29 Desember 2007

MUSIK ITU TIDAK BERAGAMA



Membincangkan musik adalah hal yang langgam, lawas dan sering dibicarakan. Mengapa perlu dibicarakan, bukan didengarkan. Begitulah, dari “mendengar”, terbitlah “membicarakan”, dua proses aktifitas yang seringkali menjadi satu. Nietzche sempat berujar, without a music, life would be a mistake (tanpa musik, hidup adalah kesalahan). Pernahkah kita berpikir, bilamana dunia tidak ada musik, alunan harmoni dari beberapa akord-akord yang saling melengkapi. Hambar, sepi, sunyi dan tiada arti. Seringkali kita tidak pernah sadar, musik telah menyatu dengan kita, atau secara radikal, bahwa musik adalah bagian dari tubuh kita yang senantiasa menemani perjalanan hidup. Tidak heran, para pemusik, selalu menemukan penggemar mereka secara militan. Slanker, OI (orang Indonesia, Baladewa, Sobat Padi dan lain-lain, adalah sekelompok di Indonesia yang secara masif, mengagumi musikalitas pemusik. Beberapa penggemar pun, tanpa segan, ada yang mentato tubuh mereka dengan lambang, representasi dari musik yang mereka gemari.

Begitulah, ide ini muncul sewaktu saya sedang bersantai membaca novel Madame Mao, karangan Anchee Minn, ditemani dengan instrument Kitaro. Proses membaca saya sempat berhenti, ketika lagu yang terputar di winamp, adalah caravansary. Ingatan saya langsung kembali pada masa lalu, di masa sekolah dulu. Memang, saya sudah mengenal Kitaro sejak dulu, meski tidak mendetail, begitu pula musik-musiknya, meski tidak juga sampai mengerti judul-judulnya.

Dulu, saya sempat mengerli alunan caravansary dari salah satu stasiun radio (saya lupa namanya). Ia menjadi latar dari beberapa petuah keagamaan sebelum stasiun radio tesebut memulai siaran baru. Tengah malam, waktu diputarnya lagu ini pada saat itu. Petuahnya menceritakan beberapa pengalaman dan kejadian religius pada zaman rasulullah. Sehingga sempat dulu saya berpikir, lagunya Kitaro ternyata, meski hasil karya komponis non-muslim bisa menjadi pengiring petuah agama islam.

Saya sembari tergelak, mengingat beberapa lirik lagu yang saya hafal. Mengingat esensinya yang menyimbolkan agama tertentu. Blink 182, dalam salah satu lagunya, Antherm Part 2, menuliskan, “earth is dying, help me Jesus (bumi sedang terpuruk, tolonglah aku Bapa)”. Band P.O.D (Payable on Death—Mati kok dibayar J) juga, dalam beberapa liriknya, berulang-ulang menyebuh kata JAH yang bermakna orang Yahudi. You know Jah know atau and Jah know, what I & I gonna do, dalam lagu berjudul, Execute The Sound. Satu lagi, terakhir, band Bad Religion (agama yang buruk—apalagi ini) mempunyai single populer yakni, American Jesus (saya hampir menuliskan American Idiot-nya Green Day).

Tidak terhitung, banyak band-band dan penyanyi solo yang menjadi agama sebagai inspirasi, baik dalam lirik, video klip, cover album dan music merchandise lainya. P.O.D sendiri, dikenal dengan band yang religius, meski dengan dandanan yang tidak menyerupai kostum agama tertentu. Liriklah yang membuat mereka begitu. Begitu pula Evanescene yang awal mulanya digadang sebagai band gereja gothic. Walau musik mereka bukan gospel, performance mereka lah yang membikin mereka dicap seperti itu. Di Indonesia sendiri, DEWA sempat berbuat ulah dengan lagu mereka, Satu. Lirik lagu satu dianggap menyekutukan Allah sebagaimana Al-Hallaj. Parahnya—tanpa mengurangi rasa hormat pada Andra and the Backbone (lho kok?!!)—dalam klipnya, mereka menampilkan Whirling Dervishes-nya Jalaluddin Rahmad, ups Jalaluddin Rumi.

Genre musik sangatlah bermacam-macam, sebagai salah satu budaya pop, ragam mereka pun juga berangsur-angsur menjadi budaya pop sendiri. Sekarang, cukup mudah membedakan genre musik, mulai dari pop, rock, jazz, reggae, punk dll. Tidak perlu dari gaya bermain dan alat yang mereka pakai, tetapi juga bisa dibedakan dari kostum dan penampilan yang ditunjukkan—sederhananya seperti itu. Genre pun ternyata mencirikan musik dengan realitas sosialnya, mulai dari Pop yang terlena dengan seduh sedah dan indahnya percintaan, Punk dengan ideologi perlawanan dan anarkisme mereka, dan juga reggae yang juga dikenal sebagai musik perlawanan, sepadan dengan tokohnya Bob Marley.

Kembali pada judul, saya hanya ingin mengajak pembaca untuk melihat fenomena musik yang mulai menjadi salah kaprah nasional. Pelembagaan yang terjadi sekarang, seperti musik ini adalah musik agama tertentu, tentu telah menyakiti banyak penggemar musik. Kontroversi yang terjadi lebih merujuk kepada fenomena salah tafsir yang dipaksakan benar. Tentu menyebabkan gagasan bermusik yang akan ditampilkan akan serta merta tertahan cukup radikal. Permasalahan yang dialami masyarakat musik, semacam dominasi mayor label dengan minor, pembajakan dan lainnya, dengan religiusasi musik menjadi lengkap. Isu-isu keagamaan semakin rentan melaju ke belantika musik tanah air. Sehingga bilamana tradisi “menafsir seenaknya sendiri” tetap diterapkan, maka kreatifitas pemusik Indonesia akan menurun. Pantas saja jika, lagu Indonesia jarang masuk MTV Internasional. J

Lagi-lagi saya tergelak sendiri, ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa musik arab adalah musik islami, barangkali ini karena alat musik yang mereka gunakan di dalamnya, seperti ketipung, terbang, gendang, dan lainnya yang menjadi alat musik semacam hadrah dan sholawatan. Ciri musik islami adalah seperti itu, begitulah anggapan orang-orang. Bahkan di rumah pun, sewaktu saya sedang mendengarkan lagu dari band-band melodik seperti SUM 41, Good Charlotte, dan The Ramones, saya sempat dimarahi dengan alasan musik kafir. Sungguh menggelikan, meski saya selalu menurut untuk mematikan. Suruh mereka adalah mendengarkan musik gambus yang bernuansa arab. Padahal sepengetahuan saya, lagu gambus seperti itu bukanlah lagu islam, karena penyanyi dengan genre musik tersebut ada yang beragama nasrani, yahudi dan non-islam. ia adalah musik arab, lha wong kata Allah adalah representasi dari tuhan juga di sana. Isi liriknya lah yang kadang bisa membedakan. Begitulah, musik dianggap beragama tertentu. padahal musik tidak beragama, tetapi di-agamakan oleh orang-orang. Sehingga beberapa musik instrumental acap disebut musik dengan agama tertentu. Ini berimbas pada konflik tidak berujung. Coba anda tafsirkan lagu “pengakuan”nya Power Metal, dan anggap mereka adalah orang kafir karena dandanan mereka—walau sebenarnya mereka adalah muslim. Haha, malaikat dan saya pun akan tertawa terbahak-bahak.

 

 

Read more/Selengkapnya...

HALLOWEEN; TRADITION AND RELIGIOUS FAITH

(ANALYZING THE FRICTION OF VALUE OF HALLOWEEN AND ITS EFFECT TO INDONESIAN CULTURE)
CHAPTER 1


INTRODUCTION
1.1. BACKGROUND OF STUDY

In the night on October 31st­, there is an event which is popular in every world. Many people around the world get dressing in costumes and going door-to-door to collect sweet, fruits, and delights. They wear unusual dress representing the dead man. A horrible and darkness nuance are seen everywhere, such as in shops, office sand even public road. The city is like to be haunted by ghost. No one doesn’t know about orange pumpkin with light as its symbol of tradition. The figure of Jack O Lantern comes out every year on October 31st.



That event is what we call by Halloween. World society is ensued by Halloween fever. It is celebrated in most parts of the Western world, most commonly in the United States, Canada, the UK, Ireland, Australia and New Zealand. In recent years, Halloween has also been celebrated in parts of Western Europe, such as Belgium, France and Spain, and also other countries from other continents, including Indonesia. Its performance has been popular tradition and each country ha their particular custom to celebrate it.

> Selengkapnya baca di/or read completely on website DAUNLONTAR 
> Atau silahkan download di SINI/or please download HERE

Read more/Selengkapnya...

My Yellow Rose





It is not kind of reality I want
Think for pleasure and doubt were such fun
Better off I know for the kind
Don’t need to complain
In matter of fact again

I need to think for better I am
To reach my own dream
Sometimes, I could identify
You in the way I try

You are still my wine
Swallowing me in pain
I know you as you
In yellow not in blue

Why does anybody hate us?
Why do they get their own value on us?
They think it’s stretching out
To illuminate the fact
They never become conscious
It’s just accused guess

Whatever you exist
Whatever they believe
You’re still my rose
No matter every time I loose

Read more/Selengkapnya...

Konspirasi & Senja

KONSPIRASI
Menurutku begini, bukan begitu
Jangan begitu, tapi begini
Bagaimana kalau begini dan begitu
Cukup begini bukan begitu
Bilang saja begitu jika tak mau begini
Jangan! Jangan sampai tahu kalau begitu
Biar saja begini
Tidak akan!
Biarlah begini bukan begitu


SENJA SORE DI JENDELA
Matahari hendak tenggelam
Meleleh di pekat keperakan malam
Di sini, di jendela, semua terdengar jelas
Bunyi rumput yang terpangkas arit
Berbentur dengan tanah dan bebatuan
Alunan suara pengagungan bersahut menyahut
Dibarengi dengan merdunya gema rohani
Membaca karya untuk menikmati
Dan menikmati untuk menyembah tembah
Tembang sore mulai terdiam
Ketika lantunan itu berkumandang
Dan gemericik air mulai berjatuhan
Menghiasi muka-muka manusia yang kusam

Read more/Selengkapnya...

26 Desember 2007

Me and Him








hahaha...cukup lama sih kubuat ini...sampek menghabiskan dua gelas kopi









without a music, life would be a mistake


Read more/Selengkapnya...

IMAJINASI

Read more/Selengkapnya...

06 Desember 2007

INDONESIA; UTOPIA DEMOKRASI


TIDAK ada persoalan kebangsaan yang cenderung selalu dibahas seperti demokrasi. Ratusan kali atau bahkan lebih seminar, diskusi, artikel dan tulisan-tulisan lain yang membicarakan demokrasi di Indonesia. Ironisnya, implementasinya pada kesadaran politik Negara masih saja menuju pada keadaaan utopis. Dalam artian penerapan demokrasi di Indonesia masih belum final dan menyisakan banyak pertanyaaan-pertanyaan terutama di dalam sinergitas teori dan praktek yang ada di indonesia.

TIDAK ada persoalan kebangsaan yang cenderung selalu dibahas seperti demokrasi. Ratusan kali atau bahkan lebih seminar, diskusi, artikel dan tulisan-tulisan lain yang membicarakan demokrasi di Indonesia. Ironisnya, implementasinya pada kesadaran politik Negara masih saja menuju pada keadaaan utopis. Dalam artian penerapan demokrasi di Indonesia masih belum final dan menyisakan banyak pertanyaaan-pertanyaan terutama di dalam sinergitas teori dan praktek yang ada di indonesia.
Secara historis, demokrasi di indonesia telah berkali-kali mengalami metamorfosis. Diharapkan hal ini bisa mewujudkan demokrasi berbau indonesia meski konsep dasar mengadopsi teori demokrasi luar. Selangkah-demi langkah, upaya penyematan demokrasi sebagai salah satu kerangka berpikir kenegaraan terus dilakukan. Pembabakan yang akan diberikan berikut sebagai salah satu analisis dialektik-historis pada penerapan demokrasi di Indonesia.
Demokrasi Parlementer: Pluralitas Pembawa Bencana
Setelah era paska kemerdekaan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang masih “muda” mencoba menerapkan konsep demokrasi parlementer di dalam kehidupan politiknya. Meskipun model demokrasi ini hancur lebur sebelum diterapkan dengan baik dan utuh akibat dekrit presiden tanggal 5 juli 1959, ini adalah proses awal demokratisasi pemerintahan dan kekuasaan di Indonesia.
Isu sistem demokrasi parlementer yang menetapkan Presiden sebagai kepala Negara konstitusional dan menteri-menterinya yang mempunyai tanggung jawab politik sebenarnya telah dilandaskan oleh Moh. Hatta beberapa bulan setelah proklamasi. Maklumat Wakil Presiden (Wapres) X pada 16 Oktober 1945 menyatakan bahwa pemerintah Indonesia harus membangun sistem banyak partai dan menggusur kekuasaan rangkap presiden—sebagai penguasa eksekutif dan legislatif sekaligus—sebelum MPR dan DPR dibentuk. Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pun difungsikan sebagai lembaga legislatif.
Dualisme pemerintahan yang terjadi di Indonesia setelah kemerdekaan—antara Belanda dan Indonesia sendiri—mengakibatkan rumusan sistem pemerintahan masih belum jelas. Keputusan Konferensi Meja Bundar di Denhaag, Belanda tentang perubahan Republik Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) ditengarai sebagai proyek pemerintah Belanda agar bisa terus mengontrol Indonesia. RIS sendiri terdiri dari lima belas negara bagian buatan Belanda, yang telah didudukinya selama tiga tahun.
Menurut Hatta, bangsa Indonesia tidak mempunyai kedaulatan penuh jika masih melakukan kompromi dengan belanda soal sistem pemerintahan. Sebagian besar pemimpin Indonesia sepakat bahwa kompromi dengan pihak belanda bertolak belakang dengan cita-cita proklamasi. Karena itu, kompromi tersebut sebenarnya adalah strategi untuk lepas dari rongrongan belanda yang menolak proklamasi kemerdekaan Indonesia. Karena dalam pandangan Hatta, bentuk negara federal RIS tidak akan bersifat permanen karena bentuk yang sesungguhnya akan ditentukan konstituante hasil pemilihan umum. Dan, konstituante itu pulalah yang nantinya bertugas menyusun konstitusi baru.
Namun ini berakibat fatal, tawaran sistem parlementer ternyata mengakibat semrawutnya pemerintahan karena elemen-elemen pemerintahan merasa mempunyai andil untuk mengatur Negara sehingga menjadi tidak jelas “siapa mengatur siapa”. Pemilu pertama tahun 1955 yang diharapkan menjadi tonggak demokrasi sebenarnya salah satu pemicu peralihan demokrasi—meminjam bahasa Syafi’i Maarif—menjadi ultrademokrasi yang menjurus anarkisme. Pluralitas dan multi-partai yang menjadi jargon demokrasi parlementer berujung pada pertarungan ideologis partai yang sangat berpengaruh di Indonesia. Pada waktu itu, kekuatan ideologis dapat dipetakan menjadi tiga bagian, yakni Islam, Nasionalis dan Sosialis. PKI yang sebelumnya runtuh akibat pemberontakan Madiun 1948 bangkit dengan cepat, malah berafiliasi dengan pihak nasionalis untuk menghadapi partai-partai Islam yang dikhawatirkan mendirikan Negara Islam. Konflik antar partai tidak bisa dielakkan, ini juga membias pada elit-elit politik yang bercokol di pemerintahan.
DPR dan Konstituante yang dilahirkan setelah pemilu 1955, juga membuat keadaan internal pemerintahan semakin buruk. Pertikaian antarmiliter, pergolakan daerah melawan pusat, inflasi ekonomi dan masa depan Indonesia menjadi suram. Akhirnya, pada tanggal 5 Juli 1959 Sukarno mengeluarkan dekrit presiden dan menyatakan Konstituante dibubarkan serta UUD ’45 diberlakukan lagi. Inilah awal kehancuran demokrasi parlementer di bumi pertiwi dan bermulanya sistem demokrasi terpimpin.
Demokrasi Terpimpin: Konstruk Ideologi Sosialis
Secara sederhana, Demokrasi Terpimpin bercirikan dominasi penuh dari presiden, peranan partai politik yang terbatas, pengaruh komunis yang semakin berkembang dan peranan ABRI yang meluas sebagai unsur sosial politik. Demokrasi ini dinamakan Sukarno dengan Manipol-Usdek (UUD 1945, Sosialisme ala Islam, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Indonesia)—Madjid dalam Thaha: 2004.
Bermula dari kekecewaan Sukarno pada sistem demokrasi liberal yang cenderung pluralis dan menyebabkan konflik berkepanjangan oleh elit-elit politik yang berbeda haluan ideologis. Dan berdasarkan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959, sistem politik mulai berganti dengan nama Demokrasi Terpimpin. Dengan membubarkan Dewan Konstituante yang ditugasi untuk menyusun Undang-Undang Dasar yang baru, dan menyatakan diberlakukannya kembali Undang-Undang Dasar 1945, Soekarno memperkuat tangan Angkatan Bersenjata dengan mengangkat para jendral militer ke posisi-posisi yang penting.
Demokrasi terpimpin dapat dikatakan sebagai demokrasi kekeluargaan tanpa anarkisme, liberalisme dan otokrasi diktator yang mendasarkan sistem pemerintahan pada musyawarah dan mufakat dengan pimpinan satu kekuasaan yang sepuh, seorang tetua dan mengayomi. Tetapi sistem ini jugalah yang menyebabkan sukarno bertikai dengan sejumlah tokoh-tokoh nasionalis semacam Hatta, Natsir dan Syahrir. Perpecahan di tubuh pemerintahan semakin terlihat kentara akibat pemberlakuan sistem baru demokrasi ini. Baik pihak militer dan pihak nasionalis mulai menyangsikan kepemimpinan model ‘terpimpin’ yang diandalkan Sukarno. Hatta menilai istilah Demokrasi Terpimpin ini adalah nama lain dari sistem diktator. Sukarno sebagai penguasa tunggal didukung oleh aliansi yang rapuh, partai-partai yang tergabung dalam konsep NASAKOM (Nasionalis-Agamis-Komunis). Mereka mendukung Sukarno semata-mata karena mengikuti kehendak penguasa.
Konsep ini digagas Sukarno Muda pada 1926 dalam tulisan pertamanya Indonesia Muda: Nasionalisme, Islam dan Marxisme. Ia melihat bahwa nasionalisme dan Islam merupakan paham-paham yang kurang tajam untuk menganalisis keadaan, karena itulah dibutuhkan fundamen marxisme untuk menyokong dua ideologi tersebut untuk membangun Indonesia. Satu sisi, sikap diktatorial yang terbentuk di demokrasi terpimpin ini sekilas mirip dengan cara pandang Lenin, pemimpin Uni Soviet kala Sukarno masih muda, tetapi ia sendiri memilih untuk tidak menyamakannya. Lenin mencapai tujuannya melalui golongan masyarakat proletar, sementara Sukarno melihat kaum proletar masih lemah, karena itu ia ingin mencapai revolusinya dengan konsepsi rakyat ini. Menurut Sukarno, masyarakat terbagi bukan pada kelas sosial ekonomi tetapi ideologilah yang membagi masyarakat dalam kelompok-kelompok sehingga mereka layaknya kekuatan massa yang memiliki perbedaan. Ini menyebabkan timbulnya gagasan Sukarno untuk menggabungkan pemimpin-peminpin tersebut dalam persatuan.
PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa PKI mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi Nasakom. Tetapi kedekatan dengan PKI malah menjadi bumerang tersendiri. Merasanya ideologinya mendapat angin segar dari pemerintahan Sukarno, serta merta pihak PKI melakukan ideologisasi besar-besaran dan pemberontakan menuju Indonesia komunis. Sehingga bencana nasional berupa G30S 1965 terjadi dan mengakhiri pemerintahan Sukarno yang diktator dengan model ‘terpimpin’nya. Pada 12 Maret 1966, PKI dibubarkan dan kekuasaan Sukarno dilucuti dan digantikan oleh Soeharto .
Demokrasi Pancasila; Totalitas Militer
Melalui Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), Soeharto mulai berkuasa dan memperkenalkan sistem politik barunya yang disebut dengan Demokrasi Pancasila. Pemerintahan yang sering disebut dengan orde baru ini, secara formil berlandaskan pada Pancasila, UUD 1945, dan Tap MPRS. Orde baru berencana merubah kehidupan sosial dan politik dengan landasan ideal Pancasila dan UUD 1945. Jadi secara tidak langsung, Sukarno dan Soeharto sama-sama berpedoman pada UUD 1945. Rancangan Pembangunan Lima Tahun (Pelita) adalah salah satu program besarnya untuk mewujudkan itu.
Tahapan yang dijalani orde baru adalah merumuskan dan menjadikan Pancasila sebagai ideologi Negara, sehingga pancasila membudaya di masyarakat. Ideologi pancasila bersumber pada cara pandang integralistik yang mengutamakan gagasan tentang Negara yang bersifat persatuan. Sehingga pancasila diformalkan menjadi satu-satunya asas bagi organisasi kekuatan politik dan organisasi keagamaan-kemasyarakatan lainnya. Dan kesetiaan kepada ideologi-ideologi selain pancasila disamakan dengan tindakan subversi. Di era ini, kekuatan politik bergeser pada militer, teknokrasi dan birokrasi.
Gagasan dan ide membutuhkan langkah praktis untuk menyeimbangkan dan keseimbangan. Dan ini tidak terjadi pada masa demokrasi pancasila. Ia hanya menjadi sebatas konsep besar yang tidak diterapkan dengan utuh. Buktinya masih banyak penyelewengan—yang ironisnya berkedok demokrasi—di dalam pemerintah. Bisa diuraikan, masa-masa ini adalah di mana Negara dan rakyat berhadap-hadapan dan pemerintah sangat mendominasi.
Selama rezim orde baru berkuasa, demokrasi pancasila yang dicanangkan dalam pengertian normatif dan empirik tidak pernah sejalan. Ia hanya menjadi slogan kosong. Ia tidak lebih baik dari dua model demokrasi sebelumnya karena penerapannya yang jauh dari kenyataan berlawanan dengan tujuan demokrasi sendiri. Orde Baru justru menghambat dan membelenggu kebebasan rakyat. Ia tidak sejalan dengan esensi dan substansi demokrasi.
Kekuasaan menjadi sentralistis pada kepemimpinan Soeharto. Demokrasi baginya hanyalah alat untuk mengkristalisasikan kekuasaannya. Soeharto kembali menghadirkan ‘demokrasi terpimpin kostitusional’ model baru dengan melandaskan ideologi pancasila sebagi dasar dan falsafah demokrasi. Selama tiga dasawarsa, pemerintahannya menjadi rezim yang sangat kuat. Pemilihan Umum tidak lagi menjadi sentral demokratisasi di Negara. Meski telah diadakan selama enam kali di masa Soeharto, Pemilu sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai demokratis. Masih terjadi dominasi satu partai yang sebenarnya dikontrol dan dikelola oleh Soeharto yang kekuasaannya dikukung penuh oleh militer. Tidak ubahnya yang terjadi adalah ‘demokrasi’ yang membunuh demokrasi.
Demokrasi pasca Reformasi; Transisi Kekuasaan
Tahun 1998, Soeharto tumbang karena bersatunya sebagian besar masyarakat untuk menurunkan kepemimpinan Soeharto yang diselubungi oleh KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) dan kecelakaaan sejarah lainnya yang berhubungan dengan Soeharto. Praktis, sejak lengsernya Soeharto demokrasi pancasila menemui jalan buntu.
Indonesia mengalami era transisi setelah kudeta kekuasaan oleh rakyat. Ini mengakibatkan aturan main politik tidak menentu bahkan atura main dipertarungkan secara sengit antarpelaku politik. Pada masa ini, kekuasaan terbagi-bagi dan masing-masing lembaga politik diperebutkan. Kekuasaan tidak lagi sentralistis dan tunggal seperti yang terjadi di era sukarno dan soeharto. Pemilu Umum 1999 di masa presiden BJ. Habibie diikuti oleh 47 partai. Dan hasil pemilu, hanya 21 partai yang mendaptkan kursi parlemen. Dominasi-dominasi kekuasaan mulai terjadi kala itu, beberapa partai berkoalisi untuk beroposisi melawan partai-partai yang lebih dominant. Puncaknya adalah terpilihnya Abdurrahman Wahid sebagai presiden bukan Megawati yang sebelumnya mendapatkan dukungan terbanyak. Nasibnya pun tragis karena diturunkan oleh kalangan yang memilihnya menjadi presiden. Hingga pucuk pimpinan dipegang oleh Bambang Yudhoyono, politik kepentingan para elit kekuasaan kerap terjadi dan ironisnya nama rakyat dijadikan tameng dan landasan sementara mereka tidak tahu menahu atas permainan politik kaum atas.
Demokrasi di Indonesia; Sepercik Analisa
Mengutip kata Ibn Kholdun, yang kalah akan mengikuti yang menang. Inilah yang menjadi gambaran proses awal pemberlakuan sistem demokrasi pada awal mulanya. Dengan proklamasi pada 17 Agustus 1945, secara otomatis Indonesia menginginkan kedaulatan penuh sebagai Negara. Bangsa Indonesia yang masih prematur belum bisa menciptakan konsepsi kenegaraan yang baik sehingga ia mengadopsi kebudayaan yang sepenuhnya berasal dari luar. Demokrasi liberal atau parlementer adalah model demokrasi yang masih cukup banyak digunakan oleh Negara-negara maju. Konsep demokrasi terpimpin sukarno juga hanya sebuah representasi dari sistem diktator proletariatnya Lenin yang bersikap Marxis-Leninisme. Meski pada suatu kesempatan ia menyanggahnya sebagai model demokrasi yang Indonesia. Akibatnya, konsepsi demokrasi hanya menyentuh kepala-kepala intelektual yang berkuasa tidak pada golongan mayoritas yang cenderung “bodoh dan dibodohi.”
Perbaikan sistem yang telah banyak ditawarkan untuk mengatasi problematika demokrasi Indonesia yang dipandang kebablasan menyisakan pertanyaan. “Kenapa tawaran-tawaran yang diberikan tidak pernah berhasil?”
Setidaknya ada empat factor kunci sukses atau gagalnya transisi demokrasi. Yaitu bergantung pada komposisi elit politik, desain insttitusi politik, kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik di kalangan elit dan non-elit dan peran civil society (masyarakat madani) (Azumardi Azra, 2002). Realitas yang terjadi saat ini adalah sentralitas kuasa demokrasi yang lebih mengacu pada elit politik yang mempunyai kesempatan untuk berpolitik “demokratis”. Paradigma yang ada sama sekali tidak menyentuh ranah rakyat. Elit politik yang dijadikan perwakilan suara rakyat bermain di dalam kedaulatan dan pemerintahan yang melibatkkan kekuasaan. Kesannya, rakyat sering melakukan demontrasi sebagai wajah kebebasan dengan anarkisme dan kekerasan yang berlebihan, apalagi reaksi tersebut sering ditengarai sebagai upaya kontrol kekuasaan pada rakyat.
Makna kata demokrasi yang berasal dari bahasa Yunani itu berarti kekuasaan rakyat. Kata "demokrasi" berasal dari dua kata, yaitu demos yang berarti rakyat, dan kratos/cratein yang berarti pemerintahan, sehingga dapat diartikan sebagai pemerintahan rakyat, atau yang lebih kita kenal sebagai pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Kekuasaan Negara tidak terletak pada individu layaknya sistem monarki atau kelompok seperti sistem aristokrat melainkan di tangan rakyat. Salah satu pilar demokrasi adalah prinsip trias politica yang membagi ketiga kekuasaan politik negara (eksekutif, yudikatif dan legislatif) untuk diwujudkan dalam tiga jenis lembaga negara yang saling lepas (independen) dan berada dalam peringkat yg sejajar satu sama lain. Serupa dengan lontaran pernyataan Montesquieu (Malaka: 1945), fungsi pemerintahan dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, kekuatan legislatif untuk memuat undang-undang. Kedua, kekuatan eksekutif untuk menjalankan undang-undang dan terakhir adalah kekuatan judikatif, untuk mengawasi undang-undang.
Memang pada dasarnya, demokrasi mencakup lima kriteria, persamaan hak pilih, partisipasi efektif, pembeberan kebenaran, kontrol dan pencakupan, dengan arti masyarakat harus meliputi semua orang dewasa dalam kaitannya dengan hukum. Dan unsur yang paling berperan untuk menentukan kriteria demokrasi di atas adalah rakyat. Sehingga perlu dibaca kembali segala yang berhubungan dengan rakyat. Demokrasi yang diterapkan di Indonesia adalah demokrasi perwakilan. Suara rakyat diwakili oleh seseorang yang telah dipilih oleh rakyat sendiri. Karena itu sangat rentan sekali intervensi kekuasaan dan dominasi penguasa di dalam proses pemilihan wakil rakyat yang berlangsung sewaktu Pemilihan Umum. Sejak pemberlakuan demokrasi parlementer hingga sekarang, dapat dilihat dengan cermat bahwa pertentangan dan pertikaian ideologis partai yang sama-sama memiliki suara dominan sangatlah kental dan ini berandil membawa anggota-anggotanya ikut serta bertikai. Sistem multi partai waktu itu menjadi titik awal bencana, tidak berbeda jauh dengan sistem tiga partai pada era demokrasi pancasila yang sangat mengotori kebebasan masyarakat.
Rakyat sendiri terpecah menjadi beberapa golongan yang sama-sama memiliki kekuatan. Dikotomi kekuasaan dan kuantitas adalah kecenderungan yang masih menguasai alam demokrasi Indonesia. Stratifikasi sosial masyarakat masih membias dan bisa menjadi ancaman perilaku demokrasi Indonesia. Hal ini bisa dikaitkan dengan ideologisasi komunisme yang terjadi sebelum dan sesudah kemerdekaan. Masyarakat Indonesia kelas bawah atau murba—istilah yang digunakan Tan Malaka—sangat mudah digaet oleh gerakan-gerakan komunis yang mengedepankan ekonomi sosialistik dan antitesa kapitalisme. Kaum Islam juga gampang ditarik ke kancah politik oleh mereka yang mengaku sebagai anggota partai Islam, seperti Masyumi. Sehingga kesimpulan yang didapat, masyarakat Indonesia, sangat mudah dipelintir dan dipermainkan oleh kekuasaan. Kebutuhan dan ketergantungan mereka menjadi alat penting mobilisasi rakyat yang akhirnya cenderung anarkis. Rakyat hanya akan menjadi alat perlawanan yang mengikuti pucuk pimpinan wadah atau institusi yang diikuti. Akhirnya, pemerintahan dikuasai oleh sistem “yang kuat yang menang” yang akan mengakibatkan suara-suara minoritas yang menginginkan perbaikan menjadi tertindas.
Sudah saatnya, kita bersama-sama bergerak untuk mencapai angan demokrasi yang telah dicita-citakan oleh para pemimpin-pemimpin dan tokoh-tokoh Indonesia. Unsur-unsur demokrasi yang kadang menjadi akar permasalahan harus bisa diselesaikan dan diperbaiki, karena konsep demokrasi bukan hal paten yang tidak bisa dirubah. Ia harus bersifat dinamis dan bisa mengikuti kultur sosial-politik-budaya Negara yang menggunakannya sebagai asas Negara. Usaha perubahan tersebut sebenarnya telah sering dilakukan dan sayangnya malah menjadi ancaman bukan kenyamanan. Rakyat perlu diperkuat kembali bahwa mereka bukan alat kekuasaan yang dengan mudah diatur ke sana ke mari. Elit penguasa dan rakyat harus bisa bekerja sama selama tujuan demokrasi menjadi patokan utama bernegara yang baik. Dan tulisan ini pun tidak akan pernah tertulis dengan selesai…

Tim ICCE UIN Jakarta. Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani. 2003. ICCE UIN: Jakarta.
Prof. Miriam Budiardjo. Demokrasi di Indonesia, demokrasi parlementer dan demokrasi pancasila. 1996. (Gramedia: Jakarta)
Ikrar Nusa Bhakti, Irine H. Gayatri (ed.). Unitary State versus Federal State, searching for an ideal from of the future Indonesian State. 2002 (Mizan: Bandung)
Abdul Rozak, Wahdi Sayuti, Budiman, Arif. Buku Suplemen Pendidikan Kewargan (Civic Education). 2004. Prenada: Jakarta
Muhammad AS Hikam. Demokrasi dan Civil Society. 1999. LP3ES: Jakarta.
Idris Thaha. Demokrasi Religius, pemikiran politik nurchoish Madjid dasn M. Amien Rais. 2004. TERAJU: Bandung.

Read more/Selengkapnya...

04 Desember 2007

My All



Alasan ku menerjemah lagu ini sebenarnya karena permintaan seorang kawan. Sewaktu gi kencan dengan pacarnya, sang kekasih menuliskan bait lagu ini. Sialnya, aku yang ketiban untuk nerjemahin waktunya. ingat masa lalu aja. hehe... but overall, maknanya cukup membuatku terkesan...

Seluruh Milikku
Dirimu menggelayut di pikiranku
Di sela-sela, sunyi malam, aku terjaga
Jika kesalahan adalah mencintaimu
Sebagai kebenaran, hatiku takkan mengakuinya
Karena aku telah merasuk padamu
Dan takkan keluar tanpa kehadiranmu
di sampingku

Yang aku punya ‘khan kuberikan
demi satu malam menemanimu
kupasrahkan hidup demi
tubuh kita bisa menyatu
karena diriku takkan bisa terus hidup
dalam kilasan lagu-lagu kita
semuanya ‘khan kuberikan demi cintamu malam ini


My All
I’m thinking of you
In my sleepless solitude tonight
If it’s wrong to love you
Then my heart just won’t let me be right
‘Cause I’m drowned in you
And I won’t pull through
Without you by my side

I’d give my all to have
Just one more night with you
I risk my life to feel
Your body next to mine
‘Cause I can’t go on
Living in the memory of our song
I’d give my all for your love tonight

Song by Mariah Carey

Read more/Selengkapnya...

03 Desember 2007

AMATI, PIKIRKAN, JALANI




Berbekal pengalaman, manusia siap menjejaki alur hidup yang tak bertuan. Berbekal pengamatan, manusia mampu menganalisis jejaring jejak langkah sosial yang rancu bertebaran. Berbekal akal, manusia mulai membenarkan realitas norma dan aturan yang sedang berjalan.
Bekal. Sebuah panduan untuk menuntun. Mempersiapkan diri kita untuk mulai bergerak. Di dalam kehidupan, semuanya bersifat layak riak yang bisa terbendung dan mendaki. Seolah jalan di hadapan kita adalah kemiringan yang menuntut kita untuk selalu turun mengikuti alur air kita. Bekal yang kita bawa, akan menjadi penentu. Apakah kita akan ikut terseret, tenang mengikuti atau terdampar di pinggir harapan.
Merunut ke awal, sesiap apakah bekal yang akan kita bawa. Atau berupa apa pandu yang akan menjaga harapan kita. Jangan pernah menisbikan tujuan (objektif). Toh, meski sekeranjang bekal telah siap dipanggul, ia menjadi sia-sia jikalau tidak disesuaikan dengan tujuan kita. Mewujudkan visi dengan misi harus kembali kita reka ulang. Pemahaman harus selalu diutamakan agar kita tidak mudah terjebak dengan rintangan yang siap merintangi, apalagi hancur, hilang dan tak berbekas. Semoga jangan.
Naluri alamiah kehidupan bukanlah jargon utama. Hukum kausalitas itu, cukupkan dengan pengamatan dan pemahaman. Rangkaian alur konstan sewaktu-waktu bisa menjadi penggerak kemandegan kita. Susupi, hinggapi ditemukan celah yang sekiranya bisa dilewati dan tak pernah takut mencoba dengan perangkat berbeda dan sesuai. Anda adalah penguasa, tunjukkan bawha kekuatan tak hanya lepas yang terbaca di luar, tetapi ia juga ada bersembunyi dan bernaung di kedalaman diri. Sekiranya, perjalanan telah mencapai separuh. Bekal dan tujuan itu akan menentukan pola gerak anda. Maju, diam, mundur dan ke samping. Semoga sinar harapan yang mulai terlihat di depan bisa anda tuju dengan segala jalan yang sekiranya cukup membuat anda merasa nyaman.

Read more/Selengkapnya...

BARISAN PARADE ANJING

Kebajikan dan kejahatan. Siapa yang bisa menela’ah. Keduanya paradoksal. Semula adalah kebajikan kemudian beralih ke keburukan. Siapa pernah mengira, jikalau segala nilai kebaikan bisa berproses menjadi jahat dan dibenci. Begitupula sebaliknya, keburukan maupun kejahatan, suatu masa akan dipandang lain. Satu simpulan, sejauh mana kepentingan yang dibawa berimbas banyak pada kategorisasi baik dan buruk.



Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, wakil dari kaum kelas bawah ║Presiden Amerika Serikat, TELAH MATI!

Aku tidak percaya akan politik ║Kumpulan orang-orang bodoh dan munafik pilihan ║ Yang berjalan di atas aturan, kemudian menginjaknya lumat ║ Apakah kematian dan kemenangan hanya di gagasan?

Dan inilah siapa kita ║ Ini adalah khayalan khalayak ramai ║Tidak ada yang tahu menahu ║ Siapa yang akan memimpin revolusi ini sekarang, ║ Ketika ketegangan mulai merambah, ║ Satu-satunya cara mencapai simpulan

Terlalu terlambat, tak ada waktu lagi ║ Semua untuk bukan siapapun, tiada untuk satu, dua, tiga dan empat

Parade para anjing, ║ Untuk langkah-langkah kebebasan ilusi ║ Yang disumpahi berasal dari tuhan, ║ Yang memekarkan kepanikan dan kekisruhan, ║ Bendera putih tak lagi berkibar, jatuh, ║ Malah menjadi lelucon ║ Karnaval dosa sekarang akan mulai berjalan

Karenanya, mungkin, aku adalah sang pesimis ║ Kendati ku berkata, “kita masih butuh paranormal” ║ Akar semua kejahatan masih berdiri kukuh ║ Di bawah tuhan dan di atas kita semua

Dan inilah siapa kita ║ Lagi-lagi bersikap depresi ║ Semua yang kita tahu, ║ Adalah kekalutan dan frustasi ║ Ketika ketegangan mulai merasuk, ║ Tak ada visi dalam pengorbanan

Sekarang, presiden telah mati, ║ Karena mereka telah meledakkan kepalanya ║ Tak ada lagi leher untuk dimerahkan ║ Ya, ke surga, ia melarikan diri, ║ Bukankah itu yang ia katakan, ║ Karena siapa yang sedang berada di ranjangnya, ║ Siapakah yang akan memimpin kita ║ Dari tangan siapa, kita akan makan? ║ Semua kebohongan oleh pendusta yang mengatakan ║ “Kita akan baik-baik saja” ║ OK, ║ Ibu, lihat dia tak berkepala lagi!

Bla bla bla bla… ║ (Ini adalah karnaval dosa, dan satu, dua, tiga, BERANGKAT! ║ sah saja ku berucap Berangkat! ║ satu, dua, tiga Ku bilang Pergi! ║ Ok, itu benar)


"March Of The Dogs"

[Spoken:]
Ladies and gentlemen of the underclass,
The president of the United States of America,
Is Dead!

I don't believe in the politics,
Of chosen fools and hypocrites,
Who walk a line that tread so fine,
Is death or glory had in mind?

And here we go again,
it's mass delusion,
No one knows,
Who'll lead this revolution now,
As tension grows,
The way to a conclusion,

It's too late there's no time (it's too late there's no time)
All for none, none for one, two, three, four

March of the dogs,
To a beat of disillusion
Sworn under god,
Breeding panic and confusion,
The white flag is down,
Send in the clowns,
The carnival of sins is now going to begin,

It may be I'm a pessimist,
But I say we need an exorcist,
The root of all evil standing tall,
Under god and above us all,

And here we go,
Again in desperation,
All we know,
Is confusion and frustration,
As tension grows,
No vision of salvation

It's too late there's no time (it's too late there's no time)
All for none, none for one, two, three, four

March of the dogs,
To a beat of disillusion
Sworn under God,
Breeding panic and confusion,
The white flag is down,
Send in the clowns,
The carnival of sins is now going to begin,

Hey! Hey! Hey! Hey!
A-one, two, three, four

And now the president's dead,
Because they blew off his head,
No more neck to be red,
Yes to heaven he fled,
Was it something he said,
Because of who's in his bed,
By who will we be led?
From whose hand will we be fed?
All the lies by the lying liars who said
We'll be fine,
It's OK,
Hey look mom no head

Blah Blah Blah Blah...
(It's the carnival of sins,
and a one two three go!
it's alright I said go!
one two three I say go!
It's ok, it's alright)

Music by SUM 41

Read more/Selengkapnya...

Dua Jam bersama Thomas More (1478-1535)


Berjelaga di Negara Utopia

Seandainya saja kita berada di dunia penuh damai, penuh kasih, tanpa masalah, tanpa kekerasan dan pelanggaran, alangkah indahnya sebuah kehidupan. Otak kita akan bergerak menuju harapan tersebut jikalau kita telah dan sudah tidak tahan dengan kondisi kita. Angan-angan tersebut menari-nari di pikiran kita-kita akibat kejenuhan pada permasalahan yang tidak kunjung selesai. Andai saja…

Pemikiran untuk membentuk sebuah kota harapan sejak lama telah berkembang di kalangan para cendikiawan dan pemikir. Utopia-nya Plato, "Kota Cahaya Mentari"-nya Farabi, dan "Surga Dunia"-nya Thomas More, adalah di antara kota-kota harapan itu. Negeri impian tersebut telah melanglang buana menjadi sebuah harapan dan keniscayaan yang kadang juga mustahil untuk diwujudkan alias utopis. Tulisan ini sekedar mengulas tentang Thomas More dan Monumen karyanya yang menjadi arus balik pemikiran kaum-kaum inteletual di abad ke-16 tentang konsep Negara.

Sejarah More, adalah tentang orang yang sangat kompleks dan menyisakan sisi gelap dalam kehidupannya saat kematiannya. Akhir hayat di tiang gantungan menjadi kontradiksi dengan apa yang telah diperjuangkannya di dalam pemerintahan Inggris sejak abad ke-15. Thomas More lahir di Milk Street, London pada 7 Februari 1478, putra dari Sir John More, seorang hakim terkemuka. Dia sekolah di St Anthony di London. Sewaktu muda dia pernah menjadi pelayan di rumah Archbinshop Morton yang mengharapkan More menjadi orang yang dikagumi. More melanjutkan studi di Oxford di bawah pengajaran Thomas Linacre dan William Grocym. Selama masa tersebut, dia menulis cerita komedi dan belajar kesusasteraan Yunani dan Latin. Salah satu karya pertamanya adalah terjemah dari bahasa Latin ke bahasa Inggris Biografi tokoh Humanis Italia Pico della Mirandola. Karya tersebut diterbitkan Wynkyn de Worde pada 1510.

Selama 1494, More kembali ke London untuk mempelajari ilmu Hukum dan diterima di Lincoln’s Inn pada 1496 dan menjadi pengacara pada 1501. Sebelumnya dia tidak mengikuti jejak langkah ayahnya secara otomatis. Pikirannya terbagi di antara panggilan gereja dan hidup melayani masyarakat sipil. Ketika berada di Lincoln’s Inn, dia terpengaruh untuk menjadi pastur dan cenderung memilih menganut carthusian (katoliksisme), yang bertempat tinggal di dekat gereja dan menjalani kehidupan pastur. Kebiasaan berdoa, berpuasa dan menebus dosa menjadi bagian kehidupannya. Semangat monastisisme (cara hidup biarawan) yang dia miliki akhirnya kalah oleh keinginan kuatnya untuk mengabdi pada Negara di bidang politik. Dia memasuki parlemen pada 1504.
Salah satu tindakan pertama More di parlemen adalah memerintahkan penurunan jatah yang diberikan pada Raja Henry VII. Sebagai balasannya, Raja menahan ayah More dan tidak membebaskannya sampai hukuman tersebut dibayar dan More harus mengundurkan diri dari kehidupan publik. Setelah kematian Raja pada 1509, More kembali aktif. Pada 1510, dia menugaskan dua wakil sherif di London. Dengan kapasitas ini, dia memperoleh reputasi sebagai orang adil dan patron orang-orang miskin. Pada 1511, istri pertama More meninggal karena melahirkan dan More segera menikah lagi dengan madam Alice.
Dekade selanjutnya, More menarik perhatian Raja Henry VIII. Pada tahun 1510, Thomas More melihat bahwa keadaan Inggris telah berubah dan dirubah oleh pemerintahan Tudor yang aristokrat. Ia pun menyeletukkan ucapan bernada kritik, domba yang memakan manusia. Masa itu adalah permulaan era baru kapitalisme dan dia tidak menyukainya sama sekali. Kehidupan yang ada pada abad ke-16 di mana seluruh profesi dan praktek—di dalam gereja, pemerintahan, masyarakat dan bahkan pengetahuan—berdiri terpisahkan oleh jurang yang amat dalam. Pada 1515 dia menemani delegasi ke Eropa Utara untuk membantu menyelesaikan perdagangan wol. Utopia dibuka karena perjalanan delegasi ini. Tetapi alasan sebenarnya adalah permintaan Henry VIII kepadaya untuk menjadi penasehat pada 1516. Karena itu, dia menciptakan karya—untuk pada Henry VIII—yang fenomenal dan luar biasa berjudul Utopia. Atau dengan istilah lain, berkunjung ke negeri antah berantah. Karya tersebut merupakan satir yang tajam pada masa itu. Meskipun begitu, Henry VIII menganggap hal tersebut bukan sebuah kesalahan.

More juga membantu memadamkan pemberontakan di London pada 1517, seperti yang dilukiskan Shakespeare dalam drama Sir Thomas More. Pada 1518, ia menjadi anggota dewan rahasia dan dianugerahi satria pada 1521. More menjadi konsultan di parlemen dan kanselir walikota Lancaster pada 1525. Sebagai konsultan, More menetapkan hak istimewa parlemen di dalam kebebasan berbicara. Dia menolak merealisasikan rencana Raja Henry VIII untuk bercerai dengan Katherine dari Aragon (1527). Meskipun begitu, setelah kejatuhan Thomas Wolsey pada 1529, More menjadi Kanselir utama, orang awam pertama yang memegang jabatan tersebut.

Meski kinerjanya dalam hukum patut dicontoh, kejatuhannya berlangsung cepat. Ia berhenti pada 1532 karena alasan kesehatan, tetapi alasan sebenarnya karena penolakannya pada pendirian Henry pada gereja. More adalah seseorang yang memegang teguh nilai-nilai keagamaan. Inilah yang membuatnya berlawanan dengan Henri VIII yang menarik sistem yuridiksi paus dari geraja Inggris. Dia menolak menghadiri penobatan Anne Boleyn pada Juni 1533, sesuatu yang membuatnya mendapat peringatan dari Raja. Pada 1534, dia dituduh terlibat bersama Elizabeth Arag√≥n (1527), biarawati dari Kent yang menentang Henry VIII untuk melawan Roma, tetapi mendapat perlindungan dari Raja yang menolak laporannya sampai nama More tercoret di daftar nama. April 1534. akhirnya, dia dinyatakan bersalah karena berkhianat dan dihukum gantung di samping Uskup Fisher pada 1535. Pesan terakhirnya di tiang gantungan adalah: Raja adalah pelayan yang baik tetapi Tuhanlah yang terbaik (The King’s good servant but God’s first). More diberkati pada 1886 dan diangkat sebagai orang suci oleh Pope Pius XI pada 1935.

***

Pemikiran More banyak berhutang pada gagasan Plato di dalam karya Republik. Plato mengedepankan model kehidupan komunis (komunal) bagi penjaga dan komponen Negara (bukan kelas produsen). Kualitas superior dari kelas penjaga dan masyarakat diperoleh dari praktek stirpikultur dan kontrol Negara oleh pemuda-pemuda yang sedang tumbuh. Di dalam Republik, akhir cerita lebih pada sisi politik daripada ekonomi. More tidak membatasi perhatiannya pada kelas pemerintah tetapi kepada seluruh struktur sosial yang dia rencanakan. Dia meletakkan narasinya pada tokoh Raphael Hythloday, pelancong Portugis yang mengkritik hukum dan kebiasaan Negara-negara Eropa dan menggambarkan institusi ideal dari hasil observasinya ketika dia singgah di Negara Utopia selama lima tahun. Pendapat More bukan hanya tentang kebijakan politik kontemporer tetapi tentang muasal pemerintahan dan usaha-usaha yang dilakukan Plato dan Aristoteles untuk membentuk Negara ideal. Utopia terbagi menjadi dua buku; pertama mengilustrasikan dialog antara Thomas More, Hythloday, dan Peter Gilles yang berperan sebagai penghubung keduanya. Buku kedua adalah narasi deskriptif tentang hukum, kebiasaan dan orang-orang di Utopia. Buku pertama sangat penting sebagai komentar yang jelas pada Eropa kontemporer dan Inggris secara khusus.

Dalam Utopia ada tiga karakter, pertama adalah Thomas More sebagai dirinya sendiri, Raphael Hythloday atau Rapahel Nonsenso, yang merupakan pelancong di negeri eksotis dan tokoh Peter Gillis. Sebenarnya Hythloday tidak hanya bepergian ke Utopia saja tetapi negeri “aneh” lainnya dan menemukan bahwa kebanyakan mereka lebih baik dari Eropa. Dan dia meledak-ledak atas pengalamannya yang luar biasa. Menurut Hythloday, Inggris mempunyai administrasi yang amat buruk. Pencuri dan pembunuh dihukum mati tanpa ada konsekwensi pengampunan. Cara-cara menghukum lebih ditekankan daripada melihat bahwa manusia tidak dikendalikan untuk mencuri. Kelas rendah, sebagai contoh, seharusnya juga mempelajari perdagangan, sehingga mereka tidak tidak perlu melakukan pencurian ketika dipecat oleh majikannya. Juga ketetapan seharusnya dibuat untuk pekerja-pekerja agrikultur (petani) yang tidak mereka ikuti ketika tanah untuk becocok tanam dirubah menjadi peternakan. Dia menilai bahwa kesulitan-kesulitan pemerintah Eropa seringkali dibenturkan dengan institusi kepemilikan pribadi. Keberatan dibuat untuk menyanggah Hythloday bahwa Negara tidak akan makmur selama seluruh properti menjadi milik umum karena tidak ada rangsangan untuk kaum buruh, manusia menjadi lamban dan kekerasan dan pertumpahan darah menjadi keniscayaan. Hythloday menjawabnya dengan menggambarkan kondisi neggara Utopia.

Di pulau Utopia yang terletak di selatan Khatulistiwa terdapat 54 kota, di mana tiap kota dengan kota lainnya berjarak 25 mil. Pemerintahannya representatif. Seluruh pemerintahan Utopa dibangun dengan tujuan kesejahteraan sosial dan kebijakan institusional yang mengarah pada harmoni sosial. Raja Utopus merencanakan dan memanage seluruh kota Amaurot untuk menyakinkan bahwa tujuan tersebut bisa diperoleh dengan sejumlah cara. Dari tiap kota, tiga orang yang bijaksana dan berpengalaman dikirim ke ibu kota untuk terlibat dalam urusan publik. Masyarakat pedesaan hidup di lingkungan pertanian yang menyebar di seluruh pulau dan terdiri dari 40 orang di samping dua budak. Untuk setiap 30 rumah pertanian ada pemimpin yang dikenal dengan philarch. Sepuluh philarch bersama-sama dengan kelompok keluarga mereka di bawah petugas yang disebut dengan ketua philarch. Bertani adalah satu pekerjaan yang dikerjakan oleh semua orang, laki-laki dan wanita tanpa pengecualian. Ini menunjukkan bahwa alasan tidak adanya hak milik pribadi dan uang di Utopia.

Pangeran pulau dipilih seumur hidup oleh mereka dari empat kandidat yang diusulkan oleh masyarakat. Dia akan diturunkan jika dianggap tiran. Hukum-hukumnya berjumlah sedikit, begitu juga kekerasan yang terjadi. Di antara daerah agrikultur Utopia, ada ilmu pengetahuan yang diinstruksikan. Anak-anak di sekolah belajar sejarahnya dan teori. Dari setiap kelompk dari 30 petani, 20 orang setiap tahunnya dikirim ke Negara tetangga untuk memberi ruang bagi orang yang datang dari kota ke Negara. Untuk mengatur populasi, pemerintah mengatur ketetapan bahwa di setiap kota hanya ada 6000 rumah tangga yang setiap rumah berisikan 10 atau 16 orang. Jika rumah tersebut mempunyai jumlah yang lebih maka mereka akan ditransfer ke daerah yang tidak mencukupi.

Dari segala waktu, semuanya merasakan kehidupan pertanian. Tiap orang juga diajarkan untuk berdagang. Biasanya mereka memilih perdagangan ayahnya, tetapi jika ia menginginkan yang lain juga diperbolehkan. Kerja masyarakat Utopia hanya enam jam sehari tetapi ini sudah cukup memenuhi kebutuhan dan kehidupan mereka, ini diharapkan pemalas menjadi sedikit dan tidak ada waktu yang sia-sia.

Di beberapa kota, kelompok keluarga mempunyai tempat makan umum, meski setiap orang berhak makan di rumahnya sendiri. Pelayanan ini dilakukan oleh para budak, sementara wanita-wanita dari beragam keluarga juga ikut membantu persiapan makanan. Ketika masyarakat Utopia memproduksi cukup suplai setidaknya selama dua tahun, mereka memakai surplus yang diperoleh dari perniagaan dengan Negara-negara tetangga, yang membuat mereka aman dari emas, perak, besi dan benda-benda lain yang mereka butuhkan. Mereka tidak menggunakan emas dan perak sebagai mata uang, sejak mereka mempunyai kepemilikan bersama pada properti, tetapi mereka menggunakannya untuk menyewa tentara dari negara tetangga. Untuk urusan musik, aritmatika, dan geometri mereka lebih unggul dai Eropa dan di astronomi dan meteorolgi mereka jauh melampaui.

Terdapat varian berbeda dalam agama, tetapi ritual publik mereka mempunyai karakter umum sehingga mereka dapat melakukan ritual keagamaan bersama. Seluruh kepercayaan selain Atheisme ditoleransi. Etnik mereka adalah hedonistik dan sedikit dari mereka yang tertarik pada kehidupan asketik (pertapa). Hukuman mereka pada kriminal dan kejahatan adalah dijadikan budak, dan seseorang yang seharusnya dihukum mati di Negara lain juga diperlakukan demikian. Anak-anak dari para budak tidak mempertahankan status dari orang tua mereka. Seseorang yang terkena penyakit yang tidak bisa disembuhkan, oleh para pendeta dan hakim disarankan untuk hidup menyendiri. Jikalau mereka tidak mau, tidak akan ada paksaan. Mereka yang melakukan bunuh diri tanpa persetujuan pendeta dan hakim akan dilakukan penguburan yang tidak terhormat dan mereka yang meninggal dengan gembira, tubuhnya akan dikremasi sebagi simbol penghormatan. Wanita tidak diperbolehkan menikah di bawah umur 18 begitu juga laki-laki yang harus di atas umur 22. banyak langkah yang diambil untuk membuat mereka melakukan pernikahan, salah satunya diperkenalkan satu sama lainnya untuk menghindari rumah tangga yang tidak bahagia. Perceraian hanya boleh dilakukan satu kali dan hanya pihak yang tidak bersalah yang boleh menikah lagi. Pendeta Utopia mempunyai kekudusan yang tinggi, tetapi jumlah mereka hanya sedikit. Mereka dipilih oleh masyarakat dengan surat suara rahasia. Wanita tidak dimasukkan pada kependetaan, meskipun sebagian mereka—janda dan wanita tua—dipilih. Kependetaan berada di kehormatan yang sangat tinggi. Pelancong menyimpulkan bahwa kuantitas ini dengan menujukan kebahagiaan dan persesuaian yang berlaku di Utopia berada pada tiadanya properti pribadi.

Untuk urusan bepergian, Hythloday berkata, “Seseorang yang ingin mengunjungi temannya di negeri lain dengan gampang mendapat izin dari syphogrant dan tranibor (petugas yang menangani hal tersebut), kecuali jika untuk beberapa alasan dia dibutuhkan di rumah.” Tetapi dia harus berjanji untuk kembali pada waktu tertentu. Jikalau dia melanggar maka akan diberi hukuman keras. Ini mengindikasikan masyarakat yang kolektif, bahwa seseorang meninggalkan komunitas tanpa memberitahu seseorang merupakan kriminal dan harus dihukum.
Gagasan More selanjutnya banyak ditiru oleh pemikir setelahnya, meski tidak serupa tetapi hal tersebut adalah sebuah interpretasi dan kelanjutan dari karya More yang membumi. Sebut saja karya francis Bacon; "New Atlantis" (1624), Campanella; "City of the Sun" (1637), William Morris's; "News from Nowhere" (1890) dan lain-lain.

***

Kenapa More menulis Utopia? Apakah dia berpikir bahwa ini adalah konsep masyarakat yang sempurna? Mungkin tidak, sebagaimana yang diungkapkan More pada akhir tulisan bahwa segala sesuatu yang ditawarkan adalah absurd: ini termasuk metode mereka untuk perang, praktek keagamaan, kebiasaan mereka; tetapi keberatannya adalah dasar dari seluruh sistem, yakni hidup secara komunal dan ekonomi tanpa uang. Jika More lebih serius seperti Plato dan penulis Utopia lainnya dan mengerti keadaan yang belum ada dan diteorikan bagaimana hal tersebut bekerja, tanpa adanya data pantauan pendukung. Premis More tentang Negara Utopia, masyarakat yang makmur dan tanpa perlindungan hak individual, banyak dijadikan tujuan utama banyak Negara pada abad ke-20 dan dengan kebijakan yang serupa dengan Utopia.

Perdebatan utama More dan Hythloday pertama kali berkutat pada pertanyaan kenapa Hythloday tidak menasehati Raja, pertanyaan ini disesuaikan dengan waktu dia menulis buku ini, karena waktu itu dia diundang Raja Henry VIII untuk menjadi penasehat kerajaan. Hythloday menentang Raja karena menganggap raja hanya tertarik menggunakan penasehat untuk perbuatan-perbuatan yang amoral dan tidak terhormat. Ini menampilkan gagasan filosofis dan politis, apakah kebijaksanaan dan aksi moral dalam konflik satu dengan yang lain atau apakah mereka mampu menjadi satu dan sama? Faktanya, buku kedua tidak menjawab pertanyaan ini dan menunjukkan kemungkinan More tidak pernah menyimpulkan permasalahan sebelum kematiannya.

Pertanyaan lain yang timbul pada dialog pertama fokus pada hukuman pencurian di Inggris sewaktu masa More, yang berakhir di ujung tali gantungan. Hythloday menentangnya karena hukuman tersebut dianggap terlalu kejam dan tidak mencegah sebab terjadinya hal tersebut, yakni kemiskinan. Solusinya adalah menghapus properti pribadi kemudian menghukum dengan ganjaran yang setimpal, bukan hukuman mati. Gilles dan More tidak setuju dengan dengannya karena mereka tidak berpikir bahwa menghapus hak milik pribadi adalah solusi yang sesuai. Dan pertanyaan ini tidak diputuskan dalam buku, meski More menganggap bahwa penghapusan hak milik pribadi menyebabkan kehancuran peradaban masyarakat. Buku pertama selesai pada catatan ini dan hanya sebagai pengenalan tokoh Hythloday yang menjadi sumber utama penjelas pulau Utopia tersebut.

Karya Utopia adalah potret sosial pemerintahan yang sempurna yang dibangun berdasarkan fundamen-fundamen agama atau diperintah oleh pemuka agama. Faktanya, ia adalah prototip dari bentuk tulisan tentang sistem sosial yang sempurna yang dominan pada abad ke-8; pandangan Utopia sekuler. Konsep pemerintah sosial yang sempurna adalah surga yang dibawa ke bumi atau surga yang diwujudkan di bumi. More menyadari bahwa nafsu pada kekayaan menjadi sumber utama kejahatan di dalam masyarakat. Utopia menggambarkan masyarakat di mana orang-orang terpuaskan atas kebutuhan-kebutuhan dasar dan menghasilkan lebih tujuan-tujuan menyediakan penyangga atas bahaya-bahaya di masa depan, termasuk penyerangan oleh Negara lain. Di dalam Utopianisme-nya, masyarakat tidak perlu bekerja lebih untuk keperluan-keperluan yang dibutuhkan. Tetapi More juga menghormati pekerjaan yang dilakukan atas kemauan sendiri. Gagasan ini kemudian diperkenalkan kembali oleh Saint-Simon, penganut Utopia modern dan juga Karl Marx.

Karya Utopia Thomas More adalah sebuah pemikiran penting yang membantu kita memahami pemikiran politik masa sekarang dan renaissance dan untuk meninjau ulang kondisi Eropa abad ke-16. karya ini adalah kendaraan More untuk meninjau dan menguraikan beberapa gagasan terkait dengan nasehat raja pada peranan properti pribadi di dalam masyarakat. Ceritanya, More diberitahu tentang pulau di dunia baru bernama Utopia oleh Raphael Hythloday—arti Hythloday adalah orang yang ahli omong kosong—yang merupakan daratan yang mempunyai perbedaan dan persamaan dengan Negara Inggris yang dipimpin oleh Tudor. More menyimpulkan perbedaan di akhir bukunya bahwa beberapa hukum dan kebiasaan yang dijelaskan Hythloday di Negara Utopia sebenarnya sangat absurd, dia mengakui bahwa di Negara makmur Utopia ada beberapa ciri-ciri dan karakter yang sama dalam masyarakat kita lebih dari yang kita lihat.


Bahan Rujukan
Ian Ousby, Ed. 1998. The Life of Sir Thomas More (1478-1535), The Cambridge Guide to Literature in English.
(Cambridge University Press: Cambridge).
Frank O'Hara. 1912. Utopia. Catholic The Catholic Encyclopedia. Volume XV. (Archbishop of New York.).
Richard Marius. 1995. Utopia as Mirror for a Life and Times. (Keynote Address, Loyola College of BaltiMore, BaltiMore, Maryland).
Syakban Rosyidi. 2002. The History of Modern Thought. CISC (Center of Interdisciplinary Study and Cooperation: Malang).

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP