03 Agustus 2008

Kesenian Indonesia Tanpa Nilai Tawar?



Judul : Dalam Sebotol Coklat Cair; dan sejumlah esei seni
Penulis : Radhar Panca Dahana
Penerbit : Penerbit KOEKOESAN, Depok
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : xxiii + 179 halaman

Oleh : Musthafa Amin

Tidak perlu diragukan bahwa seni memiliki kekuatan untuk melakukan tafsir pada kehidupan melalui satu cara pandang atau mekanisme yang berbeda dari disiplin-disiplin yang lain. Cara pandang yang berbeda inilah yang memperkaya kehidupan, karena dia akan memberikan pemahaman sendiri tentang hidup dan manusia itu. Karena seni itu selalu berbicara tentang hidup dan manusia. Dus, membincang karya seni, kita tidak akan lepas dari sosok pengarang. Karena dari kejeniusan sang author itulah lahirlah beberapa karya seni yang inspiratif dengan artikulasi estetisnya yang menjadi pijakan masyarakat untuk mengenal kehidupan. Sebutlah misalnya Romeo dan Juliet karya William Shakespeare yang tragedi cintanya menjadi karya arketip masa romantisme bahkan sepanjang masa. Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer yang menggebrak tatanan kehidupan kolonial dengan sosok Minke sehingga sosok Pram dibui bertahun-tahun atas “kesalahan”nya.

Melepas sosok Romeo dan Juliet dari Shakespeare, dan Minke dari Pram adalah hal yang mustahil. Sebab mereka adalah bayangan dari karya yang mereka hasilkan. Bahkan ketika ada gagasan the death of the author yang didengung-dengungkan oleh Roland Barthes dan tokoh strukturalis yang lain, kita sangat sulit untuk mengabaikan posisi dan kedudukan pengarang berkaitan dengan karya teksnya.

Inilah kemudian yang disebut Michel Foucault sebagai individualisasi ide sehingga sang pengarang memungkinkan menemukan authenticity (keaslian) nya. Authenticity, tulis Foucaut, lebih menekankan kepada peluang sang pengarang untuk mengartikulasikan nilai-nilai otentik kehidupan dan kondisi manusia pada zamannya yang bisa menjadi refleksi bersama. Jadi bukan kepada kepada korelasi pengarang dengan nilai estetis yang dia ciptakan dalam kayanya.

Namun sangat ironis jika individualisasi ide tersebut mulai bergeser dari nilai-nilai ideal yang diciptakan. Ruang kerja kreatif kesenian yang sepatutnya berkorelasi dengan realitas objektif kehidupan akan menjadi sangat personal dan kadang tidak perduli dengan orde komunal. Hal ini menyebabkan pribadi melonjak harganya dan mengakibatkan proses tawar-menawar dalam seni kian rumit dan kompleks.

Setidaknya itulah yang menjadi keprihatinan dan kekecewaan seorang Radhar Panca Dahana dalam buku kumpulan esai keseniannya, Dalam Sebotol Coklat Cair ketika memandang Indonesia dalam bingkai kesenian. Seni yang menurutnya berbunyi sangat lantang hingga dengan dengung yang sangat lembut, ternyata tidak pernah berhasil menawarkan isunya sendiri pada masyarakat luas. Padahal ia tidak lain adalah tawaran yang disodorkan oleh kreatornya pada masyarakat luas sehingga karyanya acapkali menjadi ajang negosiasi dalam arti material maupun immaterial. Seni akan menjadi sebuah karya yang dihargai dan diapresiasi jika ia dapat menerima pengakuan banyak orang. Karena seni yang baik, menurut beliau, adalah yang mendalami hidup dan kehidupannya, yang mampu melahirkan isunya sendiri. Bukan untuk ‘art pour l’art atau just for the art sake, bukan untuk kepuasan diri, tapi juga untuk kepentingan publik. Dengan demikian, publik menerima seni sebagai jalan kontemplatif dimensi sosialnya, yang alternatif, unik dan artistik dan seni tidak menjadi propaganda atau pamflet politik, barang dagangan atau papan iklan.



Dalam masyarakat yang relatif tradisional, dalam arti masih terpengaruhi oleh etika atau adab yang cukup sederhana, kegiatan ekspresional semacam seni tak memiliki banyak konflik dalam pemosisian sosialnya. Berkesenian pada masyarakat ini, yang relasi antara proses-subyektif dan proses-obyektifasinya masih sangat erat, adalah sebuah praktek keseharian dan alamiah, sebagaimana kegiatan-kegiatan hidup lainya.

Tetapi akhirnya hadir tradisi lain, yakni tradisi modern yang berasal dari Barat yang mengarahkan seni pada individuasi karya kreatif sehingga pribadi melonjak harganya dan mengakibatkan proses tawar-menawar dalam seni kian rumit dan kompleks.

Buku yang berisi tawar menawar kesenian ini terbagi menjadi tiga bab. Pada bab pertama, Menawar Seni, pembacaan beliau atas fenomena kesenian Indonesia belakangan ini menghasilkan beberapa kesangsian-kesangsian, kekecewaan dan kritikan. Perilaku kesenian Indonesia akhir-akhir ini, menurut beliau seperti larut dengan momen-momen insidentil dan sering tenggelam dalam satu isu yang tengah panas. Seni yang seharusnya eksploratif dipandangnya menjadi reaktif dan eksploitatif. Peristiwa sakit dan kematian Soeharto, apresiasi terhadap sastrawan legendaris semacam Chairil Anwar dan Taufiq Ismail atau yang peristiwa bencana di Negara sendiri, seperti Tsunami Aceh atau Bom Bali, maupun kasus-kasus sosial yang terjadi pada Palestina, Bosnia, Irak, Reformasi dan lain sebagainya seperti menjadi tema yang laris manis dieksploitasi oleh seni. Fenomena-fenomena yang ada menjadi medium bagi sebagian orang yang ingin menjadi seniman, sebagian menjadi penguat identitas seninya, sebagian mengekor dan selebihnya prihatin. Perilaku kesenian semacam ini harus ditindaklanjuti oleh insan yang bergelut dalam kesenian, agar seni tidak menjadi perangkat yang berduyun-duyun di pesta-pesta bencana, mimbar politik, agama, demo mahasiswa, hingga tema-tema kritis di galeri atau balai seni (hal.10).

Esai-esai pada bab kedua, Seni Menawar, memperlihatkan kerisauan Radhar atas perlakuan insan kesenian pada seni di Indonesia. Menurut Ketua Federasi Teater ini, nuansa kesenian kita akhir-akhir ini melakhirkan apa yang disebut dengan antagonisme kesenian yang mana dunia subyektif dan obyektif menjadi terbelah. Relasi seniman pun belakangan ini, tulis Radhar, lebih mencurahkan hal-hal yang non artistik dan non estetik seperti soal politik, finansial dan sebagainya. Ironisnya, hal tersebut menyeret seniman-seniman hijau yang masih tumbuh dan belum menampilkan kredonya masing-masing ke arah belenggu narsisme kekuasaan di luar jejaring estetika.

Pun begitu, semakin banyak kalangan akademis yang keluar dari disiplin ilmu mereka masing-masing dan beralih profesi menjadi seniman. Sebut saja banyak praktisi pendidikan, politikus, agamawan dan lain sebagainya yang pada awalnya tidak berkecimpung dalam dunia kesenian, mulai berlomba-lomba menciptakan karya seni semacam karya sastra, seni lukis dan musik. Parahnya masyarakat pun begitu mengamini perilaku tersebut. Mereka tidak melihat karya dari kualifikasi atau dari prestasi seorang pengarang namun lebih kepada prestise seseorang. Sehingga banyak karya seni seseorang yang dikenal sebagai seniman yang kalah laku dengan karya seni yang dihasilkan oleh seorang selebrits, politikus dan pemimpin pemerintahan yang nota bene lebih dimengerti oleh masyarakat. Ditambah lagi parlemen seksi kebudayaan yang diisi oleh selebritis, hampir tanpa pemikir kebudayaan di dalamnya. Hal-hal tersebut semakin memperparah “borok” kesenian Indonesia (hlm. 69).

Dan pada bab terakhir, Menawar Seni Tawar, lembaga kesenian tidak luput dari perhatian Radhar dalam mengkritisi kinerja dan perilaku untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian di indonesia. Salah satunya adalah Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang dulu dianggap berseberangan Pemerintah Kota Jakarta, menjamurnya beberapa lembaga kesenian serti YKJ (Yayasan Kesenian Jakarta), AJ (Akademi Jakarta), PKJ-TIM (Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki) sehingga membikin carut marut dalam pembagian wilayah kerja. Ketua Bale Sastra Kecapi ini menganggap konflik-konflik yang pernah ada seharusnya tidak perlu terjadi karena yang mereka ributkan bukanlah persoalan kesenian yang esensial dan krusial (hlm. 128). Yang perlu dikaji adalah niat dan ambisi pembentukan lembaga dan konsekuensi yang kemudian diakibatkannya. Di dunia perfilman, Radhar juga menghimbau agar forum dan lembaga—formal dan informal—harus digalakkan agar orang dapat melakukan prosedur analisis korektif yang independen agar mutu perfilman di indonesia semakin berkembang (hlm.152).

Membaca buku ini layaknya membaca guratan diari seseorang yang penuh gundah akan nasib kesenian Indonesia. Radhar mencoba menerapkan kembali slogan seni untuk seni dan seni untuk masyarakat yang nilai mulai memudar di pasar kesenian Indonesia. Kesenian yang ada cenderung latah dan tidak ada bedanya dengan pamflet politik, barang dagangan atau papan iklan. Buku ini penuh kritikan-kritikan kritis dan menohok sehingga buku ini cocok bagi kalangan seniman dan juga masyarakat umum untuk lebih memahami kesenian secara kritis.

0 komentar:

Posting Komentar

Thanks for Comment. Suka Moccacino?

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP