03 Agustus 2008

Mendedah Perilaku Kuasa atas Media



Judul : Membongkar Kuasa Media
Penulis : Ziauddin Sardar
Penerbit : Resist Book
Cetakan : I, Juli 2008
Penerjemah : Dina Septi Utami
Tebal : 178 Halaman

Tak seorang pun bisa lepas dari jeratan media. Rata-rata kita menghabiskan lebih dari 15 tahun dalam kehidupan kita untuk menonton televisi, film, video, membaca surat kabar dan majalah, mendengarkan radio dan surfing internet. Artinya kita membenamkan diri dalam media. Kemampuan kita berbicara, berfikir, berinteraksi dengan orang lain, bahkan mimpi dan kesadaran akan identitas kita sendiri dibentuk oleh media. Dalam arti sesungguhnya, memelajari media adalah memelajari diri kita sendiri sebagai makhluk sosial.

Pada dasarnya studi kritik yang dilancarkan terhadap media bukanlah adalah hal yang langgam dan kerap diulas, tapi selalu saja melahirkan gagasan-gagasan baru yang diperluas dan merambah ke segala wilayah. Salah satunya adalah studi relasi media dengan kekuasaan. Sebagai suatu institusi informasi, media dapat dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial-budaya politik dengan tujuan membentuk opini publik. Tumpah ruah berita yang disajikan oleh media ternyata seringkali dimediasi untuk mendukung suatu golongan atau bahkan menindasnya.

Noam Chomsky adalah salah satu tokoh sosial yang intens menyoal media yang tidak bebas nilai dan erat bertemali dengan politik kepentingan. Setidaknya ada dua kepentingan utama, menurut Chomsky, yang selalu menjerat media. Yaitu kepentingan ekonomi (economical interest) dan kepentingan kekuasaan (power interest). Sehingga bagi Chomsky, informasi di media merupakan sebuah rekonstruksi. Rekonstruksi yang tertulis atas suatu realitas yang ada di masyarakat. Sehingga batasan-batasan yang ada semakin kabur (Chomsky, 2006).

Dari kondisi media yang sedemikian rupa, buku berjudul Membongkar Kuasa Media yang ditulis oleh Ziauddin Sardar ini hadir dan memperkaya diskursus dan pemikiran tentang studi media. Buku ini melacak relasi yang kompleks antara media, ideologi, pengetahuan, dan kekuasaan. Dengan kata lain buku ini menela’ah secara kritis fungsi media sebagai sarana menyampaikan berita, penilaian dan gambaran umum tentang banyak hal yang menurut Sardar, sudah demikian jauh bergeser. Sardar mengulas sejarah media, industri media dan riset-riset media dengan begitu apik dan juga menguraikan sejauh mana pendekatan-pendekatan dilakukan oleh studi media untuk membongkar kungkungan kekuasaan terhadap media.

Studi media dengan kekuasaan, sebagaimana dipaparkan oleh buku ini, selalu mengalami perkembangan dengan beragam pendekatan sehingga menjadi varian-varian utama studi media. Salah satunya adalah studi insitutisional. Studi ini menekankan pada faktor-faktor yang mengatur hubungan-hubungan di dalam organisasi dan menjaga keseluruhan struktur yaitu tentang bagaimana proses interaksi di antara berbagai anggota organisasi, tentang proses target dan tujuan diartikulasikan, serta tentang bagaimana kerangka kebijakan itu dikembangkan dengan baik. Hal tersebut karena seringkali professional media mengklaim bahwa mereka objektif dan imparsial sehingga mereka mengupayakan otonomi bagi industri mereka. Para editor seolah memiliki otoritas dalam memilah berita yang diliput oleh reporter sementara surat kabar ataupun media lainnya mengikuti garis politik tertentu dan mempromosikan ideologi politik tertentu—jadi mereka mengubah atau mengabaikan fakta-fakta yang bisa merusak posisi politik mereka.
Selanjutnya adalah studi struktural yang berlandaskan pada semiotika dan dekontruksi. Gagasan mendasar pada studi ini adalah pada sistem-sistem dan proses-proses signifikansi dan representasi makna. Studi ini pada awalnya merujuk pada salah satu pemikiran filosof Marxis berkebangsaan Prancis, Louis Althusser. Media hubungannya dengan kekuasaan, tulis Althusser, menempati proses strategis karena mampu menjadi sarana legitiminasi. Di dalam konteks pemerintahan Negara pun demikian, media adalah bagian alat kekuasaan Negara yang bekerja secara ideologis membangun kepatuhan khalayak pada kelompok yang berkuasa. Sehingga beralasan sekiranya jika menurut Karl Deutsh media adalah urat nadi pemerintah (the nerves of government).

Salah satu pendekatan alternatif yang merupakan kritik terhadap studi struktural adalah pendekatan ekonomi politik. Pendekatan ini melihat hubungan antara kepemilikan dengan kekuasaan politik sebagai area pertarungan dalam struktur dan hasil produk media. Pendekatan memandang studi struktural lebih menekankan elemen ideologis secara berlebihan. Padahal isi media dan makna dari setiap pesan ditentukan oleh basisi ekonomi organisasi di mana pesan-pesan itu diproduksi. Contohnya adalah lembaga media komersial, seperti NBC DI Amerika Serikat, ITV dan ABC di Australia, yang disetir oleh iklan dan kebutuhan untuk memproduksi program acara yang menghasilkan rating tinggi dan mereka bergerak untuk mendekati konsensus dominan.

Berikutnya adalah studi kaum kulturalis. Studi ini berada pada posisi ambigu atau abu-abu karena berada di antara konsep teoritis strukturalisme dengan konsep ekonomi politik. penekanannya terletak kepada kerangka yang berbeda dari pengetahuan yang meng-enkode dan men-dekode sebuah program acara di media. Pendekatan ini dikenalkan oleh Stuart Huall, salah satu pelopor studi Budaya, dalam buku Policing The Crisis (1978). Dia lebih mengutamakan peran ideologis media (The Ideological Role of the Media) daripada pengaruh langsungnya, dia juga menekankan aspek strukturasi kebahsaan dan ideology serta melihat konsep aktif audiens terhadap pembacaan isi media dan terhadap hubungan antara bagaimana pesan media dibuat, suasana yang diproduksi dan variasi audiens mendekoding pesan media.

Pembacaan audiens terhadap distribusi kuasa yang simetris mengarah kepada tiga tipe pembacaan yang berbeda, diantaranya adalah pembacaan dominan yang fokus kepada wilayah mana makna sentral teks ditekankan, kemudian bagaimana makna utama teks dinegosiasikan diterima oleh audiens dan selanjutnya membaca teks dengan cara berlawanan sampai pada makna yang diinginkan, berdasarkan pada bagaimana teks tersebut dienskripsikan.

Dari sekian analisis yang digunakan oleh para kritikus media—sebagaimana dipaparkan dalam buku ini, sepatutnya ada yang perlu dipertegas perihal siapakah yang menguasai media karena kesulitan mendasar yang ditemui dalam analisis media adalah ketika mencoba menunjuk “siapa sebenarnya yang berperan sebagai subjek berkuasa” di mana hal ini merujuk pada dua kategori yaitu para pekerja media, atau pemilik modal.

Namun, terlepas dari hal tersebut, paparan data yang ada dan rangkaian pendekatan yang dilakukan studi media dalam buku ini, seolah telah membuktikan tentang kondisi media yang tidak lagi netral dan tidak bisa lepas dari kekuasaan dan cenderung memiliki relasi timbal balik (mutualistik) antara pekerja media dan pemilik modal. Dan persoalan-persoalan tersebut, oleh Ziauddin Sardar, dibahas dengan sangat baik, sistematis dan begitu kritis dalam buku ini yang disertai dengan ilustrasi-ilustrasi menghibur. Selain itu, buku ini juga membedah teknik analisa film secara kritis, dan dekontruksi iklan kaitannya dengan pembentukan opini publik sehingga cukup berbeda dengan buku-buku lain yang bertema serupa. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang memiliki perhatian terhadap praktek kekuasaan yang memengaruhi pemberitaan di media.

0 komentar:

Poskan Komentar

Thanks for Comment. Suka Moccacino?

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP