28 Januari 2008

Download Electronic Bulletin "Paranah"

Tidak ada pikiran sebelumnya untuk membuat Buletin. Ketimbang iseng dan tidak ada kerjaan paska KRS-an, akhirnya aku ngotak-ngatik data yang ada di komputer. Pas lagi maen-maen dengan Corel Draw 11 (males pake yang terbaru. Komputerku lemot haha), tiba-tiba saja, terbersit keinginan membuat buletin digital. Lumayan lah, merampungkan beberapa tulisan dan data yang cukup menarik (bagiku.Hehe). Kebetulan kemaren berhasil download videonya Rendra yang sedang membaca sajak "Sebatang Lisong", terus...terus...Mau apa ya. Bingung dah. Deg-degan menunggu IP semester tujuh sekarang. Arghhhhh...



Komposisinya beragam. Campur baur. Sastra, Filsafat, dan laen-laen. Namanya juga iseng doang.
Runtutannya:
1. Halaman Utama
Biasalah pendahuluan dan tetek bengeknya itu

2. Perenungan
Judulnya menulis untuk hidup

3. Jejak
Kisah seorang Klein yang melompat dari ketinggian, untuk membuktikan bahwa ia bisa lolos
dari kematian

4. Sajakku
Tentu puisiku lah. Gak dibaca gak papa (gak bermutu. Hehehe). Tapi kalo baca dapat pahala
lo...

5. Sajak Sastrawan
Ada dua sajak milik Chairil Anwar yang berjudul "Dipo Negoro" dan "Taman", terus
ditambahi sajaknya Amir Hamzah yang berjudul "Subuh" dan "Insyaf". Kebetulan dua buku
penyair hebat ini kudapat dengan harga murah, Rp. 5000 doang. Judul bukunya Chairil, kalo
gak salah kerikil tajam dan apa gitu...lupa (Blo'on...Blo'on). Oh ya "Kerikil Tajam dan Yang
Terampas" (1949). Terus ma "Nyanyi Sunyi" milik Amir Hamzah

6. Mitos
Cerita tentang Narcissus dan Echo. Udah kuposting (bahasa apaan ni) di Blog ini

7. Tentang
Tentang aku dulu yah. nanti tokoh-tokoh yang laen.

Selengkapnya silahkan Unduh or Download Di Sini

Read more/Selengkapnya...

23 Januari 2008

LARI

Masa itu boleh berlalu
meninggalkan bekas
dan gurat sedih untuk dilihat

Tapi tidak pernah saja ia ingat
Sunggingan indah itu meleburku
dalam raungan rapuh tubuhku

... Sesekali ...

Salah sering menerpa
mengibaskan rambut ini
menggerakkan sejenak keteguhan itu
bukan satu bukan dua
tetapi tiga

Ah, mengapa harus ganjil
bukan genap ...



Read more/Selengkapnya...

KISAH CINTA SEPASANG BUTA


Narcissus dan Echo; Dirimu Kini

Oleh: Musthafa Amin

Mitologi Kuno masih menyimpan banyak teka-teki. Cerita berbasis mitos dan takhyul meninggalkan banyak jejak berserakan yang kenyataannya sering dipungut kembali. Simbolisme yang digunakan dalam mitos mereka ternyata masih banyak dipakai oleh kebudayaan sekarang, bahkan dalam keilmuan pun. Kontruksi bahasa acap bersumber dari pergesekan dan pengalihan sehingga tercipta bahasa sendiri. Tentu peradaban yang kuat akan berpengaruh bagi peradaban lainnya, sehingga simbol-simbol bahasa mereka seringkali digunakan untuk cipta bahasa. Bahasa Indonesia sendiri adalah kumpulan dari beberapa bahasa di teritorial mereka, meski pada dasarnya ia berumpun melayu.

Salah satu mitologi kuno yang sebenarnya masih lekat dengan kita, adalah mitos Narcissus dan Echo. Dua tokoh mitologi ini lebih kita dengan kata narsis, narsisme dan gema atau juga echo dalam kehidupan kita. Narsis dan narsisme lebih melambangkan sebuah perasaan psikologis yang determinan atas diri sendiri sedangkan gema tidak lebih dikenal sebagai pantulan suara, biasanya terjadi di tempat tertutup yang kedap suara dan di bukit, pegununungan dan tempat tinggi. Secara eksplisit, hubungan dua simbol kata ini begitu jauh dengan bentuk prakteknya bagi manusia. Perasaan puja diri dan suara yang memantul seringkali dilakukan di alam yang berbeda—untuk tidak mengatakannya terpisah.

Merujuk pada kisah keduanya, kita akan menemukan bahwa keduanya sangat berhubungan dekat. Karena mengisahkan keduanya, berarti kita menceritakan hubungan asmara antara dua tokoh tersebut. Naomi Segal dalam bukunya Narcissus and Echo; Women in the French RĂ©cit, cukup memberikan kisah singkat tentang Narcissus dan Echo, yang diangkat dari karya seorang penyair Romawi Kuno, Pubius Ovidus Naso (43 SM-17 M), Metamorphoses. Buku ini sendiri lebih cenderung mengkaji feminisme bersandarkan pada kisah-kisah perempuan yang berkembang di Perancis. Kisah Narcissus dan Echo adalah salah satu kajiannya pada simbolisme bias jender.

Terlepas dari itu semua, kembali saya ingin mengajak untuk menyimak perjalanan dua tokoh ini. Cerita Ovidius dimulai dengan prolog di Olympus, tempat tinggal dewa di mitologi Yunani.



Suatu ketika di Olimpus, Jupiter sedang bercengkrama bersama Juno, dewi asmara yang juga istrinya. Setengah teler karena banyak menenggak anggur, Jupiter berkelakar pada Istrinya. Dia berseloroh bahwa wanita lah yang merasakan kesenangan paling tinggi di saat hubungan seksual. Namun, Juno menyatakan sebaliknya hingga keduanya berdebat masalah tersebut. Karena perdebatan tak cepat usai, mereka memanggil Tiresias untuk memutuskan. Alasannya karena Tiresias pernah mengalami kehidupan cinta dengan kelamin yang berbeda, sebagai laki-laki dan perempuan. Tiresias ternyata lebih mendukung Jupiter dan membuat Juno sangat murka, sehingga dia membuat Tiresias buta. Di tengah kekalutan, beruntung bagi Tiresias, Dewa Tertinggi mengganti derita Tiresias dengan memberikan kemampuan, baginya, untuk meramalkan segala hal.

Kisah berlanjut, kemampuan meramal Tiresias diuji untuk pertama kalinya oleh Liriope, seorang Nymph. Dia diperkosa oleh Dewa Sungai, Cephius, dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Narcissus. Liriope menanyakan Tiresias, apakah Narcisus akan hidup hingga dewasa. Tiresias hanya memberikan enigma (teka-teki) sebagai jawabannya: “Jika dia tidak mengenal dirinya sendiri”, ujarnya. Ramalan ini akhirnya terbukti setelah Narcissus dewasa.

Narcissus pada umur sekitar lima belas atau enam belas tahun, sudah mulai beranjak dewasa. Banyak gadis-gadis yang tergila-gila dan jatuh cinta padanya. Tetapi tiada satu pun yang menarik hatinya.

Suatu ketika, ketika Narcissus pergi berburu dengan kawan-kawannya, ada seorang nymph dengan suara aneh yang melihatnya. Dia adalah Echo, nymph yang tidak bisa menahan suara ketika orang lain sedang berbicara, tetapi selalu diam ketika tidak ada yang berbicara. Awalnya, Echo tidaklah demikian. Dia sangat suka berbicara, tidak tertahan pada satu frase akhir. Kutukan Juno lah yang menjadikannya begitu. Silam, Echo berpapasan rombongan nymph bersama seorang dewi bernama Satunia, di tepi gunung. Echo mengobrol panjang dengan sang dewi sehingga para nymph banyak yang melarikan diri. Satunia menjadi marah dan memaki, “lidahmu yang telah menipuku, seharusnya dibatasi dan biasakanlah berbicara sedikit.” Akibat tindakannya, Echo mendapatkan kutukan. Dia hanya bisa mengulang suara dari pembicaraan dan berbicara dari apa yang dia dengar.

Echo mengikuti Narcissus. Semakin dia dekat, hasratnya semakin terbakar. Ingin dia berbicara pada Narcissus, tapi dia tak mampu. Dia menunggu Narcissus agar bicara lebih dulu. Narcissus sendiri seolah tidak merasakan kehadirannya yang begitu dekat.

Narcissus tersadar kalau dia telah begitu jauh terpisah dengan teman-temannya. Dia berteriak, “Adakah seseorang disini?” Teriakannya begitu keras, menerabas ke penjuru hutan. Seketika itu pula Echo membalasnya, “disini!”, Narcisuss heran karena tidak menemukan pangkal suara tersebut. Dia memanggil tanpa tahu siapa yang membalas teriakannya tadi. “Datanglah,” teriaknya. “Datanglah,” Echo membalas. Kebingungan melanda Narcisus. Dia melihat sekelilingnya, tapi tidak dia temukan satu orang pun. Dia kembali berteriak memanggil, “Kenapa kau lari dariku?” dan lagi-lagi, Echo membalasnya dengan ketidakmampuannya. “Kesini, biar kita bertemu,” balas Narcisuss kembali. Echo terus menjawab, membuat Narcisuss semakin bingung.

Echo mendekatinya, agar Narcisuss mengetahui kehadirannya. Tetapi Narcissus menjauh darinya, dia tidak tahu kalau Echo berada di dekatnya. Keduanya saling berbalas teriakan, dan Narcisuss tetap tidak tahu keberadaan Echo di dekatnya.

Echo tidak kuasa menahan penderitaannya, dia bersembunyi di balik pohon, dekat rerimbunan daun. Cintanya pada Narcisuss semakin menggelora, tumbuh bersama deritanya. Tubuhnya menghilang. Kutukan menghancurkan keberadaannya. Dia menjadi kurus kering dan keriput, kemudian seluruhnya berpendar, terurai di udara. Yang tersisa hanyalah suara. Serakan tulangnya membeku dan mengeras membatu. Dia selamanya tak terlihat, kendati suara, dan hanya itulah yang masih menjadi miliknya.

Ternyata, bukan hanya Echo yang tidak dipedulikan oleh Narcisuss. Tetapi seluruh orang, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengagumi dan menyukainya. Sehingga ada yang meletakkan kutukan padanya, “Dia mungkin hanya mencintai dirinya, dan tidak mendapatkan sesuatu yang dicintainya,” Kutukan itu terjawab dan menjadi muasal kenapa Narcisuss tidak akan pernah menyadari orang-orang di dekatnya.



Narcissus menghampiri sebuah telaga. Kolam airnya putih keperakan. Sepertinya telaga ini masih perawan, belum pernah dijamah siapapun, bahkan oleh binatang semacam kambing, lembu, dan burung. Rumput-rumput banyak tumbuh di tepi telaga dan semak belukar yang mengelilinginya. Di sinilah Narcisuss berhenti untuk sekedar menghilangkan dahaga.

Dicelupkanlah tangannya di air. Tetapi sebelum tangannya sampai, ia tertegun melihat pantulan wajah yang berada di permukaan air. Wajah yang sangat tampan dan berbinar. Entah, tiba-tiba Narcissus jatuh cinta pada bayangan itu, yang sebenarnya adalah pantulan wajah sendiri. Dia coba merengkuhnya dan menciumnya, tapi wajah itu memudar dan bercerai bergelombang. Lambat laun, bayangan itu kembali normal, dan Narcisuss kembali mengagumi dan mengharapkannya menjadi pelabuhan cintanya. Echo masih mengikuti Narcissus, rasa cintanya yang membuatnya demikian. Dia hanya bersuara ketika Narcissus berbicara.

Walau akhirnya, Narcissus menyadari bahwa bayangan itu adalah penampakan dirinya, tetap saja ia tidak menolak bahwa ia jatuh cinta. Karena jika dia telah menginginkan sesuatu, maka dia tidak dapat menahannya. Narcissus tertegun laiknya beku seperti es. Tubuh itu, adalah tubuh yang sangat dicintai Echo. Dia melihat Narcissus menolak, dan kembali menggemakan ratapan Narcissus, “Wahai kekasihku, yang sulit kucintai!” dan akhirnya, ‘Selamat tinggal!’

Kemudian, kematian membunuh pemilik mata yang mencintai kecantikannya sendiri itu, Narcissus. Dia mati tanpa pernah memandangi dan mengenali orang lain. Di Hades (akhirat) dia tetap memandangi dirinya sendiri di kolam Stygian. Mengulangi harapannya di dunia. Sementara di bumi, tubuhnya hancur dan digantikan dengan bunga narkotik berwarna kuning dan putih.

Mencintai diri sendiri adalah awal menuju kehancuran. Tersia-siakan karena cinta dan perlahan-lahan akan dilahap oleh api di dalamnya. Orang tersebut akan meleleh seperti lilin dan embun beku yang menguap. Begitulah yang bisa ditafsiri dari kisah di atas. Ini bukanlah interpretasi tunggal, pembaca punya hak dengan kemampuan tafsirnya yang beragam.

Dua tokoh ini telah termaktub di kehidupan sehari-hari kita. Walau istilah keduanya telah terpisah. Narcissus sekarang lebih dikenal dengan narsis dan narsisme yang dicakup dalam kajian psikoanalisa. Seorang tokoh psikoanalisis bernama Laplanche berpendapat bahwa posisi narsisme telah keluar jauh dari perdebatan tentang perbedaan seksual dan juga kajian bahasa, melainkan lebih kepad gejala psikologis seseorang. Sementara Echo adalah wujud cerminan akustis diri.

Sekarang, kondisi mereka sangat mengerikan. Terutama Echo, yang di dalam kajian Freud tentang Narsisme, disebut bukanlah inti dari cerita mitos tersebut. Echo telah tenggelam oleh Narsisme yang sekarang lebih banyak dikenal oleh orang-orang. Echo diposisikan pada simbol yang berjauhan dari kepribadian manusia, hanya karena kemampuan suaranya yang minim itu. Gema dan pantulan suara, sejauh ini bukanlah terma yang begitu meresap di hati manusia. Beda dengan narsisme, terutama bagi orang yang begitu mencintai dirinya. Sekali lagi, kekalahan awal percintaan kembali berulang pada seorang gadis “cerewet” dan "penuh kata" bernama Echo.

NB:
- Nymph: Adalah seorang dewi yang berupa gadis, tinggal di dunia

Read more/Selengkapnya...

19 Januari 2008

PERCAKAPAN AYAH DAN PUTERANYA

Putera
Percayalah, akan kuubah dunia
Ayah
Lepaskan dulu kopyah, sarung dan bajumu itu

14 Januari 2008 [12:00]

Read more/Selengkapnya...

17 Januari 2008

ONAK DALAM STRUKTUR

Apa arti sebuah keindahan
Sedemikian buruk ia berbentuk
Jikalau engkau menyebut indah
Langkahku surut untuk menjelekkannya

Apa arti sebuah kemapanan
Sedemikian tersudut mereka ditekan
Jikalau engkau menyebut proses
Pikiranku tertahan untuk membebaskan

Aku memang liberal
Aku memang bebas
Aku adalah burung
Yang sayapku masih utuh
Kepakanku masih kuat
Untuk terbang diriku mampu
Malah untuk beranak pinak
Milikku masih sangat jantan dan perawan

Itu sebelum mengenal dirimu
Itu jauh sebelum kita sempat bertatap
Berpeluk dan bersama bersimbah keringat
Sekarang engkau berucap:
“Kebebasan, sayap dan kemaluanmu telah kutangkap”
Men-sangkar-kan semua, tidak bisa berucap
Semaunya untuk dunia

Sumbersari, 13 Januari 2008 [09: 18]

Read more/Selengkapnya...

06 Januari 2008

MASSA MERAH

Sore ini, langit masih temaram. Semburat senja membulat muram. Mentari juga belum tenggelam. Angin melambai pelan, menorehkan kelembutan pasang-surut ritme dedaunan. Sebagian daun menguning dan niscaya akan berguguran menubruk keangkuhan bumi. Kemudian hilang tanpa bekas. Tanah lapang itu masih ramai: penuh sesak prajurit yang berseliweran. Mendongakkan kepala merasa superior, membentak para tahanan yang dirasa melawan. Sebagian mereka ada yang mengangkut setumpuk mayat tervonis mati. Apel sore kali ini merenggut banyak jiwa. Bunyi senapan berkali-kali menyiksa kupingku. Perih. Dadaku sesak menyaksikan seorang kurus ringkih tumbang dengan kepala bersembur darah. Wajahnya menyisakan senyum: kebahagian atau kekecewaan, aku tidak pernah tahu.

Manusia memang lebih rendah dari binatang. Hanya dengan dalih konstitusi Negara, mereka rela membunuh saudara sendiri seperkandungan ibu pertiwi. Diimingi sebuah materi, mereka bisa berkelakuan kasar tanpa ampun. Inikah bukti kesempurnaan manusia? Akal pikiran apa yang mereka gunakan? Mereka mengaku sebagai pahlawan Negara, tetapi rakyat sendiri yang jadi korban. Aku hanya bisa meringis ketika tanganku tersenggol. Luka hasil popor senapan kemarin, belum kering benar. Melepuh dengan nanah yang bertaburan. Masih beruntung aku tak bernasib naas. Izrail seperti enggan mencabut jiwaku.

"Mikiran apa Jo?"
"Ah, enggak kok, hanya mikirin nasib sendiri, Sib"
Kasib membuyarkan lamunanku. Laki-laki ini sangat kukagumi. Dia begitu tegar dengan semua ini; sudah tak terhitung pukulan dan tendangan bersarang di tubuhnya tetapi dia tetap tak bergeming ketika ditanya tentang revolusi yang kami lakukan. Matanya hanya nanar melihat sang penginterogasi. Dia tidak seperti Kasib yang dulu aku kenal. Sosok Kasib yang lugu, lemah dan pendiam telah berubah setelah dia mengikuti sebuah pertemuan di daerah Semarang. Perilaku yang tenang itu berubah bengal. Setiap ketidakadilan dilawannya tanpa ampun. Tidak seperti sebelumnya, untuk berpapasan dengan tentara dia sudah meringis ketakutan.

"Sampean nyesel ikut kami Jo?"
"Ya gak, kok sampean mikir kayak gitu?"
"Cuma perasaan aja, lha sampean masang tampang kok murung banget"
"Aku cuman mikir apa usaha kita akan berhasil?!"
Kasib hanya tersenyum simpul. Belum sempat dia menjawab, seorang sipir datang dan mengeluarkan Kasib untuk dinterogasi kembali. Dia dicurigai pemerintah sebagai salah satu pemimpin kami, sebab dia tertangkap ketika mengadakan rapat bersama petinggi gerakan di rumahnya. Hanya dia yang bernasib sial, sementara mayoritas peserta rapat berhasil kabur walaupun sebagian dengan membawa sebuah pelor di kaki. Malam itu, banyak dari anggota gerakan kami ditangkap pemerintah dengan alasan mengancam keutuhan Negara.

Malam semakin lengang dan menghitam. Tak ada suara-suara berarti. Suara tak lagi terdengar. Aku mulai gelisah, Kasib belum kembali. Biasanya, interogasi hanya berlangsung sekitar satu jam dan dia akan kembali dengan muka memar bermandikan darah dan lagi-lagi hanya senyum yang terlihat dari wajah, merasa puas karena sipir tidak berhasil mendapatkan secuil jawaban dari mulutnya. Mungkinkah sang sipir sudah bosan atau muak untuk memaksa dia karena tak kunjung menjawab dan langsung menghabisi nyawanya bagai sembelihan?

Hawa dingin meresap cepat ke permukaan kulit. Merembes menusuk sum-sum tulang. Darahku berdesir kencang dan jantung berdebar keras. Sejumput rasa takut mulai muncul. Beradu dengan kebimbangan. Takut akan kehilangan seorang teman. Seseorang yang sanggup mendidihkan darahku dari kebekuan. Ingatanku terbawa pada waktu pertama aku ikut gerakan massa merah ini. Pada waktu aku berdialog dengan Kasib tentang ideologi gerakan.

"Kenapa sampean ikut gerakan ini Jo?", pertanyaan Kasib membuatku bingung. Kenapa pula masih dipertanyakan, sudah untung ada penambahan anggota baru di gerakan. "Emang penting dijawab Sib?" Aku balik bertanya.

"Ah, gak terlalu penting sih, cuman yang saya tahu setiap orang pasti punya alasan dan harapan. Saya tak ingin sebuah pilihan tercipta hanya karena alasan dan harapan yang semu. Tanpa tujuan dan maksud, sebab hanya penyesalan yang akan terjadi nanti."

"Njlimet sampean Sib, jelasnya saya melihat gerakan ini lumayan terkenal dan mulai memasyarakat di sini. Katanya sih akan membuat perubahan bagi Negara ini," jawabku sekenanya. Kasib mengerutkan kening. Gurat kesenjaan usia terlihat. Garis-garis hitam menghimpit kulit bergelombang mengikuti alur alis. "Aneh, perubahan pasti akan terjadi Jo, selama manusia masih berpikir dalam keterasingannya. Ideologi ini tak terkait dengan prestise atau kepopuleran di mata masyarakat. Tujuan Jo, lagi-lagi tujuan. Mana mungkin sih sampean melakukan sesuatu tanpa ingin mewujudkan keinginan sampean?". Dua alis Kasib masih menyatu seakan masih tidak percaya dan menganggapku hanya ikut-ikutan.

"Yo, singkatnya, saya ikut karena pingin ikut, lagian kalo saya gak ikut nantinya khan saya ketinggalan jaman. Gak ikut perkembangan masyarakat modern. Sampean khan ngerti sendiri kalo gerakan ini telah memerah di nusantara dan bahkan mendapat respon baik dari berbagai kalangan pribumi. Lingkaran kecil harus masuk dalam lingkaran besar agar ikut besar. Gitu khan Sib?!"jawabanku mulai kuperpanjang. Mengelak kulakukan. Aku hanya tak ingin dianggap rendah oleh sahabatku sendiri meskipun aku sadar dugaannya mendekati kebenaran. Egois? Mungkin iya mungkin tidak.

"Sama saja Jo," Kasib menepuk pundakku pelan. Dia rapatkan posisi duduknya di sampingku. "Sampean harus sadari, dalam mengikuti gerakan pandangan sampean haruslah memang benar-benar sesuai atau minimal mendekati ideologi tersebut. Jangan sampai arah pandangan sampean berubah setelah ikut. Itu sih namanya ikut-ikutan, tanpa tahu ikut apa dan siapa. Pikiran-pikiran sampean harus bisa terjawantahkan dan berurat akar dengan ideologi gerakan. Intinya harus sama dari awal. Bukan berubah kemudian. Orang tak akan bisa mengikuti kumpulan Apartheid kalo dia bukan orang hitam."

Aku terdiam lesu. Menyerah dalam keraguan dan ketidaktahuanku. Akhirnya, tak kupaksakan lagi untuk berkata apalagi mencoba menyanggah. Percuma. Lidahku kelu, urat sarafnya seperti putus. Egoku hilang tergerus dan diam dalam kekosongan hati. Sampai-sampai membuka bibir pun aku tak sanggup. Kasib melanjutkan omongannya.

"Massa merah ini bukanlah organisasi tanpa dasar dan tujuan. Ia mempunyai nilai-nilai yang sebenarnya telah ada, bahkan tersebut di kitab suci kita. Sampean Islam khan? Begitu pula saya". Diambilnya sebungkus rokok dari balik sakunya. Kemudian disulutnya hingga memerah. Asapnya membumbung tinggi mengurai langit yang tak beratap. "Maksud sampean apa Sib, saya gak paham. Maksud sampean organisasi ini berdasarkan pada Al-Quran?"

"Nyantai Jo, jangan kesusu ingin paham. Ngerokok dulu nih, mumpung malam masih lama menemani kita. Cukup kok untuk menjawab pertanyaan sampean, sebab malam tak akan pernah hilang!" Aku menggeleng, ketertarikan akan jawaban membuatku tak berselera untuk melakukan apapun. Apalagi merokok.

"Salah satunya itu, kita juga menggunakan segala yang baik untuk dijadikan pedoman. Agama yang kita anut telah mengajarkan konsep-konsep yang mendukung ideologi kita. Konsep Kemerdekaan (Liberty), Persamaan (Equality) dan Persaudaraan (Fraternity) telah tertuang dengan jelas di Al-Quran. Maaf Jo, aku gak hapal Al-Quran, tapi menurut salah satu pemimpin kita seperti itu. Marx, Hegel, Lenin, Stalin atau bahkan Muhammad adalah salah satu sosok pecinta kemanusiaan. Mereka tidak menginginkan sebuah ketimpangan sosial hanya karena pengkotak-kotakan jenis masyarakat. Di mata Muhammad, berdasarkan wahyu, tidak ada perbedaan antar manusia, yang ada hanyalah proses pembeda menuju ketajaman spiritual. Begitu pula, Marx yang menyokong pemikiran Hegel, ingin menciptakan masyarakat tanpa kelas. Satu tujuan tapi lain metode khan? Muhammad dengan Islam dan Marx dengan Sosialisme."

"Coba sampean lihat, nasib petani di desa kita. Mereka tetap saja tertindas, apalagi yang hanya mengarap tanah orang. Hasil yang mereka dapatkan hancur berkeping karena hanya Negara yang lebih senang mengimpor beras dari luar negeri. Dan lihat saja, tetap saja ada sekat antara yang kaya dan yang miskin. Karena itulah, gerakan Massa Merah ingin memperbaiki sistem yang sudah ada, bukan ingin membangun sistem yang baru seperti anggapan orang-orang."

"Warna kulit, bentuk, ataupun sifat manusia boleh saja beda. Tapi ada yang sebenarnya menyatukan mereka. Yakni warna darah. Merah, melambangkan keberanian untuk kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi. Dan semua manusia berdarah merah. Karena itulah gerakan ini dinamakan Massa Merah. Merah seperti darah. Eh, Udah larut malam Jo, tak terasa. Aku pamit dulu yah, entar istriku marah-marah lagi. Haha, biasalah aku khan suami yang takut istri." Ujarnya sambil tersenyum sebelum pamit. Malam itu, aku masih tak bisa bicara banyak. Kaku dalam kesunyian. Perlahan, ucapan Kasib menggerogoti keyakinanku sehingga aku ingin benar-benar melebur dalam gerakan ini. Harus dan harus…

Malam bertambah larut. Hatiku semakin kalut. Pikiranku telah diracuni: aku yakin Kasib telah mencumbu maut. Dia pernah bersumpah di depanku, lebih baik mati daripada cita-citanya tidak tercapai. Ideologi Massa Merah seperti mendarah daging. Tak ada yang dibicarakannya kecuali membentuk masyarakat tanpa kelas tanpa ada diskriminasi antar golongan terutama kaum tertindas yang selalu dia ingin bangkitkan. Kau telah mencapai cita-citamu, Sib. Sulit merubah sistem Negara ini. Hati pemerintah telah teracuni Materialisme. Tak ada yang menjanjikan bagi kaum proletar di bumi pertiwi. Untuk menyebutnya sebagai tanah air kelahiranku aku merasa jijik dan muak. Kurebahkan badanku di dipan, mencoba untuk memejamkan mata dan bergelayut mesra dengan kegelapan. Merasakan sisa-sisa ketenangan di dalam bibir penjara yang menyesakkan. Door!!! Suara tembakan mengejutkanku, "Kasib!"

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP