04 November 2008

In Design n Photo


Kucingku yang Begitu Rajin Membaca


Oposisi Biner...



Untukmu Kawan. Met Wisuda, Jadi Bintang Film...Wakaka

Ketakutan Hitler.

Read more/Selengkapnya...

29 Oktober 2008

Memahami Agama dengan Pengalaman



Judul : Pergulatan Iman
Penyunting : Nong Harol Mahmada
Penerbit : Penerbit Nalar Jakarta
Cetakan : Juni, 2008
Tebal : xxiv + 216 halaman

Perbincangan mengenai agama sejauh ini selalu mengandung perdebatan. Argumen empiris tentang hal-hal metafisis, misalnya keberadaan Tuhan, ketika ditransformasikan menjadi argumen rasional dengan rancak menyuburkan pemikiran-pemikiran spekulatif yang berujung klaim kebenaran. Hal inilah yang kemudian menjadi concern kajian tokoh-tokoh filsafat sekaliber Sigmund Freud (1856-1939) dan William James (1842-1910). Mereka beranggapan, selama akal pikiran masih diberikan ruang untuk mendiskusikan hal-hal yang noumena (realitas yang tidak bisa dipersepsi), maka tidak ada kata ujung untuk menyudahi perdebatan semacam itu.

Karena itulah, mereka lebih suka menjelaskan fenomena keagamaan apa adanya, seperti yang mereka lihat. Bilamana Freud lebih memandang agama adalah respon manusia terhadap situasi ketakberdayaan mereka dalam menghadapi dunia yang tak dapat mereka kontrol hingga membentuk figur bapak utama (primal father) yang dianggap pelindung, James melihat gejala kejiwaan keagaamaan secara positif. Pengalaman spiritual setiap pemeluk agama, bagi James adalah keniscayaan absolut pada semua individu dan karena itu ia lebih penting dan bermakna ketimbang klaim-klaim mereka tentang identitas formal agama yang mereka miliki.

Dalam kajian filsafat, sikap semacam ini disebut Fideisme (fideism), berasal dari bahasa Latin, fides yang berarti “iman”. Seorang fideis (sebutan bagi penganut aliran ini) tidak terlalu perduli apakah imannya dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, karena baginya, akal sama sekali tak relevan ketika seseorang berbicara tentang iman. Iman bagi mereka berada di atas akal. Sisi-sisi metafisika pada agama mustahil untuk dinalar tetapi dapat diyakini dengan pengalaman spiritual yang dialami.


Sejauh ini, meski pengalaman spiritual dan atau pengalaman personal keagamaan bisa kita jumpai pada siapa saja, perbincangan tersebut masih identik dibicarakan dan didedah oleh tokoh-tokoh agama semisal Kyai, Ulama’, Pastur, Pendeta, Biksu dan lain sebagainya. Sehingga seolah-olah pengalaman spiritual personal yang tidak berasal dari kalangan tersebut dipinggirkan—untuk tidak mengatakan disalahkan—karena hanya pengalaman mereka lah yang pantas dikumandangkan jika membincang keimanan.

Adalah Buku Pergulatan Iman yang mencoba mengangkat tema tersebut dengan pendekatan berbeda. Sebagai Buku hasil rekaman wawancara tentang pergumulan Iman sekumpulan individu, ia memilah audiennya dari latar belakang yang beragam yang nota bene bukan ahli agama atau mungkin sosok yang kadung dikenal masyarakat sebagai ahli di bidang lain. Ada sutradara, artis, novelis, penulis, politisi, aktivis sosial, budayawan, akademisi dan lain sebagainya. Dengan terbuka, mereka mengungkapkan bagaimana mereka meretas dimensi keagamaan di dalam perjalanan hidup mereka.

Berbagai tulisan wawancara dalam buku ini menghadirkan dinamika keagaaman yang pernah mereka alami di dalam hidupnya dan jalan yang mereka tempuh sebagai jalan keluar. Sikap yang mereka tempuh di dalam dinamika tersebut antara lain adalah sebagai langkah penyelamatan iman agar lepas dari tekanan lingkungan konservatif dan mengekang, sebagai upaya penegasan keimanan universal agar terbebas dari ikatan-ikatan formal agama yang sempit, sebagai respon atas modernisme karena agama-agama formal mereka anggap kesulitan mengantisipasi perubahan di era modern ini dan juga sebagai bentuk protes pada pemahaman konvensional beberapa ajaran agama.

Dengan gambaran tersebut, Almarhum Munir, misalnya dalam sub judul “Islam Harus Berpihak pada yang Tertindas”, ternyata pernah bersikap sangat radikal dalam urusan agama. Lahir di lingkungan yang ketat, dia mengakui pernah terpengaruhi doktrin-doktrin Islam sebagai agama paling benar sehingga, dalam satu waktu dalam hidupnya dia selalu membawa senjata tajam sebagai persiapan jika terlibat konflik dengan pemeluk agama lain.

Sikap ini dianutnya kurang lebih lima tahun hingga ia kemudian berkenalan dengan versi Islam yang lebih moderat. Setelah perkenalalnnya tersebut, Munir meninggalkan masa lalunya yang suram. Ia kemudian mengakui bahwa agama yang ditafsirkan secara radikal akan menghancurkan tatanan kehidupan. Sebagaimana diakuinya, “Ekstremitas beragama itu bisa menghancurkan peradaban manusia. Intoleransi, apapun bentuknya akan menghancurkan peradaban. Banyak orang beranggapan bahwa mereka sedang membangun. Akan tetapi yang mereka bangun justru simbol-simbol yang menghancurkan peradaban.” (hlm. 107)

Kecenderungan para tokoh itu “memberontak”, sebenarnya bukan karena mereka tidak mengakui peran agama (baik Islam, Katolik, Protestan, maupun Buddha) dalam kehidupan mereka. Malah sebaliknya, mereka semua mengakui besarnya peran agama dan kuatnya pengalaman keberagamaan yang mereka miliki sejak kecil. Agama yang seharusnya bersifat universal, dirasa gagal dalam mewadahi dan mengakomodir pemikiran mereka yang terus berkembang. Doktrin-doktrin keagamaan yang ada seakan stagnan dan tidak berubah, sementara para tokoh itu terus mendapatkan pengetahuan baru di luar. Sehingga fungsi agama sebagai sistem moral gagal memberikan dampak positif bagi tatanan sosial. Sikap semacam ini bisa kita baca dengan jelas pada wawancara dengan tokoh-tokoh seperti Lies Marcos-Natsir, Wardah Hafidz (Islam), Ayu Utami (Katolik) dan Dee Lestari (Protestan kemudian Buddha) yang direpresentasikan sebagai aktivis perempuan.

Dari rangkuman seluruh pengakuan pengalaman mereka yang disajikan, buku ini mengungkapkan adanya kecenderungan fideisme pada sebagian para tokoh dan aktifis di Indonesia. Mereka menganggap pengalaman spiritual personal jauh lebih penting ketimbang identitas formal agama dan doktrin-doktrin kaku keagamaan. Dari pengalaman tersebut, menunjukkan betapa agama formal tidak mampu menampung aspirasi keberagamaan para pemeluknya. Agama formal dalam bentuknya yang mekanistis (dalam pengertian adanya aturan-aturan yang baku, kewajiban-kewajiban, dan sanksi-sanksi) terlalu sistematis dan kaku sehingga sulit baginya mengakomodir hal-hal di luar dunia pembuktian. Padahal iman bukanlah soal pembuktian, karena tidak bisa diuraikan secara rasional, iman adalah pengalaman individu yang hanya bisa dirasakan namun tak bisa diuraikan.

Sebenarnya, pemilihan tokoh-tokoh yang menjadi sumber wawancara dalam buku ini bisa disimpulkan ke mana arah pemikiran yang hendak disampaikan oleh buku ini. Semua wawancara di buku ini merupakan transkrip talk show salah satu program kegiatan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dilakukan sepanjang tahun 2002 sampai 2005. Wawancara ini juga dimuat di beberapa media massa dan disiarkan di beberapa stasiun radio yang juga merupakan program sindikasi media JIL. Karena itu, nuansa moderat dan liberal sangat kental menghiasi setiap pembicaraan setiap tokoh.

Meskipun demikian, hadirnya buku ini jelas membuat pemahaman kita akan keimanan semakin terbuka. Tentang begitu pentingnya pengalaman spiritual sebagai penguat keimanan kita. Ragam pendapat dalam persoalan agama adalah lumrah, namun bagaimana perbedaan tanpa masalah bisa diolah. Walaupun pengalaman tersebut cenderung subjektif karena tidak lepas dari pelbagai unsur dalam diri individu setidaknya kita dapat mengambil pelajaran dari buku ini, yakni—sebagaimana disampaikan Gunawan Muhammad dalam epilog buku ini—tentang bagaimana menerjemahkan Iman bukan sekedar suatu akhir proses intelektual, melainkan peleburan diri ke dalam suatu proses yang sepenuhnya berlangsung dalam hidup, dengan segala gejolaknya.

Read more/Selengkapnya...

19 September 2008

Koleksi Buku atau Baca Buku; Hasil Memandangi Rak Buku


[Anjuran; Jangan Dibaca bila tidak Ingin Kecewa]

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam [Al-‘Alaq: 1-4].


Petikan ayat di atas memiliki makna dan tujuan tertentu. Sebagai serangkaian ayat yang diturunkan pertama kali pada Muhammad tentu beragam alasan/hikmah dapat kita tafsirkan. Makna yang mampu saya tafsirkan adalah tentang kebutuhan kita untuk membaca. Membaca, bagi saya, menduduki posisi tertinggi kesekian di samping kebutuhan pokok seperti makan, minum, ‘merokok’ dan lain sebagainya. Tujuan membaca adalah sebagai proses pembekalan kita dalam menuju cita-cita luhur manusia sebagai ‘khalifah fil ‘ardh. Jika makan dan minum adalah nutrisi tubuh agar bisa lebih kuat, maka membaca adalah nutrisi otak agar memiliki lebih banyak ilmu pengetahuan di saat nanti membenamkan diri dalam pengalaman. 

Dalam dimensi sosial, membaca adalah sebuah proses penting sebelum menuangkan gagasan dalam tulisan. Karena dengan tulisan, kita bisa mengenalkan gagasan kepada banyak kalangan. Tanpa menafikan fungsi lisan, tulisan sama pentingnya seperti penyampaian ilmu pengetahuan melalui lisan. Bahkan di saat-saat tertentu, saat jasad tidak lagi bergerak, tulisan masih leluasa melanglang di dalam pikiran orang-orang. Pelembagaan ilmu pengetahuan lebih abadi ketimbang lisan yang mengandalkan keaktifan fungsi akal dan hafalan. Tentu saja bila, Khalifah Abu Bakar sampai kelabakan sewaktu banyak penghafal Al-Qur’an meninggal di waktu perang sehingga beliau berijtihad untuk mengumpulkan al-Qu’an dalam tulisan hingga bisa disempurnakan oleh Khalifah Utsman bin Affan meski kental gejolak.

Dua paragraph di atas sebenarnya hanya pengantar. Saya latah untuk mengutip beberapa ayat al-Qur’an karena sekarang masih dalam semarak Nuzulul Qur’an meski sebenarnya ada hal yang ingin saya utarakan berkenaan Buku dan Bulan Suci Ramadlan. 


Menurut Quraish Shihab (2003) dalam bukunya Lentera Hati, Puasa dimaknai puasa sebagai sebuah ritus keagamaan yang mencoba meniru sifat Tuhan (Allah) yakni tidak makan, minum, tidak beranak dan diperanakkan. Kata Shaum diartikan sebagai ‘menahan’ dari segala hawa nafsu kemanusiaan. Tetapi ada semacam rasa penasaran yang menghinggapi saya. Bagi seorang kutu buku yang menganggap membaca adalah basic needs layaknya makan dan minum atau berhubungan seksual (yang jelas bukan saya), bagaimana ia menjalankan ibadah puasa? Apakah dia harus juga menahan hawa nafsunya untuk membaca? Dan hanya bisa membaca di saat sudah buka puasa? J

Ah…sebenarnya saya bingung mau menulis apa. Sebenarnya tidak ada hal yang penting untuk saya utarakan. Saya hanya tertegun memandangi koleksi buku saya. Koleksi tersebut sudah mulai berkurang meski setiap bulan saya selalu menyisihkan uang saku untuk menambah koleksi buku. Banyak kawan-kawan yang seringkali pinjam tanpa izin hingga rak koleksi buku saya berangsur-angsur menjadi longgar. Sudah menjadi komitmen saya pribadi, mengoleksi buku adalah sebuah kebutuhan. Minimal dalam satu bulan, ada satu buku yang akan menambahi rak buku saya. Hal tersebut adalah perkara wajib. Tetapi, ada kebiasaan buruk yang sering saya lakukan, yang jangan sampai dilakukan oleh kolektor buku yang seyogyanya juga harus berstatus kutu buku. Saya sangat jarang membaca tuntas buku yang baru saya beli sehingga sempat saya dicemooh seorang teman, “Ngapain juga beli buku banyak-banyak tapi tidak dibaca.” Tetapi saya tidak terlalu menanggapi hal tersebut karena bagi saya ini adalah komitmen diri saya karena saya yakin koleksi ini akan berguna dan kelak akan saya baca.

Saya mampu membaca tuntas sebuah buku jika isi buku tersebut menarik bagi saya walaupun hingga kini saya masih belum bisa menyimpulkan makna ‘menarik’ tersebut. Mood saya bisa
dibilang gampang berubah dan wacana-wacana yang terdapat dalam buku datang silih bergantian hingga saya sering berganti-ganti buku tanpa menunggu membaca tuntas. Seringkali saya dihadapkan kenyataan bahwa saya akan rajin baca buku jika ada tuntutan seperti tugas perkuliahan, diskusi rutinan dan selebihnya saya memuseumkannya.

Tetapi tidak apalah, karena saya yakin sepenuhnya kelak keinginan untuk tuntas membaca koleksi saya akan kesampaian. Biarlah komitmen mengoleksi buku terus berjalan karena hal tersebut yang bisa saya andalkan saat ini. Bila sampai waktuku, akan kubaca semua tanpa melewatkan pun satu buku.

Sumbersari, 17 September 2008

Read more/Selengkapnya...

Puisi; Kembang Kempis

Kembang Kempis

Kembang kempis menepis kelakar
Dari sorot matanya sepertinya dia akan melayu
Beriringan dengan kematian pucuk-pucuk 
Tergores panas memuai aroma ganja

Di balik mekar mahkota
Tersimpan racun-racun jingga
Tak tercium, tapi bereaksi jika dihirup
Kekosongan itu yang menyerap duri-duri
Dia mematikan walau kelihatan hidup

Siapa yang bakal tahu
Jika romansa keindahan itu tak dapat dipuja
Hanya bisa dirasa dan diraba

27 Agustus 2008





Type rest of the post here

Read more/Selengkapnya...

03 Agustus 2008

Mendedah Perilaku Kuasa atas Media



Judul : Membongkar Kuasa Media
Penulis : Ziauddin Sardar
Penerbit : Resist Book
Cetakan : I, Juli 2008
Penerjemah : Dina Septi Utami
Tebal : 178 Halaman

Tak seorang pun bisa lepas dari jeratan media. Rata-rata kita menghabiskan lebih dari 15 tahun dalam kehidupan kita untuk menonton televisi, film, video, membaca surat kabar dan majalah, mendengarkan radio dan surfing internet. Artinya kita membenamkan diri dalam media. Kemampuan kita berbicara, berfikir, berinteraksi dengan orang lain, bahkan mimpi dan kesadaran akan identitas kita sendiri dibentuk oleh media. Dalam arti sesungguhnya, memelajari media adalah memelajari diri kita sendiri sebagai makhluk sosial.

Pada dasarnya studi kritik yang dilancarkan terhadap media bukanlah adalah hal yang langgam dan kerap diulas, tapi selalu saja melahirkan gagasan-gagasan baru yang diperluas dan merambah ke segala wilayah. Salah satunya adalah studi relasi media dengan kekuasaan. Sebagai suatu institusi informasi, media dapat dipandang sebagai faktor yang paling menentukan dalam proses-proses perubahan sosial-budaya politik dengan tujuan membentuk opini publik. Tumpah ruah berita yang disajikan oleh media ternyata seringkali dimediasi untuk mendukung suatu golongan atau bahkan menindasnya.

Noam Chomsky adalah salah satu tokoh sosial yang intens menyoal media yang tidak bebas nilai dan erat bertemali dengan politik kepentingan. Setidaknya ada dua kepentingan utama, menurut Chomsky, yang selalu menjerat media. Yaitu kepentingan ekonomi (economical interest) dan kepentingan kekuasaan (power interest). Sehingga bagi Chomsky, informasi di media merupakan sebuah rekonstruksi. Rekonstruksi yang tertulis atas suatu realitas yang ada di masyarakat. Sehingga batasan-batasan yang ada semakin kabur (Chomsky, 2006).

Dari kondisi media yang sedemikian rupa, buku berjudul Membongkar Kuasa Media yang ditulis oleh Ziauddin Sardar ini hadir dan memperkaya diskursus dan pemikiran tentang studi media. Buku ini melacak relasi yang kompleks antara media, ideologi, pengetahuan, dan kekuasaan. Dengan kata lain buku ini menela’ah secara kritis fungsi media sebagai sarana menyampaikan berita, penilaian dan gambaran umum tentang banyak hal yang menurut Sardar, sudah demikian jauh bergeser. Sardar mengulas sejarah media, industri media dan riset-riset media dengan begitu apik dan juga menguraikan sejauh mana pendekatan-pendekatan dilakukan oleh studi media untuk membongkar kungkungan kekuasaan terhadap media.

Studi media dengan kekuasaan, sebagaimana dipaparkan oleh buku ini, selalu mengalami perkembangan dengan beragam pendekatan sehingga menjadi varian-varian utama studi media. Salah satunya adalah studi insitutisional. Studi ini menekankan pada faktor-faktor yang mengatur hubungan-hubungan di dalam organisasi dan menjaga keseluruhan struktur yaitu tentang bagaimana proses interaksi di antara berbagai anggota organisasi, tentang proses target dan tujuan diartikulasikan, serta tentang bagaimana kerangka kebijakan itu dikembangkan dengan baik. Hal tersebut karena seringkali professional media mengklaim bahwa mereka objektif dan imparsial sehingga mereka mengupayakan otonomi bagi industri mereka. Para editor seolah memiliki otoritas dalam memilah berita yang diliput oleh reporter sementara surat kabar ataupun media lainnya mengikuti garis politik tertentu dan mempromosikan ideologi politik tertentu—jadi mereka mengubah atau mengabaikan fakta-fakta yang bisa merusak posisi politik mereka.
Selanjutnya adalah studi struktural yang berlandaskan pada semiotika dan dekontruksi. Gagasan mendasar pada studi ini adalah pada sistem-sistem dan proses-proses signifikansi dan representasi makna. Studi ini pada awalnya merujuk pada salah satu pemikiran filosof Marxis berkebangsaan Prancis, Louis Althusser. Media hubungannya dengan kekuasaan, tulis Althusser, menempati proses strategis karena mampu menjadi sarana legitiminasi. Di dalam konteks pemerintahan Negara pun demikian, media adalah bagian alat kekuasaan Negara yang bekerja secara ideologis membangun kepatuhan khalayak pada kelompok yang berkuasa. Sehingga beralasan sekiranya jika menurut Karl Deutsh media adalah urat nadi pemerintah (the nerves of government).

Salah satu pendekatan alternatif yang merupakan kritik terhadap studi struktural adalah pendekatan ekonomi politik. Pendekatan ini melihat hubungan antara kepemilikan dengan kekuasaan politik sebagai area pertarungan dalam struktur dan hasil produk media. Pendekatan memandang studi struktural lebih menekankan elemen ideologis secara berlebihan. Padahal isi media dan makna dari setiap pesan ditentukan oleh basisi ekonomi organisasi di mana pesan-pesan itu diproduksi. Contohnya adalah lembaga media komersial, seperti NBC DI Amerika Serikat, ITV dan ABC di Australia, yang disetir oleh iklan dan kebutuhan untuk memproduksi program acara yang menghasilkan rating tinggi dan mereka bergerak untuk mendekati konsensus dominan.

Berikutnya adalah studi kaum kulturalis. Studi ini berada pada posisi ambigu atau abu-abu karena berada di antara konsep teoritis strukturalisme dengan konsep ekonomi politik. penekanannya terletak kepada kerangka yang berbeda dari pengetahuan yang meng-enkode dan men-dekode sebuah program acara di media. Pendekatan ini dikenalkan oleh Stuart Huall, salah satu pelopor studi Budaya, dalam buku Policing The Crisis (1978). Dia lebih mengutamakan peran ideologis media (The Ideological Role of the Media) daripada pengaruh langsungnya, dia juga menekankan aspek strukturasi kebahsaan dan ideology serta melihat konsep aktif audiens terhadap pembacaan isi media dan terhadap hubungan antara bagaimana pesan media dibuat, suasana yang diproduksi dan variasi audiens mendekoding pesan media.

Pembacaan audiens terhadap distribusi kuasa yang simetris mengarah kepada tiga tipe pembacaan yang berbeda, diantaranya adalah pembacaan dominan yang fokus kepada wilayah mana makna sentral teks ditekankan, kemudian bagaimana makna utama teks dinegosiasikan diterima oleh audiens dan selanjutnya membaca teks dengan cara berlawanan sampai pada makna yang diinginkan, berdasarkan pada bagaimana teks tersebut dienskripsikan.

Dari sekian analisis yang digunakan oleh para kritikus media—sebagaimana dipaparkan dalam buku ini, sepatutnya ada yang perlu dipertegas perihal siapakah yang menguasai media karena kesulitan mendasar yang ditemui dalam analisis media adalah ketika mencoba menunjuk “siapa sebenarnya yang berperan sebagai subjek berkuasa” di mana hal ini merujuk pada dua kategori yaitu para pekerja media, atau pemilik modal.

Namun, terlepas dari hal tersebut, paparan data yang ada dan rangkaian pendekatan yang dilakukan studi media dalam buku ini, seolah telah membuktikan tentang kondisi media yang tidak lagi netral dan tidak bisa lepas dari kekuasaan dan cenderung memiliki relasi timbal balik (mutualistik) antara pekerja media dan pemilik modal. Dan persoalan-persoalan tersebut, oleh Ziauddin Sardar, dibahas dengan sangat baik, sistematis dan begitu kritis dalam buku ini yang disertai dengan ilustrasi-ilustrasi menghibur. Selain itu, buku ini juga membedah teknik analisa film secara kritis, dan dekontruksi iklan kaitannya dengan pembentukan opini publik sehingga cukup berbeda dengan buku-buku lain yang bertema serupa. Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang memiliki perhatian terhadap praktek kekuasaan yang memengaruhi pemberitaan di media.

Read more/Selengkapnya...

Kesenian Indonesia Tanpa Nilai Tawar?



Judul : Dalam Sebotol Coklat Cair; dan sejumlah esei seni
Penulis : Radhar Panca Dahana
Penerbit : Penerbit KOEKOESAN, Depok
Cetakan : I, Februari 2008
Tebal : xxiii + 179 halaman

Oleh : Musthafa Amin

Tidak perlu diragukan bahwa seni memiliki kekuatan untuk melakukan tafsir pada kehidupan melalui satu cara pandang atau mekanisme yang berbeda dari disiplin-disiplin yang lain. Cara pandang yang berbeda inilah yang memperkaya kehidupan, karena dia akan memberikan pemahaman sendiri tentang hidup dan manusia itu. Karena seni itu selalu berbicara tentang hidup dan manusia. Dus, membincang karya seni, kita tidak akan lepas dari sosok pengarang. Karena dari kejeniusan sang author itulah lahirlah beberapa karya seni yang inspiratif dengan artikulasi estetisnya yang menjadi pijakan masyarakat untuk mengenal kehidupan. Sebutlah misalnya Romeo dan Juliet karya William Shakespeare yang tragedi cintanya menjadi karya arketip masa romantisme bahkan sepanjang masa. Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer yang menggebrak tatanan kehidupan kolonial dengan sosok Minke sehingga sosok Pram dibui bertahun-tahun atas “kesalahan”nya.

Melepas sosok Romeo dan Juliet dari Shakespeare, dan Minke dari Pram adalah hal yang mustahil. Sebab mereka adalah bayangan dari karya yang mereka hasilkan. Bahkan ketika ada gagasan the death of the author yang didengung-dengungkan oleh Roland Barthes dan tokoh strukturalis yang lain, kita sangat sulit untuk mengabaikan posisi dan kedudukan pengarang berkaitan dengan karya teksnya.

Inilah kemudian yang disebut Michel Foucault sebagai individualisasi ide sehingga sang pengarang memungkinkan menemukan authenticity (keaslian) nya. Authenticity, tulis Foucaut, lebih menekankan kepada peluang sang pengarang untuk mengartikulasikan nilai-nilai otentik kehidupan dan kondisi manusia pada zamannya yang bisa menjadi refleksi bersama. Jadi bukan kepada kepada korelasi pengarang dengan nilai estetis yang dia ciptakan dalam kayanya.

Namun sangat ironis jika individualisasi ide tersebut mulai bergeser dari nilai-nilai ideal yang diciptakan. Ruang kerja kreatif kesenian yang sepatutnya berkorelasi dengan realitas objektif kehidupan akan menjadi sangat personal dan kadang tidak perduli dengan orde komunal. Hal ini menyebabkan pribadi melonjak harganya dan mengakibatkan proses tawar-menawar dalam seni kian rumit dan kompleks.

Setidaknya itulah yang menjadi keprihatinan dan kekecewaan seorang Radhar Panca Dahana dalam buku kumpulan esai keseniannya, Dalam Sebotol Coklat Cair ketika memandang Indonesia dalam bingkai kesenian. Seni yang menurutnya berbunyi sangat lantang hingga dengan dengung yang sangat lembut, ternyata tidak pernah berhasil menawarkan isunya sendiri pada masyarakat luas. Padahal ia tidak lain adalah tawaran yang disodorkan oleh kreatornya pada masyarakat luas sehingga karyanya acapkali menjadi ajang negosiasi dalam arti material maupun immaterial. Seni akan menjadi sebuah karya yang dihargai dan diapresiasi jika ia dapat menerima pengakuan banyak orang. Karena seni yang baik, menurut beliau, adalah yang mendalami hidup dan kehidupannya, yang mampu melahirkan isunya sendiri. Bukan untuk ‘art pour l’art atau just for the art sake, bukan untuk kepuasan diri, tapi juga untuk kepentingan publik. Dengan demikian, publik menerima seni sebagai jalan kontemplatif dimensi sosialnya, yang alternatif, unik dan artistik dan seni tidak menjadi propaganda atau pamflet politik, barang dagangan atau papan iklan.



Dalam masyarakat yang relatif tradisional, dalam arti masih terpengaruhi oleh etika atau adab yang cukup sederhana, kegiatan ekspresional semacam seni tak memiliki banyak konflik dalam pemosisian sosialnya. Berkesenian pada masyarakat ini, yang relasi antara proses-subyektif dan proses-obyektifasinya masih sangat erat, adalah sebuah praktek keseharian dan alamiah, sebagaimana kegiatan-kegiatan hidup lainya.

Tetapi akhirnya hadir tradisi lain, yakni tradisi modern yang berasal dari Barat yang mengarahkan seni pada individuasi karya kreatif sehingga pribadi melonjak harganya dan mengakibatkan proses tawar-menawar dalam seni kian rumit dan kompleks.

Buku yang berisi tawar menawar kesenian ini terbagi menjadi tiga bab. Pada bab pertama, Menawar Seni, pembacaan beliau atas fenomena kesenian Indonesia belakangan ini menghasilkan beberapa kesangsian-kesangsian, kekecewaan dan kritikan. Perilaku kesenian Indonesia akhir-akhir ini, menurut beliau seperti larut dengan momen-momen insidentil dan sering tenggelam dalam satu isu yang tengah panas. Seni yang seharusnya eksploratif dipandangnya menjadi reaktif dan eksploitatif. Peristiwa sakit dan kematian Soeharto, apresiasi terhadap sastrawan legendaris semacam Chairil Anwar dan Taufiq Ismail atau yang peristiwa bencana di Negara sendiri, seperti Tsunami Aceh atau Bom Bali, maupun kasus-kasus sosial yang terjadi pada Palestina, Bosnia, Irak, Reformasi dan lain sebagainya seperti menjadi tema yang laris manis dieksploitasi oleh seni. Fenomena-fenomena yang ada menjadi medium bagi sebagian orang yang ingin menjadi seniman, sebagian menjadi penguat identitas seninya, sebagian mengekor dan selebihnya prihatin. Perilaku kesenian semacam ini harus ditindaklanjuti oleh insan yang bergelut dalam kesenian, agar seni tidak menjadi perangkat yang berduyun-duyun di pesta-pesta bencana, mimbar politik, agama, demo mahasiswa, hingga tema-tema kritis di galeri atau balai seni (hal.10).

Esai-esai pada bab kedua, Seni Menawar, memperlihatkan kerisauan Radhar atas perlakuan insan kesenian pada seni di Indonesia. Menurut Ketua Federasi Teater ini, nuansa kesenian kita akhir-akhir ini melakhirkan apa yang disebut dengan antagonisme kesenian yang mana dunia subyektif dan obyektif menjadi terbelah. Relasi seniman pun belakangan ini, tulis Radhar, lebih mencurahkan hal-hal yang non artistik dan non estetik seperti soal politik, finansial dan sebagainya. Ironisnya, hal tersebut menyeret seniman-seniman hijau yang masih tumbuh dan belum menampilkan kredonya masing-masing ke arah belenggu narsisme kekuasaan di luar jejaring estetika.

Pun begitu, semakin banyak kalangan akademis yang keluar dari disiplin ilmu mereka masing-masing dan beralih profesi menjadi seniman. Sebut saja banyak praktisi pendidikan, politikus, agamawan dan lain sebagainya yang pada awalnya tidak berkecimpung dalam dunia kesenian, mulai berlomba-lomba menciptakan karya seni semacam karya sastra, seni lukis dan musik. Parahnya masyarakat pun begitu mengamini perilaku tersebut. Mereka tidak melihat karya dari kualifikasi atau dari prestasi seorang pengarang namun lebih kepada prestise seseorang. Sehingga banyak karya seni seseorang yang dikenal sebagai seniman yang kalah laku dengan karya seni yang dihasilkan oleh seorang selebrits, politikus dan pemimpin pemerintahan yang nota bene lebih dimengerti oleh masyarakat. Ditambah lagi parlemen seksi kebudayaan yang diisi oleh selebritis, hampir tanpa pemikir kebudayaan di dalamnya. Hal-hal tersebut semakin memperparah “borok” kesenian Indonesia (hlm. 69).

Dan pada bab terakhir, Menawar Seni Tawar, lembaga kesenian tidak luput dari perhatian Radhar dalam mengkritisi kinerja dan perilaku untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian di indonesia. Salah satunya adalah Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang dulu dianggap berseberangan Pemerintah Kota Jakarta, menjamurnya beberapa lembaga kesenian serti YKJ (Yayasan Kesenian Jakarta), AJ (Akademi Jakarta), PKJ-TIM (Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki) sehingga membikin carut marut dalam pembagian wilayah kerja. Ketua Bale Sastra Kecapi ini menganggap konflik-konflik yang pernah ada seharusnya tidak perlu terjadi karena yang mereka ributkan bukanlah persoalan kesenian yang esensial dan krusial (hlm. 128). Yang perlu dikaji adalah niat dan ambisi pembentukan lembaga dan konsekuensi yang kemudian diakibatkannya. Di dunia perfilman, Radhar juga menghimbau agar forum dan lembaga—formal dan informal—harus digalakkan agar orang dapat melakukan prosedur analisis korektif yang independen agar mutu perfilman di indonesia semakin berkembang (hlm.152).

Membaca buku ini layaknya membaca guratan diari seseorang yang penuh gundah akan nasib kesenian Indonesia. Radhar mencoba menerapkan kembali slogan seni untuk seni dan seni untuk masyarakat yang nilai mulai memudar di pasar kesenian Indonesia. Kesenian yang ada cenderung latah dan tidak ada bedanya dengan pamflet politik, barang dagangan atau papan iklan. Buku ini penuh kritikan-kritikan kritis dan menohok sehingga buku ini cocok bagi kalangan seniman dan juga masyarakat umum untuk lebih memahami kesenian secara kritis.

Read more/Selengkapnya...

26 Juni 2008

Mashuri, Wayang and The Present

Name : Musthafa Amin
ID : 04320081
Class : Translation

MASHURI, WAYANG, AND THE PRESENT
Wednesday, 14 March 2007 | 04:34 PM

TEMPO Interactive, Jakarta: ...I’m your son. You gave me tha name Wisranama and I were titled as Danapati also-known-as Danaraja when ruled Praja Lokapala to displace you. I still didn’t understand as far as your love to me. My memory still headed for living tragedy you ever created and burn all of myself and my hopes. Unfortunately, everything has so glorious beginning…

Thus, this is the preface of novel Hubbu by Mashuri, age 31, that won novel competition which was held by Jakarta Artistry Council (well-known as DKJ) 2006. His work outdone other 248 manuscripts and he entitled to gain prominent prize as big as 20 millions.

The novel, as the author/writer thought, mixed together the element of Wayang with the present time. “The element which is mixed together is interesting,” said Mashuri that delighted to integrate surrealism, Sufism, and language efficiency in his poem and roman.

Hubbu was originated from Arabic that mean love. This novel told about the journey of Jarot’s life, the pseudonym of character namely Abdulah Sattar. This is story about the background of his family life, love story with his obsession, and inner conflict of his adolescent that made him more contemptible in the world. Then, he left his past and came up from being buried.

Mashuri early admitted to entitle his novel Mahabbah. “But it was adhered with Rabiah Adawiyah, female Sufi from Basra, Iraq. I looked for the root, Hubbu because this novel intended to discover the relationship of love, affection and sexual desire,” said Mashuri who go through postgraduate title. The narration of this novel was gone through over all sorts of point of views and various narrative styles from figurative narration upon Jarot, completed with its perspective.

How do you deliver this novel? Mashuri metaphorically allegorized the creative process of this work resembled to someone pregnant with. He didn’t prepare this work specifically for the competition. “I just look for another shapes of disclosure or expression to compose literature,” said him that admired Sapardi Djoko Damono and Goenawan Moehammad.

Prose and poem was considered to have overbalance and weakness in accommodating inspirations. Poem also coloured this novel. “This is because I go off from poem/because I am originally poet,” said him who’s his singular poetic anthology, Jawadwipa 3003 was read in Faculty of Letters of Airlangga University with theatrical performance, musical instruments and discussion.

Many Mashuri’s companions considered the novel as Mashuri’s biography because there was a story of student of Indonesian literature of Airlangga University and it had a background of pesantren/Islamic cottage. “I try to avoid the identification that can destruct the wealth of interpretation. This is a fiction though it has a place to stand on,” said alumni of Salafiyah Islamic Cottage Raudlatul Muta’allimin and Islamic Cottage of Ta’sisut Taqwa Galang Lamongan.

Before writing a novel, Mashuri was productive in writing poems, essay, and few short stories that was publicized in some mass media and anthology books. He was also active to write such poems in Javanese (guritan). Now, he is arranging an ambitious novel, Reinterpreting Centini. For Mashuri, writing was an activity that he believed that it made him become accustomed to play with such words and sentences. “I make poem everyday as testimony of life and livelihood,” said Mashuri that acknowledged borrowing this term from senior poet, Herry from Lamongan.

He did the work of composing literary among his job as newspaper journalist of Memorandum, Surabaya. “Writing is to fill up the life while being journalist is to continue the life,” said ex-caretaker of column Ngaji Sastra in daily newspaper Duta Masyarakat.

From all of woks he ever made such as poems or novels, the topic that he paid attention was always about sex, love, tradition, and flashback of the past and the present day. “Inside it there is betrayal, secret, and taboo.”
EVIETA FADJAR



Teks Asli dari Tempo Interaktif
MASHURI, WAYANG, DAN KEKINIAN
Rabu, 14 Maret 2007 | 16:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: ...Aku putramu, yang kau beri nama Wisrawana dan bergelar Danapati alias Danaraja ketika memerintah Praja Lokapala menggantikanmu, tak juga mengerti, sampai di mana kasihmu kepadaku. Ingatanku masih terpatri pada tragedi hidup yang pernah kau sulut dan membakar seluruh diri dan harapanku. Sayang, segalanya bermula begitu indah...

Demikian kalimat pendahuluan dari novel Hubbu karya Mashuri, 31 tahun, yang memenangi Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Karya itu mengungguli 248 naskah lain dan berhak memperoleh hadiah utama Rp 20 juta.

Novel itu, menurut penulisnya, mencampur unsur wayang dengan kekinian. "Unsur yang dicampur aduk itu menarik," ungkap Mashuri, yang gemar memadukan surealis, sufi, dan pendayagunaan bahasa dalam karya puisi dan romannya.

Hubbu berasal dari bahasa Arab, yang berarti cinta. Novel ini berkisah tentang perjalanan hidup Jarot, nama panggilan tokoh Abdullah Sattar. Ini kisah tentang latar belakang keluarga, kisah cinta dengan obsesi-obsesinya, dan konflik batin masa remaja sehingga membuatnya merasa paling hina di dunia. Lalu ia memenggal masa lalu dan bangkit dari keterpurukan.

Mashuri mengaku awalnya ia ingin memberi judul Mahabbah. "Tapi kata itu lekat pada sosok Rabiah Adawiyah, sufi perempuan dari Basra, Irak. Saya mencari akar katanya, Hubbu. Sebab, novel ini hendak menggali hubungan cinta, kasih, dan berahi," ucap Mashuri, yang sedang menempuh pascasarjana itu.

Pengisahan novel ditempuh dalam berbagai sudut pandang dan gaya penceritaan beragam dari penuturan tokoh terhadap Jarot, lengkap dengan perspektifnya. Bagaimana melahirkan novel ini? Dengan kiasan, Mashuri mengibaratkan proses kreatif karya ini mirip orang mengandung. Ia tidak mempersiapkan karya ini khusus untuk sayembara. "Saya hanya mencari bentuk lain pengungkapan atau ekspresi bersastra," ujar pengagum Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad ini.

Prosa dan puisi dianggap punya kelebihan dan kelemahan dalam menampung aspirasi. Puisi juga mewarnai novel ini. "Karena saya berangkat dari puisi," kata pria yang antologi puisi tunggalnya, Jawadwipa 3003, dibacakan di Fakultas Sastra Universitas Airlangga dengan teatrikalisasi, musikalisasi, dan diskusi.

Banyak rekan Mashuri menganggap novel itu adalah biografi Mashuri. Sebab, ada kisah mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga dan berlatar belakang pesantren. "Saya berusaha menghindari identifikasi yang bisa membunuh kekayaan tafsir tersebut. Ini fiksi kendati ada pijakannya," kata jebolan pondok pesantren Salafiyah Raudlatul Muta’allimin dan pondok pesantren Ta'sisut Taqwa Galang, Lamongan, itu.

Sebelum menulis novel, Mashuri sangat produktif menulis puisi, esai, dan sedikit cerpen, yang dipublikasikan di berbagai media cetak dan buku antologi. Ia juga aktif menulis puisi dalam bahasa Jawa (guritan). Kini ia sedang menyusun novel ambisius, Menafsir ulang Centini. Bagi Mashuri, menulis adalah aktivitas yang diyakini membuatnya terbiasa berselancar di atas kata dan kalimat. "Setiap hari saya bikin puisi. Sebagai kesaksian atas hidup dan kehidupan," kata Mashuri, yang mengakui meminjam istilah ini dari penyair senior Herry Lamongan.

Pekerjaan bersastra itu dilakukan di sela-sela pekerjaannya sebagai wartawan surat kabar Memorandum, Surabaya. "Menulis untuk mengisi hidup, sedangkan menjadi wartawan untuk menyambung hidup," ujar mantan pengasuh rubrik Ngaji Sastra harian Duta Masyarakat itu.

Dari semua karya yang pernah dia buat, seperti puisi atau novel, tema yang memancing perhatiannya selalu berkisar soal seks, cinta, tradisi, dan kilas balik masa lalu dan kini. "Di dalamnya ada pengkhianatan, rahasia, dan tabu."

EVIETA FADJAR 

Read more/Selengkapnya...

Dosa Sang Ayah: Romeo dan Juliet, Sebuah Kisah Pengorbanan Manusia

Oleh: Clifford Stetner

Alih Bahasa: Musthafa Amin (04320081)

Romeo dan Juliet merupakan contoh kisah cinta yang sempurna di kebudayaan barat. Bagaimanapun, dari pandangan yang cukup berbeda, kisah ini menjadi cerita inspiratif tentang dampak dari kebanggaan, kebencian dan peperangan. Kematian dua anak muda yang saling mencintai menampilkan keduanya sebagai hukuman dan pengorbanan—camkan setting tanah suci dan adanya tanda salib dan darah, seperti halnya masa muda si korban—yang menebus dosa ayah-ayah mereka. Kekuatan tragis pengorbanan yang sangat berharga ini mengalahkan perseteruan keluarga yang membenci satu sama lain dan paling tidak mempertimbangkan genjatan senjata sementara. Jika kita mengangkat topik tentang perang saudara, dan bukan potret tentang cinta ideal yang menjadi tema sentral Shakespeare, maka Montague dan Capulet adalah tokoh protagonis. Permusuhan mereka menentukan tahapan munculnya kejadian fatal yang akhirnya menghancurkan putera-puteri mereka. (Permusuhan mereka menjelma menjadi wajah bengis yang akhirnya menghancurkan putera-puteri mereka).

Kebencian antar tokoh senior Verona ditampilkan tanpa menjelaskan asal muasalnya dan langsung ditampilkan tanpa masuk akal (absurd) oleh istri-istri mereka dengan melarang mereka membunuh sesamanya, Lady Capulet yang mencegah suaminya, ‘Kruk, kruk (kayu penyangga)! Kenapa kamu meminta pedang?’ (1,i, 83). Hal ini juga ditampilkan serius oleh pangeran yang menetapkan hukuman mati karena berkelahi di jalanan Verona. Hal tersebut adalah kecongkakan ayah-ayah mereka yang keras kepala dan penolakan mereka untuk menyampingkan perbedaan mereka, bahkan kemudian penyebab perselisihan seperti dilupakan yang akhirnya berimbas kematian dua kekasih itu. Kesalahan karakter menjadi milik generasi paling tua, seperti halnya dalam tragedi puncak.

Perilaku ayah Romeo dan Juliet berkenaan dengan setiap perbedaan mereka secara jelas dibandingkan dengan perangai mereka pada keturunannya. Meski pengawasan Capulet pada puterinya menjadi sangat sering dalam satu adegan (3,v,142ff), kesungguhan cintanya pada sang puteri terus berlanjut. Ketulusan dan pengendalian dalam ucapannya, ketika mendapati puterinya meninggal di kamarnya menandakan kedalaman kasih sayang Capulet pada anaknya. (4,v,25ff).

Hal tersebut hanyalah bentuk ketulusan cinta seorang Capulet dan Montague pada anak-anaknya yang memanusiakan mereka dan menghindarkan mereka menjadi tokoh jenaka. Meskipun hanya perawat yang menceritakan kisah sentimentil penyapihan Juliet dan penurunannya sebagai seorang anak kecil (1,iii,11), gambaran ini memperkuat persepsi audiens tentang karakternya sebagai objek anak muda atas kasih sayang orang tua. Dalam segala hal, di samping kesungguhan cintanya pada Romeo, dia hanyalah seorang anak kecil dan anak yang tinggal dengan orang tuanya (1,ii,14).

Ketika Paris kali pertama meminta kesediaan Juliet, sangat jelas bahwa ayahnya—seperti pada banyak kasus tentang/yang sering terjadi pada anak perempuan di Eropa pertengahan (dan juga dalam periode romantisme kesusasteraan)—tidak melihat dia hanya sebagai upaya kemajuan sosial. Dia bahkan dia menyatakan bahwa dia lebih cenderung memberikan pilihan pada anak perempuannya yang berusia tiga belas tahun tentang masalah suami. Satu-satunya alasan dia pada kesungguhan sikap liberalnya ini dikarenakan kasih sayangnya pada puterinya.

Perhatian Montague pada kegundahan puteranya di permulaan babak (drama) pertama pun menunjukkan kelembutan yang tulus dari pihak ayah yang dia pertahankan sepenuhnya. Dengan membandingkan puteranya seperti ‘tunas yang digerogoti cacing yang cemburu/Kelak dia dapat menyebarkan dedaunannya yang indah ke udara,’ dia membela Benvolio muda, ‘Masih bisakah kita belajar dari mana duka citanya timbul/Kita akan dengan dengan sepenuh hati memberikan penyembuh yang kita ketahui’ (1,I,157).

Montague adalah sosok ayah yang melewati standar modern tentang sensitifitas orang tua. Tanggapan dia pada kerusuhan remaja puteranya mungkin berbeda dengan hubungan Henry IV dengan pangeran Hal. Bagian Pertama drama Henry IV dibuka dengan pangeran yang tengah mengalami tahap asusila yang parah. Keluhannya jauh berbeda dari Romeo, tetapi hal tersebut bukan karena kurangnya kedewasaan (sekalipun Hal mungkin lebih tua dari Romeo). Bagaimanapun, ayahnya melakukan pendekatan hubungan orang tua masa Elizabethan yang lebih konvensional, mengingatkan Hal akan tugas filialnya (sebagai seorang anak) dan memintanya dengan tegas agar dia berbuat baik dan berlaku benar (3,ii,4ff).

Barangkali masalah tanggung jawab masih sangat relevan/terkait bagi seorang ahli waris singgasana kerajaan daripada pasangan pemuda-pemuda Italia, dan hal ini sebagai alasan bahwa Raja fokus kepada serangan Hal pada dirinya dan reputasinya sendiri. Sementara Montague hanya prihatin terhadap kebahagian puteranya. Setidaknya, hal tersebut adalah tampaknya rasa kasih sayang Montague pada/hal tersebut adalah bukti seorang Montague begitu memanjakan Romeo yang membuat tragedi kematian Romeo lebih sebagai tragedi Montague daripada Romeo. Betapapun, simpulan sempurna seperti apakah yang bisa diharapkan seseorang dari cinta yang sempurna daripada untuk mengagungkan keabadian di sisi sesama? Hal tersebut adalah orang tua mereka yang hancur ditinggalkan dengan hilangnya segala tempat harapan mereka. (1,ii,14)

Mungkin Shakespeare, di balik perang saudara antara Montague dan Capulet, berniat menyajikannya sebagai latar belakang atas gambarannya tentang perjalanan tragis sebuah cinta yang ideal. Atau mungkin dia, di balik kematian dua anak muda, berniat menunjukkannya sebagai konsekuensi tragis dari kebencian yang tak kunjung usai. Dia sendiri adalah kedua pecinta tersebut yang menulis soneta, sekaligus seorang ayah dari anak muda dan dia mampu memaparkan kedukaan setiap tragedi. Barangkali dia paham tema lakon akan berubah ketika kita, sang audiens, bertambah dewasa, ketika kita menjadi kurang yakin bahwa gairah masa muda adalah akhir segalanya dan seluruh eksistensi (keberadaan), ketika kita tidak rela memaafkan Friar Lawrence yang melakukan penipuan pada orang tua Juliet.(4,v,33) Tetapi hal ini akan mengasumsikan bahwa dia menulis demi anak cucu daripada terpenuhinya persyaratan/kebutuhan tahapan Elizabethan. Hal ini ada kemungkinan bahwa dia telah memandang drama sebagai keutuhan organik, dengan tanpa kebencian orang tua pada orang tua, cinta orang tua pada sang anak, maupun cinta sang anak pada anak sebagai hal yang paling utama/tidak ada yang terdepan, baik itu kebencian antar orang tua, cinta orang tua pada sang anak maupun cinta antar sang anak. Seagung-agungnya emosi manusia, ia tidak pernah berlaku di ruang hampa.

Shakespeare, William.  ‘Romeo and Juliet.’  Five Tragedies.  Ed. C.H. Hereford. Arden Shakespeare.  London:  D.C. Heath, 1916.  v-235.

Teks ini adalah salah satu tugas kuliah Translation. Daripada nganggur ku-posting aja, semoga bermanfaat. jika ada terjemahan yang kurang mengena, silahkan dan saya harap koreksinya.

Naskah Aslinya di: http://phoenixandturtle.net/papers.html 

Read more/Selengkapnya...

Learning History by Fiction


 
Title : Rahasia Meede (Misteri Harta Karun VOC)
Writer : E. S. Ito
Editor : Hikmah
Publisher : I, Oktober 2007
Number of Pages : 675 Pages
Language : Indonesia

In the recent fiction world (likely novel, short story and poem), many authors indulged readers’ imagination to ask and to guess. But several author that was skilled to relate his story with glorious famous concept. For example, Dan Brown, the author of popular literary work The Da Vinci Code, was skilled to consugate his construction of story with the life of famous artist, Leonardo Da Vinci. Likewise, Matthew Pearl also wrote his work in relationship with the poet, Dante Alighieri (1265-1321), until he succeed his novel, The Dante Club as famous literary work in the world.

A novel, Rahasia Meede (Misteri Harta Karun VOC), by Es Ito was also based on what Dan Brown and Matthew Pearl had done their works. He presented his novel plot by way of history of trading cartel of Dutch, VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) from its beginning, its wealth and its bankruptcy, year 1799. The point of story in this novel told about the hunt of VOC treasure that was began by the arrival of mysterious man to hotel where Indonesian delegations lodged to attend the Round Table Conference (well-known as KMB) of 1949 in Den Haag.

Further, Indonesian negotiators had been confronted to difficult choices. Dutch presented section about the diversion of Dutch debt in the amount of 4, 3 billion gulden to Indonesia. Hatta, as one of Indonesian negotiator had compromised with kind of solutions, but other negotiators had no deal at all. Then, there was stranger gave a sheet of worn-out paper to one of delegation. “Ontvangen maar die onderhandeling. Indonesie heeft niets te verliezen!” (Accept the negotiation! Indonesia would not lose out!), spoke him confidentially.

It might be true what he said that Indonesia wouldn’t lose out anything because what stranger gave is secret document that contained the location of gold storage belonging to VOC. Unfortunately, the document was passed away, and it couldn’t be found in documental case of KMB that Indonesian delegation brought.

That was the fundamental problems of the story in this novel. But, the writer did not directly explain about the hunt of treasure that was buried during three centuries. Es Ito, in fact, exposed the story with chain murder cases that leaved some big questions. In more and less five months, there were five human corpses which were invented and they were identified as personages. They were Saleh Sukira (ulama) founded in Bukittinggi, Santoso Wanadjaya (entrepreneur) murdered in Brussels, Nursinta Tegarwati (member of House of Representatives—DPR) murdered in Bangka, JP Surono (bureaucrat) murdered in Boven Digoel and Nono Didaktika (researcher) murdered in Banda Besar.

Batu Noah Gultom, the reporter of newspaper Indonesiaraya suspected that this was not an ordinary murder. It was occurring five times in the city that was preceded by letter B (Bukittinggi, Brussels, Bangka, Boven Digoel, and Banda Besar). The strange thing was the crime scene was the town that Bung Hatta ever visited, so that, this murder referred to the famous public figure in Indonesia.

As one mystery was not revealed yet, the reader would be surprised with another mystery. Batu was made confused by the kidnapping of Cathleen Zwinckel, the student of Leiden University that was doing research about the history of colonial economy in Jakarta. Before being kidnapped, Prof. Huygens, as the advisor of Cathleen, entrusted her in private research institution, Central Strategic Affair (CSA).

The senior editor of Indonesiaraya, Parada Gultom, was also being nowhere. Batu almost confirmed that the power behind these incidents was a clandestine movement that was well-known as Anarki Nusantara (Archipelago Anarchy). Before these incidents happened, actually, the movement leaded by Attar Malaka was also chargeable to be the mastermind of armed attack and building destruction in northern Jakarta.

By this work, Es Ito freely took the readers to situation of old Batavia during the leadership of Governor, Cornelis J Spellman (1682) and the activity of Monsterverbond (secret alliance that controlled VOC). He also unexpectedly uncovered the invention of underground tunnel (De Ondergrondse Stad) in Museum of History of Jakarta (Museum Fatahillah). The tunnel was predicted to end in the depository of secret document about treasure of VOC which was lost since 1949.

Apparently, Batu Noah Gultom was not only ordinary reporter; he was agent of secret military service that infiltrated to Indonesiaraya in order to trace the hiding place of Attar Malaka, who had worked there before being fugitive. When Batu saved Cathleen from kidnapping, he was undercover as police namely Roni, whereas he was Batu August Mendrofa, a military secret agent with code name, Lalat Merah (Red Fly).

Actually, Batu already knew the man behind kidnapping of Parada Gultom. He was abducted by Darmoko, ex-military general that was the leader of Omega Operation intending to eliminate every henchman of Anarki Nusantara. Parada was being interrogated to dig up secret information about Attar Malaka’s involvement on armed attacking, destructing some building, chain murdering, and kidnapping Cathleen. So, we could find many conspiracies in the story.

ES Ito succeeded to frame the story’s complexity with history of old Batavia in detail. But is it true that the novel could be categorized as historical novel?

Though there was no clear definition about historical novel, according Damhuri Muhammad, at least this genre of novel (historical novel) could be identified as literary work that stood on past event. Then, the character, plot, and the ideas could be traced by historiography. When Ito’s work was approached by this point of view, it was not quite enough to say that this novel was historical novel because the author presented the fact of history as supporting plot such as KMB and the condition of VOC but actually the journey to find treasure and also the treasure itself was difficult to trace it by historiography.

So that, to say the novel was kind of historical novel, likely what opinion in cover said that this was kind of historical thriller novel (novel thriller sejarah) is not appropriate, this was only kind of combination between fiction and supporting fact.

Based on that the historical event as supporting thing, there were two choices for readers, story or history? Perhaps, it’s admittedly easier for us to build history’s awareness from kind of fiction though the real fact of history in this novel was only being supporting environment. Learning history by fiction was one thing that we could do when learning history from textbook was considered by many people as tiresome memorizing work in education.

Musthafa Amin. Student of English and Letters Department of Faculty of Humanity and Culture of Islamic State University of Malang.


Read more/Selengkapnya...

03 Mei 2008

Zinah




Gila, kau mau dirajam?!!!

Aku mengangguk pasti. Keputusanku sudah bulat. Alasanku bertanya pada Sahir, temanku dari Lamongan, hanya sebagai pemerkuat saja. Segala cerita keluh kesah yang aku sampaikan, hanya agar dia mengerti bahwa ia hanya sebagai pendengar setia. Aku tidak butuh dia menyarankan hal lain yang berseberangan denganku.

“Aku tidak tahan dengan ini, hir. Batinku melemah. Aku telah melanggar syariat. Sial!” gerutuku tak pasti. Menyesakkan, mengetahui bahwa aku melakukan zinah. Seumur-umur aku hidup, hanya dua perbuatan yang paling aku hindari dan tak ingin aku lakukan, mabuk dan zinah. Pengetahuan agamaku memang tidak begitu mendetail seperti kyai-kyai dan penceramah di televisi. Tetapi, bagi aku yang sejak kecil hingga lulus SMA hidup di lingkungan pedesaan, yang rimbun dengan kultur keagamaan, membuatku cukup mengerti mana hal yang halal dan haram, mana yang dosa kecil dan dosa besar.

“Tapi dari mana kamu tau kalau kamu benar-benar berzinah.” Lagi-lagi Sahir masih menyangsikan ceritaku. Ini kali ketiga Sahir menanyakan hal yang sama. Menurutku, sebenarnya ia ingin melarangku melaksanakan hukum rajam, tapi dia mengerti tabiatku. Jika seorang Hasanuddin sudah berucap dan menginginkan sesuatu, tak ada seorang pun sanggup menghalangi. Ucapan akan dibalas ucapan, bahkan meninggi. Tindakan pun dibalas tindakan.

“Ah, kau tidak tau rasanya menjadi aku. Sumpah, erangannya masih jelas kudengar. Basah kulitnya masih licin kurasa. Perempuan itu seolah pasrah kunikmati malam itu. Aku sendiri heran, aku tidak kuasa menolak untuk menindihnya. Orang macam apa aku ini hir.” Kurebahkan tubuhku di sofa. Mataku memejam. Ingin kutenggelamkan tubuhku dalam kelembutan sofa ini. Menghilangkan segalanya agar dosaku semakin tenggelam bersama keberadaan yang mengabur. Oh, sedimikian laknatkah aku di pandanganmu, Tuhan.

“Ingat-ingat lagi San, siapa tahu itu bayanganmu saja. Kau khan sendiri cerita, pagi kau terbangun, tak ada seorang pun di ranjangmu, yo opo sih.”

“Kau masih tidak percaya?”

“Ini bukan masalah percaya atau tidak. Di sini kota bung, meski kamu memang melakukannya, takkan ada yang mau merajammu. Paling banter, kamu akan disuruh tobat. Disuruh semakin mendekat pada Tuhan.”

“Tapi,” sangkalku.

“Kamu mbok ya ada-ada aja San, maen rajam saja, bisa melepuh kulitmu. Atau kau bisa mati. Apa kata orang jika kamu mati dirajam. Bukannya dihormarti, tapi malah diejek, dicaci. Urusan sekecil itu kok pingin mati, begitu anggapan orang-orang nantinya sama kamu.”

“Diam hir, kalau tidak mau membantu, gak usah berceramah di depanku. Berengsek kau!” Makiku kesal. Bukannya membantu, dia malah menganggap masalah ini kecil. Dia anggap apa Tuhan. Kalau hukuman zinah rajam, ya rajam. Tidak perlu diperkeruh dengan tawaran lain. Kubanting pintu rumahnya, sempat kudengar dia memaki-maki kotor ketika kumelangkah keluar. Ketakutanku pada azab zinah di akhirat membuatku enggan melayani umpatannya.

Sejuk sore ini kurasakan gerah. Polusi kendaraan dan bau-bau menyengat di kota ini semakin memperkeruh pikiran. Aku ingin pulang ke kamar. Mencoba cara lain agar bisa dihukum rajam. Bagaimanapun, aku harus menebus dosaku ini. Jika tidak, kelak aku tidak bisa menikmati indah sorga, mencicipi manis madunya, yang dijanjikan nabi, bercanda dengan bidadari cantik nan rupawan dan kenikmatan lainnya, seperti yang diajarkan guru-guru agama di pengajian kampung. “Yah, besok aku akan pergi ke tokoh agama di sini, mau tidak mau, besok aku sudah harus dirajam. Purna sudah gelisahku jika begitu. Daging ini menjadi lembek seperti daging babi, kujilat-jilat seperti anjing. Tulang-tulang ini, yang syahdan menciptakan Hawa, kupandang najis dan jijik. Berkali-kali aku menelan ludah. Sanggupkah aku melewatkan dua puluh empat jam ke depan. Bagaimana jika Izrail datang. Sanggupkah aku menolak kehendaknya sementara aku masih kotor?

Kring…Kring…Kring…

Telepon rumah berdering, mengagetkanku dalam tidur. “Ah, tengah malam seperti ini, gak ada kerjaan apa,”gerutuku. Segera kuangkat telepon itu dan kuserapahi dia karena menggangguku malam-malam.

“Mas, aku hamil”

“Hamil…ini siapa?”

“Ah, jangan sok lupa begitu. Waktu di hotel dulu, masak kamu gak ingat. Aku khan sudah bilang, pakai kondom. Tapi kamu sendiri bilang, jika ada apa-apa kamu bakal tanggung jawab.”

“Jangan ngaco kau!”

Kubanting telepon itu. Sialan, perempuan itu, tau dari mana nomorku. Seingatku, tak pernah kuberikan nomor rumahku pada siapapun, hanya pada teman kerja. Jangan sampai dia terus menghubungiku, apalagi menemuiku. Sial…urusan ini bukan privat lagi. Meski, aku dirajam percuma, dosaku masih melekat jika perempuan itu masih hidup dengan orok darahku. Segumpal awan hitam mengarak di kepalaku. Membenamkanku dalam gelisah. Tak bertuan, kemanusiaanku kini tiada arti. Di hadapan Tuhan, aku tidak berguna. Di muka manusia, wajahku mulai menyerupai anjing hitam kudisan. Dulu, aku begitu disayang, sebentar lagi akan dipandang najis dan jijik. Kepala-kepala orang yang tidak kukenal menyeruak awan gelap itu. Semuanya menertawakan kebodohanku. Semua wajahnya asing. Sebagian dengan anatomi wajah tak lengkap. Dengan ejek, seorang tanpa hidung dan telinga berseru, “San, kau itu goblok ya. Kenapa tidak kamu bilang iya, aku bertanggung jawab. Toh, dengan begitu pelacur itu akan bungkam. Perkara dia mencarimu, la wong dia tidak ngerti alamatmu. Goblok kamu. Hahaha,” beiringan wajah-wajah itu menertawai kebodohanku. Urusan dosa seperti ini, yang hanya dua belah pihak saja yang tahu, mengapa harus dihukum dan dipertontonkan di depan umum. Lebih baik meminta ampun saja. Tuhan khan maha pemaaf. Mereka menyerangku lewat makian dan cemoohan. Aku tak bisa mengelak. Aku kerdil. Waktu itu aku buntung, yang tersisa hanya kupingku, yang semakin memerah mendengar suara mereka. Ah….

Tubuhku bersimbah peluh, aku meringis dan beringsut dari tempat tidur. Untung hanya mimpi, meski sebenarnya bunga tidur ini begitu menyiksa laksana alam nyata. Bagaimana jika itu memang benar kenyataan: realitas yang kualami bersama kasur, bertelungkup bantal. Sial, mimpi itu ternyata masih mengejarku.

Sudah hampir subuh, pikirku setelah melihat jam dinding. Sela beberapa menit di kekalutanku di ranjang, suara adzan di musholla sebelah bergema nyaring. Heran, ajakannya aku rasakan ejekan. Lantunan pengakuan itu kudengar seperti menegaskan bahwa apa yang aku perbuat patut mendapatkan hukuman.

”Dan janganlah kamu mendekati zina”
“Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji.
“Dan suatu jalan yang buruk” 1

Arrghhhh….aku berteriak mendekati kematian. Aku ketakutan setengah mati. Dinding-dinding mulai bersuara. Awalnya sudut-sudutnya saling berbisik. Selanjutnya mereka semua tertawa, menyaksikan aku yang mulai kehilang kesadaran. Nyaring sekali mereka menertawakanku. Aku harus melakukannya sekarang, tegasku. Tidak ada waktu lagi sebelum aku gila. Waras saja aku kewalahan menunaikan tuntutan ini, apalagi gila. Aku harus…harus…melaksanakannya. Sekarang…

Perumahan di sudut kota Malang, hari itu geger. Seorang pengusaha tewas mengenaskan di depan rumhanya. Tubuhnya tergeletak bersimbah darah di jalan kecil perumahan. Punggungnya penuh dengan deraan yang mirip dengan sayatan-sayatan pedang. Tangan kanannya menggenggam buku agama. Di depannya, batu-batu yang dia kumpulkan masih utuh, tidak berserakan. Sepertinya Hasanuddin baru sadar, dia belum menikah. Masih perawan sehingga dia tidak perlu melakukan rajam, cukup dengan lima puluh cambukan. Atau barangkali dia sudah tahu, sehingga dia ingin melakukan semuanya, dirajam, dicambuk dan dilihat banyak orang. Tidak ada yang tahu peristiwa itu dengan sebenarnya. Masyarakat hanya menduga, Hasanuddin kembali gila. Memang, jauh sebelum dia jadi pengusaha sukses, dia pernah gila. Sering mengamuk-ngamuk di lingkungannya. Kadang, dia melempari masyarakat yang sedang berjudi di perumahan itu. Memukuli orang-orang yang mabuk-mabukan di pinggir warung. Namun setelah dia dirawat di RSJ kota sebelah, dia berangsur-angsur pulih. Sekembalinya, dia mulai ramah kepada penduduk, selalu mengajak mereka melakukan hal-hal baik. Usahanya pun mulai berkembang dan menjadi salah satu pengusaha sukses dan terkenal. Bersama Sahir, seorang koleganya dan juga sahabat, keduanya berhasil meningkatkan perkembangan usahanya.

Tidak ada rintik hujan yang menemani kepergian Hasanuddin pagi itu. Di musin penghujan ini, di ceruk-ceruk jalan berlobang diperumahan tidak nampak kubangan-kubangan air hujan. Hanya di depan rumah Hasanuddin yang jalannya tergenang, dipenuhi darah yang merembes segar dari punggungnya. Darahnya bercecer dari dalam rumah. Warga banyak yang tahu kematiannya ketika diteriaki petugas musholla. Di balik adzan yang bertalu subuh tadi, hanya dialah yang menghuni musholla di pinggir rumah Hasanuddin. Mendengar teriakan dan raungan Hasanuddin, dia bergegas mencarinya. Dengan sekumpulan kerikil-kerikil tajam dibungkus plastik hitam dia berseru ke petugas musholla itu, “Rajam aku, rajam aku, bangunkan warga, bangunkan warga”. Setelah itu dia menggelepar laiknya ayam sembelihan. Petugas musholla itu hanya tercekat diam. Serentak kemudian dia berlari dan membangunkan semua warga. Kerumunan warga seketika mengitari Hasanuddin. Namun dia sudah tak bernyawa dan membujur kaku dengan buku agama yang masih dia genggam erat.

Tidak ada kata zinah di media hari itu. Semuanya tertulis dengan jelas dengan menyatakan berita pengusaha yang bunuh diri karena gila. Kejadian yang sebenarnya, upaya penghukuman diri karena zinah tidak terbeber di paragraf demi paragraf. Rahasia itu terkunci rapat di permukaan jalan, lokasi kematian Hasanuddin. Warga pun demikian, cibiran dan kesinisan menyertai kepergian Hasanuddin ke alam lain. Seorang gila pantas mati agar tidak menularkan kegilaan pada orang lain.

Sahir hanya termangu melihat tubuh sahabatnya yang ditutupi kain kafan. Dia turut menyertai penguburan Hasannudin yang hanya ditemani segelintir orang dan petugas musholla itu yang menjadi pembaca talqin. Pikirannya menerawang, mengembara ke masa lalu. Malam itu, di hotel dia menyaksikan sendiri ketika Hasanuddin menolak menerima pelacur yang disediakan panitia kongres pengusaha kala itu. Dia menolak mentah-mentah dan mengunci pintu kamarnya. Sementara Sahir menerima suka rela suguhan pelacur yang disediakan. Ditambah pelacur untuk Hasanuddin yang dia gunakan juga. Di sela-sela kenikmatan tidak terkira, dia sempat dengarkan teriakan Hasanuddin yang bertempat di samping kamarnya. Teriakan yang jelas bercampur igauan.

Langit masih cerah dan awan-awan bearak beriringan. Harapan Sahir agar hujan membasahi pekarangan terakhir kandas seiring petugas musholla itu menyelesaikan talqin dan balutan tubuh Hasanuddin mulai tertutup tanah sejengkal demi jengkal. Sementara langit tidak pernah bergelayut mendung hingga petang. Kota malang memungkasi hari itu dengan taburan aroma kematian yang berbau sangit dan penuh kejanggalan.

Malang, 18 April 2008

Catatan
Al-Qur’an Surat Al-Israa Ayat 32

Read more/Selengkapnya...

12 April 2008

Warisan dari Guru Kehidupan




Judul: Penjelasan Sejarah (Historical Explanation)
Penulis: Kuntowijoyo
Penerbit: Tiara Wacana Jogjakarta
Cetakan: I, Februari 2008
Tebal: 179 Halaman

Sejarah sering diwarnai oleh persoalan bagaimana laiknya sejarah itu dibaca dan dipahami, termasuk pula pada persoalan data, perbedaan cara penafsiran, dan variasi metode dalam pengajaran sejarah. Tak heran bila di kalangan sejarawan Yunani Kuno, ada pepatah yang mengatakan "sejarah adalah guru kehidupan".

Tokoh eksistensialis sekaliber Nietzsche pernah pula membincangkan signifikansi sejarah bagi kehidupan manusia. Kendati dengan mengkonsumsi sejarah terlalu banyak, tulis Nietzsche, bisa menyebabkan gejala historische krankheit (sakit sejarah). Nietzsche berusaha menyinambungkan sisi historis dan non-historis dalam kehidupan manusia. Ada dua kesadaran sejarah yang harus dilakukan untuk hidup yang lebih baik, kesadaran atas peristiwa masa silam dan kesadaran yang dibangun dengan melupakannya (Sunardi, 2003).

Maka atas dasar pemikiran itulah, dalam dunia disiplin sejarah, kita berutang budi kepada almarhum Kuntowijoyo (1943-2005). Dua buku mengenai sejarah karya beliau sebelumnya, Pengantar Ilmu Sejarah (1995) dan Metodologi Sejarah (1994), menempatkan beliau sebagai tokoh pengembang dalam pendekatan memahami sejarah.

Kini kembali hadir buku karya Kuntowijoyo. Buku ini terbit selang tiga tahun beliau meninggal. Bersama dua buku pendahulunya, buku Penjelasan Sejarah ini merupakan paripurna dan kesatuan karya, suatu trilogi penjelasan almarhum tentang ilmu sejarah. Buku ini pada dasarnya, merupakan pembahasan lebih lanjut dari buku Metodologi Sejarah. Jika pada buku Metodologi Sejarah Kuntowijoyo lebih menekankan pada segi pembicaraan yang berhubungan dengan kerangka berpikir konseptual, pendekatan, sumber-sumber sejarah, jenis kajian sejarah, maka di buku ini, pembahasan Kuntowijoyo lebih berpusat pada aspek teori sejarah, yaitu historical explanation theory (teori penjelasan sejarah).

Kuntowijoyo melakukan review kritis atas karya sejarawan dunia. Terhitung ada kurang lebih 60 sumber bacaan, dari penulis dalam negeri dan luar negeri, yang dikaji guna menjelaskan delapan tema sub bab bahasan paska menguraikan hakikat sejarah di bab pertama.

Ada sembilan bab yang disusun oleh Kuntowijoyo di buku Pendekatan Sejarah, yaitu (1) Penjelasan Sejarah, (2) Periodisasi, (3) Kausalitas, (4) Analisis Struktural, (5) Paralelisme, (6) Generalisasi Sejarah, (7) Sejarah dan Teori Sosial, (8) Kuantifikasi, dan (9) Sejarah Naratif. Jika didasarkan pada jumlah sumber bacaan pada tiap bab, Kuntowijoyo setidaknya menggunakan paling banyak 11 sumber bacaan untuk satu tema (bab kausalitas) dan paling sedikit adalah bab kuantifikasi dan bab sejarah naratif dengan 5 sumber bacaan per bab (hal. vii).

Bukti kecermatan Kuntowijoyo atas kekayaan data di buku ini, bisa dilihat dari tokoh-tokoh yang menjadi bahan review beliau untuk menjelaskan sejarah. Nama-nama sekaliber Clifford Geertz, Takashi Shiraishi, Benedict R OG Anderson, Sartono Kartodirdjo, Parakriti T Simbolon, dan Djoko Suryo menjadi sumber review untuk menjelaskan sejarah secara teoretis dan aplikatif.

Sebagai review pada bermacam karya, Kuntowijoyo memaparkan dengan ajeg dimensi teoretis dan metodologis. Penyair, Sejarawan, dan Cerpenis ini menguraikan pokok-pokok sejarah dengan ciamik dan sederhana. Secara implisit, Kuntowijoyo sanggup meracik mesra hakikat penjelasan sejarah yang diperbincang-debatkan selama tiga dekade pada abad XX oleh kaum positivis dan kaum idealis.

Inilah sebuah penuntasan karya seorang Kuntowijoyo tentang sejarah. Peninggalan sejarah yang sangat bermakna untuk masa depan. [Musthafa Amin, mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris UIN Malang]

Sempat di Muat di Koran Suara Pembaruan edisi Minggu, 06 April 2008
URL: http://www.suarapembaruan.com/News/2008/04/06/Buku/buku02.htm

Thanks untuk Mas Ali Usman

Read more/Selengkapnya...

05 April 2008

Kisah Hamil Perempuan

Sore itu, tanpa mengeluh, perempuan bermata lembut itu memandang kandungannya dengan penuh kasih sayang. Dibelainya perut buncitnya dengan lembut. Matanya nanar melihat hamparan pasir yang menjulang luas di hadapannya. Debu bergulung-gulung, menjejaki pasir bagai timbunan-timbunan berombak. Kematian suaminya sewaktu berdagang ke Syiria, masih membuatnya trauma. Wajah suaminya yang rupawan masih membekas di pikirannya. Tiupan angin disertai lantunan pasir beterbangan masih segar memperlihatkan wajah sang suami ketika berpamitan. Kepergian itu menjadi tragedi. Dia sakit dan meninggal. Pupus sudah harapan mengasuh anaknya bersama. Mengajari buah hatinya beribadah kepada Latta dan Uzza dan menjadi abdi Ka'bah yang setia. Dengan sesunggukan, dia merasakan gerakan-gerakan dari cabang bayinya. “Ah, kau takkan merasakan kehangatan seorang ayah, anakku,” pikirnya miris. 

Perempuan bermata lentik masih terus memikirkan nasib anaknya, beban pikirannya semakin menumpuk. Bagaikan badai pasir, persoalan-persoalan itu muncul laiknya titik pasir yang bergerombol menyerang. Kabilah yang tiada kekuatan, tentu menjemput ajal dengan nafas pasir merendam. Kehilangan suami bukanlah satu-satunya masalah. Ia masih khawatir janin yang dia kandung berkelamin perempuan. Dia sendiri heran, kenapa dirinya masih selamat kala bayi dulu. Dia hanya beranggapan, sebagai keturunan langsung bani Zuhra yang menyelamatkan waktu itu atau barangkali kedua orang tuanya masih hidup saat melahirkannya. Entah. Hingga kini, kakak-kakak iparnya masih begitu taat dengan simbolisme tradisi itu. Wanita adalah aib, tidak berguna dan lemah. Melahirkan perempuan adalah melahirkan sampah. Ketimbang mengotori rumah, lebih baik dipenggal dan dikuburkan dalam-dalam di tanah. Kini, dia hanya mengharap anaknya adalah laki-laki, semoga bukan perempuan. Siapakah yang melindungiku jika ia berkelamin sama dengannya, sementara suaminya tiada.



Malam itu entah semakin menghitam. Sedikit bintang bertebaran menjadi tenggelam dilahap kekuasaan gelap malam. Jibril baru saja pergi. Dengan sayap agungnya, sekali kepak, dia menghilang. Tak nampak di permukaan, seperti bersembunyi di balik bintang yang sesekali mengerdip. Perempuan itu masih tertegun. Dia masih belum percaya kejadian sepersekian menit itu. Percakapan dengan Jibril masih lekat di benaknya, “Sesungguhnya Allah telah memilihmu dan mensucikanmu dan memilih kamu melebihi perempuan-perempuan di dunia.(1)”



“Benarkah ini seperti yang Dia ucapkan. Amanah apa yang akan ditimpakan padaku, seorang putera?” Tanyanya dalam hati, tidak sabar.



“Tidakkah kau ingat kisah ayah angkatmu sendiri?” ucap Jibril. Wajahnya tanpa ekspresi. Tenang.



Diam. Seketika kamar itu terbungkam. Suara-suara malam sejenak berhenti berhilir mudik di luar rumah. Ayah angkatnya, di saat umurnya mencapai satu abad, setelah menunggu lama, akhirnya memperoleh keturunan. Sungguh mengherankan dan tidak masuk akal. Di umur tua, saat sistem reproduksi mulai melemah, ibu angkatnya hamil dan memberikannya saudara angkat. Sekarang, dia akan dipinta melakukan hal yang sama. Namun, sungguh kali ini berbeda. Janin siapa yang akan kukandung? Memang, sungguh aku damba memiliki buah hati yang akan kujaga setiap hari. Melihatnya tumbuh besar. Bermain dengan kawanan kecilnya. Memandangnya menangis ketika tidak bisa memanjat pohon kurma dengan baik. Ah, tangisannya merupakan kebahagiaan tersendiri. Tetapi mungkinkah?”

Semakin lama, kandungannya semakin membesar. Tinggal menunggu hari hingga ketubannya pecah. Perempuan itu semakin gelisah. Khawatir, terjadi apa-apa dengan kandungannya. Bayangan-bayangan masa lampau dan keluarganya menekannya. Kadang-kadang, amanah ini begitu berat ia emban. Jikalau untuk dirinya sendiri, barangkali dia masih mampu bersabar. Namun faktor keluarga dan masyarakat sungguh memusingkan dia. Harapan dan kekhawatiran dibunuh masih memberatkan.

Di sela kebingungannya, dia pun mengambil keputusan. Malam itu, kala manusia lelap dalam hening kegelapan, dia menyingkir ke tempat yang jauh. Ia hanya ingin anaknya lahir dengan selamat.

Beberapa hari kemudian, di sisi batang pohon kurma, perempuan itu menjerit hebat. Suaranya ditelan kekosongan dan bersemai dengan gema. Rasa sakit menjulur hebat dari sekujur tubuh. Dia menggetar hebat, menggelinjang dengan peluh berurai. Sumbernya berasal dari perutnya, tetapi sakitnya terasa ke seluruh tubuh. Kaku. “Aduhai, sekiranya aku mati sebelum ini, jadilah aku barang yang dilupakan sama sekali (2),” pekiknya pelan. Keheningan malam itu kembali pecah. Namun bukan jeritan, namun tangisan bayi. Sang bayi bergerak-gerak di samping ibunya. Sang ibu tak kuasa berkata. Rasa syukur dia panjatkan lewat senyuman.

“Laki-laki tampan.”

Benar, maha kasih tuhan, puteramu mirip dengan ayahmu. Nanti dia bakal menjadi pemuda tegap dan berparas tampan.”

“Aku sepakat denganmu paman.”

Di pinggir sandarannya, perempuan berbulu mata lentik itu menatap sang putera dengan penuh cinta. Habis sudah segala kekuatirannya. “Dia pria suamiku. Dia mirip denganmu. Hidung mancung, rambut hitam dan mata yang tajam menawan. Tentu khan banyak wanita tergoda. Coba kau masih di sini, menemaniku menimang dia.”Gegap gempita keluarga itu merayakan kelahiran seorang putera. Sang kakak ipar sendiri merayakannya dengan memotong beberapa ekor kambing. Penuh syukur dia mencium dahi sang anak dari saudaranya. Entah, apa yang akan dia lakukan dan semestinya dia rayakan jika saja keponakannya adalah perempuan.

“Kuberi nama engkau Isa, wahai calon pmimpin bangsa Israel.”

Nama yang diberikan cukup mencengangkan khalayak. Karena nama tersebut belum lazim digunakan oleh bangsa arab apalagi di bani mereka. Sang kakek hanya tersenyum penuh harap ketika melihat cucunya. Pikirannya seperti menduga, dia mempunyai keturunan yang luar biasa dan akan dikenang sepanjang masa.

Keramaian pesta itu berpuluh-puluh tahun kemudian akan menjelma menjadi pertikaian. Keakraban itu beralih menjadi permusuhan saat keyakinan mulai berbeda. Sementara diamnya bayi malam itu karena jejak kaki ibunya yang memancarkan air kehidupan, sanggup menghempaskan dahaganya. Kelak, dia akan difitnah, dipancung, disalib dengan luka penuh simbol di balik wajah pengikutnya.

(1)Al-Qur’an Surat 03 Ayat 41.

(2) Sepenggal ayat 22-23 Qur'an Surat 19

 

Read more/Selengkapnya...

08 Maret 2008

JEJAK KELAS



Dulu, Karl Marx berbicara tentang dualisme kaum Proletar dan Borjuis. Pertentangan yang hingga kini masih hangat diperbincangkan. Dua kubu kelas yang saling bertentangan tersebut saling bertarung merebut dominasi. Lumrahnya, Proletar selalu dikenal dengan sang Tertindas dan Borjuis adalah sang penindas, dengan bekal modalnya.

Marxisme mengalir. Membuncah di permukaan. Berlanjut kemudian, paham-paham baru bermunculan sebagai pelanjut, pemelihara, pengembang dan penolak tesis tokoh bercambang lebat tersebut.

Jauh sebelum itu, dalam Buddhisme telah lama berkutat dengan jeda kelas bernama kasta. Empat kasta itu adalah representasi sosial masyarakat. Ujung-ujungnya sama, dominasi sang kelas atas.

Aforisme “Liar”, yang kuat yang menang, bagi kebanyakan orang selalu identik dengan perilaku binatang. Siapa yang mendominasi, menguasai hutan. Laiknya dunia binatang, manusia pun begitu. Penguasa selalu menindas meski dengan dalih berbeda, kebijakan, regulasi, perintah, hingga eksekusi. Walaupun aforisme itu merujuk pada binatang, toh pada kenyataannya, lebih sesuai dengan perangai manusia.

Singa adalah Raja Hutan. Dialah sang penguasa dunia liar itu. Tetapi ada yang mencurigakan. Mengapa bukan manusia yang disebut Raja Diraja Hutan, padahal jika manusia berada di sana, tentu dia lah yang paling berkuasa. Meskipun, tidak ada jaminan, kawasan yang ditinggali manusia adalah belantara hutan yang lebih luas, berbelukar, penuh duri dan jebakan alam. Ah, manusia memang pintar mencari alasan dan menggelarkannya di leher orang lain.

Cukup tentang itu.

Soekarno, bereksperimen dengan Demokrasi Terpimpinnya. Beliau dengan keras menolak, teori pemerintahannya ini memindai asli eksperimen Lenin dan Stalin. Masyarakat Indonesia majemuk, dan tidak hanya bisa dikategorikan dengan dua kelas saja. Sehingga dia tetap bersikukuh model demokrasi yang dia rancang murni dan bersih dari nilai komunisme barat. Itu Soekarno, yang meracik bumbu komunismenya sendiri. Dia pun tidak melupakan ada kelas lain dalam Indonesia yang juga perlu dijadikan ancang-ancang peletakan konsep. Kaum agamis, itulah salah satu pondasi Soekarno.

(Intermezo)

Sayang. Kita begitu menyanjung kebebasan. Kita mengangungkan demokrasi. Tapi kita larut dalam serangan halus Kelas. Perbudakan, dominasi fisik, dominasi Jender, bisa disebut usang jika berkaca pada tumpukan referensi yang membukukan itu. Penolakan liberalisme, kapitalisme dan materialisme juga begitu, masih muncul dengan sinismenya yang telah berumur ribuan tahun.

Dari kesemua hal tidak berguna yang aku kemukan, aku pikir aku terlalu jauh memikirkan hal itu. Aku hidup di kawasan feodal. Kawasan yang menurutku, lahan subur penindasan dan dominasi. Bagi sebagian orang, kehidupan pesantren tidak berguna. Perhormatan pada kyai itu omong kosong. Merendahkan sekali mencium tangan orang lain.
Ah, itu kata orang yang tidak pernah merasakan kehangatan. Sisi feodalisme kyai dan pesantren itu hanya bumbu. Sebuah pelengkap dari kehidupan sebenarnya. Kenikmatan paling sempurna dari hidup adalah menikmati keadaan tertindas. Senang dalam dominasi. Tunduk pada jejak kaki di atas kepala kita. Menikmatinya bagi beberapa orang adalah pelecehan, perendahan martabat. Padahal hal ini lebih nikmat daripada tertindas tetapi tidak mengetahui. Bersipongah berkuasa padahal tunduk pada dominasi kasat mata.

Nikmati Hidup, itu saja!

Catatan Tak Berguna. Delete Saja!!!


Read more/Selengkapnya...

02 Maret 2008

Sajak Sastrawan Jerman


You who never arrived

You who never arrived
in my arms, Beloved, who were lost
from the start
I don't even know what songs
would please you. I have given up trying
to recognize you in the surging wave of the next
moment. All the immense
images in me--the far-off, deeply-felt landscape,
cities, towers, and bridges, and un-
suspected turns in the path,
and those powerful lands that were once
pulsing with the life of the gods--
all rise within me to mean
you, who forever elude me.

You, Beloved, who are all
the gardens I have ever gazed at,
longing. An open window
in a country house--, and you almost
stepped out, pensive, to meet me. Streets that I chanced upon,--
you had just walked down them and vanished.
And sometimes, in a shop, the mirrors
were still dizzy with your presence and, startled, gave back
my too-sudden image. Who knows? perhaps the same
bird echoed through both of us
yesterday, separate, in the evening...

Rainer Maria Rilke

Review seorang Cindira Montoya



You who never arrived...a review on rilke's situation

the mirror game,the seek for god or the other is a constant in rilke's work.Me the far off is also a synonym to God,and to Rodin too,whom rilke thought as his friend,his other.

I am the seeker,and there is no place to be found,to be passive in the sence of becoming someone else's object.

This who never arrived,could be the beloved,or the hidden being,the waiting that reminds me of myself.

The passive voice in rilke is an imagination of the self in the place of his desire,and this what I am the far off that is also out of seek,is the one that departed,from the inner point,to a deeper inner point,to the space where everything is only a desire,a path to,the sign of an interseccion between what is and what is longed.

He said,"they are like the wind that passes through the branches and say my tree."

this sentence,in which rilke becomes god's friend,a,consolation for the being that is lost and sad in his omniscient existence,there,rilke places himself,and shares that isolation of the one who knows.

Rilke too,passes by,and has no shelter but the mob that grieves,and this impossition of solitude is the reaction against the possibility of being found.

What other thing could one love,but the idea of someone that exists but is unseen,that does not appear and eventhough could be near,could be echoing btween the walls that surround us,or filling with steps the path that we walk down every day.

Not an abitious desire,but a close and intimate recognition that my situation is not beyond myself,but inside of what emerges from the near.

And desperation appears when this what is so near though sepparate,is given up and one surrenders to reality.


Cindira Montoya 1997-1999

Digobang dari situs: http://thecry.com/poetry/index.html

Read more/Selengkapnya...

22 Februari 2008

Berbagi Info Ebooks (1)

Sudah lama kulupakan tentang nilai. IPku kembali mengingatkan aku. Sialan banget. Tapi, lumayan lah, aku dapat IP 2,64. sedikit lebih baik dari IP semester kemaren, 1,98. Dari sekian banyak temen angkatanku yang tidak lulus mata kuliah Research on Linguistic (mata kuliah pokok sebagai prasyarat mengajukan judul skripsi), aku termasuk beruntung bisa lulus dengan nilai kebanggaan C+. Kebanyakan dapat nilai segitu. Yang mendapatkan nilai A dan B, bisa dihitung dengan jemari satu tangan.

Kali ini aku ingin berbagi info ebooks atau biasa dikenal dengan buku digital. Laiknya buku cetak yang berseliweran di toko-toko bekas murah kelas wahid (semacam shopping di Jogja dan Pasar Sriwijaya dan Wilis di Malang), kita bisa mendapatkan buku digital di beberapa situs di internet. Gratis.

Kadang, di beberapa situs, medapatkan buku gratis tidak mudah. Kadang masih perlu registrasi. Meski gratis, bagi para pengunjung, tentu masih merepotkan. Apalagi banyak situs, ujung-ujungnya tetap uang. Kalaupun registrasinya gratis, seringkali pungutan berada di akhir perkara, ketika kita akan mulai mengunduh data.

Selama perselancaranku di dunia maya jaringan internasional ini, kupaparkan beberapa situs yang cukup menarik untuk dikulik dan “dicuri” bukunya. Hehe

1. http://gutenberg.org

Di sini kita bisa mendapatkan ragam buku-buku asing dengan keragaman yang cukupan. Di sini, kita bisa mendapatkan buku dalam berbagai format, pdb, html, pdf dan teks. Kategori pun lumayan banyak, mulai seni, arsitektur, filsafat, kebahasaan, kesusasteraan, psikologi dan lain-lain (maaf, ingatanku tidak cukup tinggi untuk menyebutkannya satu persatu. Cukup mudah, tanpa registrasi. Catatan: tidak ada buku bahasa Indonesia di sini.

2. http://2020ok.com
Hampir sama dengan Gutenberg.com.

3. http://archive.org
Ini dia yang layak untuk diperhitungkan. Buku-buku digital disortir dari beberapa perpustakaan universitas ternama di Barat. Data buku dibentuk dalam format, pdf, teks, FTP dan lainnya (bingung gue).
Catatan: buku yang berbentuk PDF, disusun dari format gambar buku aslinya.

Ini masih belum seberapa dengan banyaknya situs buku digital gratis yang ada di dunia. Cukup ketikkan free download ebooks di mesin pencari, akan anda temukan ribuan situs yang menyediakan buku-buku digital gratis dengan segala persyaratannya.

Walau lagi-lagi, saya bingung, bagaimana cara mengutip data dari buku digital ini, apakah serupa dengan mengutip buku-buku cetak kebanyakan atau mengutipnya berdasarkan sistem referensi yang mengacu pada data internet online. Kalau ada yang mempunyai jawaban harap hubungi saya.

Read more/Selengkapnya...

28 Januari 2008

Download Electronic Bulletin "Paranah"

Tidak ada pikiran sebelumnya untuk membuat Buletin. Ketimbang iseng dan tidak ada kerjaan paska KRS-an, akhirnya aku ngotak-ngatik data yang ada di komputer. Pas lagi maen-maen dengan Corel Draw 11 (males pake yang terbaru. Komputerku lemot haha), tiba-tiba saja, terbersit keinginan membuat buletin digital. Lumayan lah, merampungkan beberapa tulisan dan data yang cukup menarik (bagiku.Hehe). Kebetulan kemaren berhasil download videonya Rendra yang sedang membaca sajak "Sebatang Lisong", terus...terus...Mau apa ya. Bingung dah. Deg-degan menunggu IP semester tujuh sekarang. Arghhhhh...



Komposisinya beragam. Campur baur. Sastra, Filsafat, dan laen-laen. Namanya juga iseng doang.
Runtutannya:
1. Halaman Utama
Biasalah pendahuluan dan tetek bengeknya itu

2. Perenungan
Judulnya menulis untuk hidup

3. Jejak
Kisah seorang Klein yang melompat dari ketinggian, untuk membuktikan bahwa ia bisa lolos
dari kematian

4. Sajakku
Tentu puisiku lah. Gak dibaca gak papa (gak bermutu. Hehehe). Tapi kalo baca dapat pahala
lo...

5. Sajak Sastrawan
Ada dua sajak milik Chairil Anwar yang berjudul "Dipo Negoro" dan "Taman", terus
ditambahi sajaknya Amir Hamzah yang berjudul "Subuh" dan "Insyaf". Kebetulan dua buku
penyair hebat ini kudapat dengan harga murah, Rp. 5000 doang. Judul bukunya Chairil, kalo
gak salah kerikil tajam dan apa gitu...lupa (Blo'on...Blo'on). Oh ya "Kerikil Tajam dan Yang
Terampas" (1949). Terus ma "Nyanyi Sunyi" milik Amir Hamzah

6. Mitos
Cerita tentang Narcissus dan Echo. Udah kuposting (bahasa apaan ni) di Blog ini

7. Tentang
Tentang aku dulu yah. nanti tokoh-tokoh yang laen.

Selengkapnya silahkan Unduh or Download Di Sini

Read more/Selengkapnya...

23 Januari 2008

LARI

Masa itu boleh berlalu
meninggalkan bekas
dan gurat sedih untuk dilihat

Tapi tidak pernah saja ia ingat
Sunggingan indah itu meleburku
dalam raungan rapuh tubuhku

... Sesekali ...

Salah sering menerpa
mengibaskan rambut ini
menggerakkan sejenak keteguhan itu
bukan satu bukan dua
tetapi tiga

Ah, mengapa harus ganjil
bukan genap ...



Read more/Selengkapnya...

KISAH CINTA SEPASANG BUTA


Narcissus dan Echo; Dirimu Kini

Oleh: Musthafa Amin

Mitologi Kuno masih menyimpan banyak teka-teki. Cerita berbasis mitos dan takhyul meninggalkan banyak jejak berserakan yang kenyataannya sering dipungut kembali. Simbolisme yang digunakan dalam mitos mereka ternyata masih banyak dipakai oleh kebudayaan sekarang, bahkan dalam keilmuan pun. Kontruksi bahasa acap bersumber dari pergesekan dan pengalihan sehingga tercipta bahasa sendiri. Tentu peradaban yang kuat akan berpengaruh bagi peradaban lainnya, sehingga simbol-simbol bahasa mereka seringkali digunakan untuk cipta bahasa. Bahasa Indonesia sendiri adalah kumpulan dari beberapa bahasa di teritorial mereka, meski pada dasarnya ia berumpun melayu.

Salah satu mitologi kuno yang sebenarnya masih lekat dengan kita, adalah mitos Narcissus dan Echo. Dua tokoh mitologi ini lebih kita dengan kata narsis, narsisme dan gema atau juga echo dalam kehidupan kita. Narsis dan narsisme lebih melambangkan sebuah perasaan psikologis yang determinan atas diri sendiri sedangkan gema tidak lebih dikenal sebagai pantulan suara, biasanya terjadi di tempat tertutup yang kedap suara dan di bukit, pegununungan dan tempat tinggi. Secara eksplisit, hubungan dua simbol kata ini begitu jauh dengan bentuk prakteknya bagi manusia. Perasaan puja diri dan suara yang memantul seringkali dilakukan di alam yang berbeda—untuk tidak mengatakannya terpisah.

Merujuk pada kisah keduanya, kita akan menemukan bahwa keduanya sangat berhubungan dekat. Karena mengisahkan keduanya, berarti kita menceritakan hubungan asmara antara dua tokoh tersebut. Naomi Segal dalam bukunya Narcissus and Echo; Women in the French RĂ©cit, cukup memberikan kisah singkat tentang Narcissus dan Echo, yang diangkat dari karya seorang penyair Romawi Kuno, Pubius Ovidus Naso (43 SM-17 M), Metamorphoses. Buku ini sendiri lebih cenderung mengkaji feminisme bersandarkan pada kisah-kisah perempuan yang berkembang di Perancis. Kisah Narcissus dan Echo adalah salah satu kajiannya pada simbolisme bias jender.

Terlepas dari itu semua, kembali saya ingin mengajak untuk menyimak perjalanan dua tokoh ini. Cerita Ovidius dimulai dengan prolog di Olympus, tempat tinggal dewa di mitologi Yunani.



Suatu ketika di Olimpus, Jupiter sedang bercengkrama bersama Juno, dewi asmara yang juga istrinya. Setengah teler karena banyak menenggak anggur, Jupiter berkelakar pada Istrinya. Dia berseloroh bahwa wanita lah yang merasakan kesenangan paling tinggi di saat hubungan seksual. Namun, Juno menyatakan sebaliknya hingga keduanya berdebat masalah tersebut. Karena perdebatan tak cepat usai, mereka memanggil Tiresias untuk memutuskan. Alasannya karena Tiresias pernah mengalami kehidupan cinta dengan kelamin yang berbeda, sebagai laki-laki dan perempuan. Tiresias ternyata lebih mendukung Jupiter dan membuat Juno sangat murka, sehingga dia membuat Tiresias buta. Di tengah kekalutan, beruntung bagi Tiresias, Dewa Tertinggi mengganti derita Tiresias dengan memberikan kemampuan, baginya, untuk meramalkan segala hal.

Kisah berlanjut, kemampuan meramal Tiresias diuji untuk pertama kalinya oleh Liriope, seorang Nymph. Dia diperkosa oleh Dewa Sungai, Cephius, dan melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Narcissus. Liriope menanyakan Tiresias, apakah Narcisus akan hidup hingga dewasa. Tiresias hanya memberikan enigma (teka-teki) sebagai jawabannya: “Jika dia tidak mengenal dirinya sendiri”, ujarnya. Ramalan ini akhirnya terbukti setelah Narcissus dewasa.

Narcissus pada umur sekitar lima belas atau enam belas tahun, sudah mulai beranjak dewasa. Banyak gadis-gadis yang tergila-gila dan jatuh cinta padanya. Tetapi tiada satu pun yang menarik hatinya.

Suatu ketika, ketika Narcissus pergi berburu dengan kawan-kawannya, ada seorang nymph dengan suara aneh yang melihatnya. Dia adalah Echo, nymph yang tidak bisa menahan suara ketika orang lain sedang berbicara, tetapi selalu diam ketika tidak ada yang berbicara. Awalnya, Echo tidaklah demikian. Dia sangat suka berbicara, tidak tertahan pada satu frase akhir. Kutukan Juno lah yang menjadikannya begitu. Silam, Echo berpapasan rombongan nymph bersama seorang dewi bernama Satunia, di tepi gunung. Echo mengobrol panjang dengan sang dewi sehingga para nymph banyak yang melarikan diri. Satunia menjadi marah dan memaki, “lidahmu yang telah menipuku, seharusnya dibatasi dan biasakanlah berbicara sedikit.” Akibat tindakannya, Echo mendapatkan kutukan. Dia hanya bisa mengulang suara dari pembicaraan dan berbicara dari apa yang dia dengar.

Echo mengikuti Narcissus. Semakin dia dekat, hasratnya semakin terbakar. Ingin dia berbicara pada Narcissus, tapi dia tak mampu. Dia menunggu Narcissus agar bicara lebih dulu. Narcissus sendiri seolah tidak merasakan kehadirannya yang begitu dekat.

Narcissus tersadar kalau dia telah begitu jauh terpisah dengan teman-temannya. Dia berteriak, “Adakah seseorang disini?” Teriakannya begitu keras, menerabas ke penjuru hutan. Seketika itu pula Echo membalasnya, “disini!”, Narcisuss heran karena tidak menemukan pangkal suara tersebut. Dia memanggil tanpa tahu siapa yang membalas teriakannya tadi. “Datanglah,” teriaknya. “Datanglah,” Echo membalas. Kebingungan melanda Narcisus. Dia melihat sekelilingnya, tapi tidak dia temukan satu orang pun. Dia kembali berteriak memanggil, “Kenapa kau lari dariku?” dan lagi-lagi, Echo membalasnya dengan ketidakmampuannya. “Kesini, biar kita bertemu,” balas Narcisuss kembali. Echo terus menjawab, membuat Narcisuss semakin bingung.

Echo mendekatinya, agar Narcisuss mengetahui kehadirannya. Tetapi Narcissus menjauh darinya, dia tidak tahu kalau Echo berada di dekatnya. Keduanya saling berbalas teriakan, dan Narcisuss tetap tidak tahu keberadaan Echo di dekatnya.

Echo tidak kuasa menahan penderitaannya, dia bersembunyi di balik pohon, dekat rerimbunan daun. Cintanya pada Narcisuss semakin menggelora, tumbuh bersama deritanya. Tubuhnya menghilang. Kutukan menghancurkan keberadaannya. Dia menjadi kurus kering dan keriput, kemudian seluruhnya berpendar, terurai di udara. Yang tersisa hanyalah suara. Serakan tulangnya membeku dan mengeras membatu. Dia selamanya tak terlihat, kendati suara, dan hanya itulah yang masih menjadi miliknya.

Ternyata, bukan hanya Echo yang tidak dipedulikan oleh Narcisuss. Tetapi seluruh orang, baik laki-laki maupun perempuan, yang mengagumi dan menyukainya. Sehingga ada yang meletakkan kutukan padanya, “Dia mungkin hanya mencintai dirinya, dan tidak mendapatkan sesuatu yang dicintainya,” Kutukan itu terjawab dan menjadi muasal kenapa Narcisuss tidak akan pernah menyadari orang-orang di dekatnya.



Narcissus menghampiri sebuah telaga. Kolam airnya putih keperakan. Sepertinya telaga ini masih perawan, belum pernah dijamah siapapun, bahkan oleh binatang semacam kambing, lembu, dan burung. Rumput-rumput banyak tumbuh di tepi telaga dan semak belukar yang mengelilinginya. Di sinilah Narcisuss berhenti untuk sekedar menghilangkan dahaga.

Dicelupkanlah tangannya di air. Tetapi sebelum tangannya sampai, ia tertegun melihat pantulan wajah yang berada di permukaan air. Wajah yang sangat tampan dan berbinar. Entah, tiba-tiba Narcissus jatuh cinta pada bayangan itu, yang sebenarnya adalah pantulan wajah sendiri. Dia coba merengkuhnya dan menciumnya, tapi wajah itu memudar dan bercerai bergelombang. Lambat laun, bayangan itu kembali normal, dan Narcisuss kembali mengagumi dan mengharapkannya menjadi pelabuhan cintanya. Echo masih mengikuti Narcissus, rasa cintanya yang membuatnya demikian. Dia hanya bersuara ketika Narcissus berbicara.

Walau akhirnya, Narcissus menyadari bahwa bayangan itu adalah penampakan dirinya, tetap saja ia tidak menolak bahwa ia jatuh cinta. Karena jika dia telah menginginkan sesuatu, maka dia tidak dapat menahannya. Narcissus tertegun laiknya beku seperti es. Tubuh itu, adalah tubuh yang sangat dicintai Echo. Dia melihat Narcissus menolak, dan kembali menggemakan ratapan Narcissus, “Wahai kekasihku, yang sulit kucintai!” dan akhirnya, ‘Selamat tinggal!’

Kemudian, kematian membunuh pemilik mata yang mencintai kecantikannya sendiri itu, Narcissus. Dia mati tanpa pernah memandangi dan mengenali orang lain. Di Hades (akhirat) dia tetap memandangi dirinya sendiri di kolam Stygian. Mengulangi harapannya di dunia. Sementara di bumi, tubuhnya hancur dan digantikan dengan bunga narkotik berwarna kuning dan putih.

Mencintai diri sendiri adalah awal menuju kehancuran. Tersia-siakan karena cinta dan perlahan-lahan akan dilahap oleh api di dalamnya. Orang tersebut akan meleleh seperti lilin dan embun beku yang menguap. Begitulah yang bisa ditafsiri dari kisah di atas. Ini bukanlah interpretasi tunggal, pembaca punya hak dengan kemampuan tafsirnya yang beragam.

Dua tokoh ini telah termaktub di kehidupan sehari-hari kita. Walau istilah keduanya telah terpisah. Narcissus sekarang lebih dikenal dengan narsis dan narsisme yang dicakup dalam kajian psikoanalisa. Seorang tokoh psikoanalisis bernama Laplanche berpendapat bahwa posisi narsisme telah keluar jauh dari perdebatan tentang perbedaan seksual dan juga kajian bahasa, melainkan lebih kepad gejala psikologis seseorang. Sementara Echo adalah wujud cerminan akustis diri.

Sekarang, kondisi mereka sangat mengerikan. Terutama Echo, yang di dalam kajian Freud tentang Narsisme, disebut bukanlah inti dari cerita mitos tersebut. Echo telah tenggelam oleh Narsisme yang sekarang lebih banyak dikenal oleh orang-orang. Echo diposisikan pada simbol yang berjauhan dari kepribadian manusia, hanya karena kemampuan suaranya yang minim itu. Gema dan pantulan suara, sejauh ini bukanlah terma yang begitu meresap di hati manusia. Beda dengan narsisme, terutama bagi orang yang begitu mencintai dirinya. Sekali lagi, kekalahan awal percintaan kembali berulang pada seorang gadis “cerewet” dan "penuh kata" bernama Echo.

NB:
- Nymph: Adalah seorang dewi yang berupa gadis, tinggal di dunia

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP