonym to God,and to Rodin too,whom rilke thought as his friend,his other.

I am the seeker,and there is no place to be found,to be passive in the sence of becoming someone else's object.

This who never arrived,could be the beloved,or the hidden being,the waiting that reminds me of myself.

The passive voice in rilke is an imagination of the self in the place of his desire,and this what I am the far off that is also out of seek,is the one that departed,from the inner point,to a deeper inner point,to the space where everything is only a desire,a path to,the sign of an interseccion between what is and what is longed.

He said,"they are like the wind that passes through the branches and say my tree."

this sentence,in which rilke becomes god's friend,a,consolation for the being that is lost and sad in his omniscient existence,there,rilke places himself,and shares that isolation of the one who knows.

Rilke too,passes by,and has no shelter but the mob that grieves,and this impossition of solitude is the reaction against the possibility of being found.

What other thing could one love,but the idea of someone that exists but is unseen,that does not appear and eventhough could be near,could be echoing btween the walls that surround us,or filling with steps the path that we walk down every day.

Not an abitious desire,but a close and intimate recognition that my situation is not beyond myself,but inside of what emerges from the near.

And desperation appears when this what is so near though sepparate,is given up and one surrenders to reality.


Cindira Montoya 1997-1999

Digobang dari situs: http://thecry.com/poetry/index.html

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP