23 Oktober 2007

PALSU

Heran…
Gema takbir kudengar meremehkan
Lantunan maaf kuanggap mencaci
Apalagi zakat, bagiku
Tak lebih untuk harga diri
Semua palsu
Apa baju baruku juga palsu?

13 10 07

Read more/Selengkapnya...

BALAS JASA

* Untuk Ibunda, Mbak Ulfa dan Alfa

Dalam lamat tangisku
Belaianmu menghentikanku terisak
Senyummu tanpa lelah nikmat kupandangi

Tanpa mengeluh aku kau kau asuh
Dengan sabar, kasih sayang kau sebar

Ibu…cukup lama kau menunggu aku besar
Menunggu aku untuk mendurhakai
Menanti aku untuk mengkhianati

Tangis-tangis berubah amarah
Gelak tawa menua seringai
Kulumanku menjadi gigitan

Sementara…
Kau tidak pernah sadar
Kau peluk aku hanya agar aku bias
Menikammu dari belakang
Dan membunuhmu perlahan
“dan kau tak pernah mau sadar”

19 10 2007

Read more/Selengkapnya...

SUBUH YANG TERBUANG

Matamu telah terbuka
Butiran ‘belek’mu masih kentara
Kau hanya memegang selangkangan
Menahan kemih yang mau keluar


Kau tumpahkan pada kamar mandi
Kepesingan yang bersambut kelegaan
Tapi..tetap saja
Kau kembali menyingkap sarung
Menunggu siang datang
Dengan subuh yang terbuang

13-06

Read more/Selengkapnya...

KABAR PUDAR

Amboi…
Hati rekah menjemput kabar engkau
Melagukan pertikaian dalam sengau
Lepas dari harapan; dan bertumpu
Pada usaha yang menderu-deru

Aih…
Kenapa dia bilang kabar itu angin
Menerpa hati tak bisa tergapai
Menangkap bergantinya hari senin
Dan kau bilang itu apologi?

Huh…
Dasar kabar; cepat menyebar
Gampang terkapar

11-10

Read more/Selengkapnya...

04 Oktober 2007

FASTING AS RELIGIOUS SOCIALISM

(THE FRICTION OF RELIGIOUS RITUAL OF VALUE IN RAMADAN)
Introduction

Every year in one month, we’ll face the ultimate month to do religious ritual called Fasting. In that month, every Moslem from every society class, together, prepare to perform it. Based on what Qur’an said: “Kutiba ‘alaikum as-Siyaam kamaa kutiba ‘ala al-ladzina min qablikum la’allaku tattaquun; Fasting is prescribed for you, as it was prescribed for those before you, so that you may guard against evil.” (al-Baqarah: 183).

This verse and other Hadith related to fasting prescription will be famous in Ramadan to hear. Every Moslem scholar uses it to order every Moslem in the world to perform fasting. The word صام has a meaning “Detaining”. It implicates to control the hunger and thirsty from Subuh until Maghrib time. Quraish Shihab in his book, Lentera Hati explains that Fasting is one of performance to imitate some characters of God; not ever eating, drinking, bearing, and being beard. Those three kinds of passions are the highest stages of crucial passion categories. To detain its fervors is simply to arrest others.

Fasting as Religious Socialism
The main point of fasting is not only holding or arresting them. We’ll find many fasting substance consisted. We, as human, just find a little bit of its matter. Fasting or Ramadan is the moment to create unclassified society. This ritual never differentiates whoever, whatever, however Moslem is. They have obligation to achieve fasting in everywhere they exist.
Socialism, itself, was appeared as a resistance to the capitalism. Socialism awakened from the humanist dispute opposing to the unfairness and grind of classical capitalism which made the workers had no any advantages on work. It categorized the society as twosome of Bourgeois and Proletariat. Socialism would remove it with their ambition.

Karl Heinrich Marx (1818 – 1883), by his work, introduced socialism concept that was applied in his work and Engels: Manifesto Communism. Through socialism, struggling to the social rights and control to the production and transfer. And also through the colonization freedom, socialism struggled to terminate the grind of fellow being and equivalently finished the social conflict arising out from classification of class arbitrarily. Socialism tried to end especial constraints in forming fair civilization, based on progressive brotherhood.
Colliding with Ramadan sacrament, we’ll find the equation between this religious service and socialism concept although we can’t judge that both have the same purpose, because both represent different kinds of concepts and aims.

What we say Fasting as religious socialism is the friction of fasting value. It evolutes as social ritual though it still consist religious value in. Fasting teaches us to respect everyone, to help each other and the important thing is together to pray and act the ritual without distinguishing from what class of society we are from. Everybody is the same. The differences are the modal and faith we have. Fasting instructs us to esteem each other and worship equation, so that all Moslems, together, feel the prettiness of Ramadan. That’s one what socialism does for, to create the fair of fellow being by unclassified class.

Religious service has two relationship; to the god and also to the human being. Both must be stand for each other to create the balance in the world.

Read more/Selengkapnya...

Surga di atas Kloset

Sore itu menjadi sangat mulia. Seruan “Istighfar” terus dilafalkan. Mencari arti kerelaan Tuhan dan berpasrah diri pada-Nya sebagai anak yang perlu dan harus dilindungi. Ayat-ayat al-Qur’an terus dilantunkan dengan suara merdu. Menyentuh bibir kenikmatan hati dan memolesnya menjadi sebuah gincu penenang kegelisahan yang tak terobati. Kerinduan mendalam pada-Nya terhempaskan dengan hanya mendengar dan memahami kandungan makna firman Tuhan yang berkumandang.

Aku pun terbawa arus dalam sekejab. Kumpulan orang-orang berkopyah telah berkumpul di sampingku. Mengikuti sebuah aturan yang telah terstigma sebagai rutinitas keagamaan. Bibir ini terus melantunkan pujian-pujian untuk “merayu” Tuhan. Tangan tidak terlepas dari tasbih yang mengalun pelan mengiringi alunan suara hati. Pucuknya selalu tersentuh ketika mencapai bilangan seratus. Sebuah angka yang menunjukkan kesempurnaan. Sempurna menurut ukuran manusia. Tapi itu belum cukup sebab semuanya akan terhenti dan berubah ketika sang pemimpin berubah haluan dengan artikulasi seruan yang berbeda. Layaknya seorang budak, mereka—dan juga aku—tak ubahnya sekumpulan robot dengan microchip sebagai pengontrol kendati masih dikendalikan oleh satu orang.

Iqamah pun didengungkan. Perlahan, semuanya bangkit dan mengangkat tangan untuk ber-takbiratul ikhram. Mungkin Tuhan akan merasa bangga dan senang bukan kepalang karena diagungkan berjuta-juta manusia. Semuanya berserah diri dengan iringan do’a yang tidak terputus setiap hari. Mau atau tidak, asma-Nya adalah kata-kata yang paling sering diucapkan, baik di dalam ritual ataupun hanya sekedar membuka kunci pintu kost-kosan. Bismillahirrahmanirrahim!

Entah, setelah salam tiba-tiba saja perutku mules. Kenapa mesti sekarang? Kenapa di saat-saat ku mencoba untuk bermunajat pada Tuhan ada gangguan seperti ini. Godaan setan? Alah, mana mungkin makhluk se-elegan dan se-terhormat itu mau berurusan dengan sesuatu yang kotor dan bisa menyumpal hidung. Tak selamanya gangguan dalam beribadah itu disebabkan olehnya. Dia tidak melulu kambing hitam, karena sebenarnya kita salah satu manifestasi dari setan dalam bentuk karakter negatif. Aku baru ingat, tadi sore, teman-teman kamar ruja’an dan sambalnya lumayan menggigit lidah. Pedas. Yah, efeknya baru terasa sekarang. Rasanya remuk seluruh isi perut ini.

“Mau kemana dik?” Fathul, si satpam ubudiyah menahanku di pinggir Masjid. Satu-satunya jalan keluar menuju asrama. Aku hanya menggunakan bahasa tubuh. Kupegangi perutku sambil meringis. Dia pun mengijinkan aku untuk tidak mengikuti “hadiran” kali itu. Aneh. Hanya dengan memegang perut, dia sudah mengerti maksudku. Bahasa yang aneh. Suara dan diksi kalimat tidak lagi dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan bahasa. Konsep Langue dan Parolenya Sausurre ataupun the Others-nya Derrida masih belum kukenal waktu itu. Sebenarnya pemahaman bahasa itu terletak di mana? Tapi apalah artinya, yang penting aku bisa memenuhi hajatku untuk buang kotoran.
Sesampai di kamar, aku tersenyum kecil melihat tumpukan orang tak berbaju di pojok kamar. Teman-temanku tak ada yang ke Masjid. “Kok gak ke masjid?’ tanyaku penasaran. “Pura-pura gak tahu kau?” Ledek mereka padaku. Salah satu dari mereka menyulut rokok dengan penuh nafsu. Fuh, ditiupnya dengan penuh kenikmatan. Tak kuhiraukan mereka, kuambil cebok dan langsung menuju ke WC umum pondok.

Duduk berjongkok. Mata setengah terpejam. Cebok pun tergenggam erat. Akhirnya bisa kukeluarkan seluruh keburukan dari diriku. Kenikmatannya mengalahkan semuanya. Pikiran bagai dibius dengan sebuah harapan yang telah dicapai dan berhasil menuju pencerahan. Kosong. Bagiku ungkapan John Locke; tentang “Tabula Rasa” (manusia awalnya seperti kertas kosong) telah kualami sepenuhnya. Kendati bukan pada waktu belia, tapi aku telah merasakan kekosongan di dalam diri tanpa ada intervensi dosa ataupun pemberian pahala. Perasaanku benar-benar plong. Cukup menyenangkan, walaupun aku menyadari semuanya akan kembali pada bentuk semula. Bisa dikatakan dinamisasi dunia lah, batinku. Aku kembali menjadi orang yang bersih. Tanpa ada tuntutan dan kesulitan di dalam diri. Bebas. Tanpa ada tanggungan. Sebuah kebebasan yang semu. Sebab aku akan kembali kotor, bergelimang dengan sejumput kotoran di pundakku, dan akan selalu terbawa di mana pun eksistensiku berada. Aku hanyalah sebuah Ego yang menginginkan pengetahuan. Bagiku sendiri ataupun untuk orang lain. Aku ada karena kau ada. Radja pun mencoba menjadi eksistensialis. Dasar, Eksistensialis sialan!!!

***
Aliran sungai yang jernih. Riak air berkejaran mengarungi kebisingan tiupan angin yang tak berhenti. Berkubang dalam ceruk bebatuan yang hitam legam. Semilir angin masih menerpa rambutku yang sesekali menjatuhkan air. Mengalir. Entah menuju kemana. Mengikuti tanpa tahu arah tujuan. Bisa munafiq juga kau air, pikirku. Kau bisa jadi kotor ketika berada di comberan atau bahkan bisa suci mensucikan sewaktu digunakan berwudlu’. Coba kau berfikir jernih, dan jadilah air yang bersih. Hilangkan semua bakteri dan lumut darimu dan jadilah air yang didambakan manusia. Dan jangan sekali-kali ikut arus, hanya karena lebih dalam kau senang berada di sana.

Udara di sekitar sungai Metro mulai berubah. Dingin. Bukan karena Malang kota dingin, tetapi memang udara pada waktu itu berubah drastis. Tidak biasanya Malang sedingin ini. Aku pun menggigil. Gemeretuk gigiku terdengar jelas. Kuangkat sarungku dan mulai berbenah. Lega juga setelah buang hajat, di manapun tempatnya. Rasanya berada di surga. Nikmat. Tanpa ada beban berat yang menghimpit. Perasaan yang akan kembali kurasakan ketika ku datang ke kloset untuk sekian kalinya. Di manapun itu…di sungai ataupun WC. Sama saja. “Mus, cepat pulang. Sebentar lagi tahlilan”, seru temanku. Oh, aku baru ingat kalau sekarang malam Jum’at. Biasalah program teman-teman Basecamp. “I’m coming!” ucapku. Ufuk mulai terlihat jelas. Berkas cahaya matahari menghilang perlahan. Mengiringi langkahku pulang.

Read more/Selengkapnya...

Massa Merah


Sore ini, langit masih temaram. Semburat senja membulat muram. Mentari juga belum tenggelam. Angin melambai pelan, menorehkan kelembutan pasang-surut ritme dedaunan. Sebagian daun menguning dan niscaya akan berguguran menubruk keangkuhan bumi. Kemudian hilang tanpa bekas. Tanah lapang itu masih ramai: penuh sesak prajurit yang berseliweran. Mendongakkan kepala merasa superior, membentak para tahanan yang dirasa melawan. Sebagian mereka ada yang mengangkut setumpuk mayat tervonis mati. Apel sore kali ini merenggut banyak jiwa. Bunyi senapan berkali-kali menyiksa kupingku. Perih. Dadaku sesak menyaksikan seorang kurus ringkih tumbang dengan kepala bersembur darah. Wajahnya menyisakan senyum: kebahagian atau kekecewaan, aku tidak pernah tahu.

Manusia memang lebih rendah dari binatang. Hanya dengan dalih konstitusi Negara, mereka rela membunuh saudara sendiri seperkandungan ibu pertiwi. Diimingi sebuah materi, mereka bisa berkelakuan kasar tanpa ampun. Inikah bukti kesempurnaan manusia? Akal pikiran apa yang mereka gunakan? Mereka mengaku sebagai pahlawan Negara, tetapi rakyat sendiri yang jadi korban. Aku hanya bisa meringis ketika tanganku tersenggol. Luka hasil popor senapan kemarin, belum kering benar. Melepuh dengan nanah yang bertaburan. Masih beruntung aku tak bernasib naas. Izrail seperti enggan mencabut jiwaku.

"Mikiran apa Jo?"
"Ah, enggak kok, hanya mikirin nasib sendiri, Sib"
Kasib membuyarkan lamunanku. Laki-laki ini sangat kukagumi. Dia begitu tegar dengan semua ini; sudah tak terhitung pukulan dan tendangan bersarang di tubuhnya tetapi dia tetap tak bergeming ketika ditanya tentang revolusi yang kami lakukan. Matanya hanya nanar melihat sang penginterogasi. Dia tidak seperti Kasib yang dulu aku kenal. Sosok Kasib yang lugu, lemah dan pendiam telah berubah setelah dia mengikuti sebuah pertemuan di daerah Semarang. Perilaku yang tenang itu berubah bengal. Setiap ketidakadilan dilawannya tanpa ampun. Tidak seperti sebelumnya, untuk berpapasan dengan tentara dia sudah meringis ketakutan.

"Sampean nyesel ikut kami Jo?"
"Ya gak, kok sampean mikir kayak gitu?"
"Cuma perasaan aja, lha sampean masang tampang kok murung banget"
"Aku cuman mikir apa usaha kita akan berhasil?!"
Kasib hanya tersenyum simpul. Belum sempat dia menjawab, seorang sipir datang dan mengeluarkan Kasib untuk dinterogasi kembali. Dia dicurigai pemerintah sebagai salah satu pemimpin kami, sebab dia tertangkap ketika mengadakan rapat bersama petinggi gerakan di rumahnya. Hanya dia yang bernasib sial, sementara mayoritas peserta rapat berhasil kabur walaupun sebagian dengan membawa sebuah pelor di kaki. Malam itu, banyak dari anggota gerakan kami ditangkap pemerintah dengan alasan mengancam keutuhan Negara.

Malam semakin lengang dan menghitam. Tak ada suara-suara berarti. Suara tak lagi terdengar. Aku mulai gelisah, Kasib belum kembali. Biasanya, interogasi hanya berlangsung sekitar satu jam dan dia akan kembali dengan muka memar bermandikan darah dan lagi-lagi hanya senyum yang terlihat dari wajah, merasa puas karena sipir tidak berhasil mendapatkan secuil jawaban dari mulutnya. Mungkinkah sang sipir sudah bosan atau muak untuk memaksa dia karena tak kunjung menjawab dan langsung menghabisi nyawanya bagai sembelihan?

Hawa dingin meresap cepat ke permukaan kulit. Merembes menusuk sum-sum tulang. Darahku berdesir kencang dan jantung berdebar keras. Sejumput rasa takut mulai muncul. Beradu dengan kebimbangan. Takut akan kehilangan seorang teman. Seseorang yang sanggup mendidihkan darahku dari kebekuan. Ingatanku terbawa pada waktu pertama aku ikut gerakan massa merah ini. Pada waktu aku berdialog dengan Kasib tentang ideologi gerakan.

"Kenapa sampean ikut gerakan ini Jo?", pertanyaan Kasib membuatku bingung. Kenapa pula masih dipertanyakan, sudah untung ada penambahan anggota baru di gerakan. "Emang penting dijawab Sib?" Aku balik bertanya.

"Ah, gak terlalu penting sih, cuman yang saya tahu setiap orang pasti punya alasan dan harapan. Saya tak ingin sebuah pilihan tercipta hanya karena alasan dan harapan yang semu. Tanpa tujuan dan maksud, sebab hanya penyesalan yang akan terjadi nanti."

"Njlimet sampean Sib, jelasnya saya melihat gerakan ini lumayan terkenal dan mulai memasyarakat di sini. Katanya sih akan membuat perubahan bagi Negara ini," jawabku sekenanya. Kasib mengerutkan kening. Gurat kesenjaan usia terlihat. Garis-garis hitam menghimpit kulit bergelombang mengikuti alur alis. "Aneh, perubahan pasti akan terjadi Jo, selama manusia masih berpikir dalam keterasingannya. Ideologi ini tak terkait dengan prestise atau kepopuleran di mata masyarakat. Tujuan Jo, lagi-lagi tujuan. Mana mungkin sih sampean melakukan sesuatu tanpa ingin mewujudkan keinginan sampean?". Dua alis Kasib masih menyatu seakan masih tidak percaya dan menganggapku hanya ikut-ikutan.

"Yo, singkatnya, saya ikut karena pingin ikut, lagian kalo saya gak ikut nantinya khan saya ketinggalan jaman. Gak ikut perkembangan masyarakat modern. Sampean khan ngerti sendiri kalo gerakan ini telah memerah di nusantara dan bahkan mendapat respon baik dari berbagai kalangan pribumi. Lingkaran kecil harus masuk dalam lingkaran besar agar ikut besar. Gitu khan Sib?!"jawabanku mulai kuperpanjang. Mengelak kulakukan. Aku hanya tak ingin dianggap rendah oleh sahabatku sendiri meskipun aku sadar dugaannya mendekati kebenaran. Egois? Mungkin iya mungkin tidak.

"Sama saja Jo," Kasib menepuk pundakku pelan. Dia rapatkan posisi duduknya di sampingku. "Sampean harus sadari, dalam mengikuti gerakan pandangan sampean haruslah memang benar-benar sesuai atau minimal mendekati ideologi tersebut. Jangan sampai arah pandangan sampean berubah setelah ikut. Itu sih namanya ikut-ikutan, tanpa tahu ikut apa dan siapa. Pikiran-pikiran sampean harus bisa terjawantahkan dan berurat akar dengan ideologi gerakan. Intinya harus sama dari awal. Bukan berubah kemudian. Orang tak akan bisa mengikuti kumpulan Apartheid kalo dia bukan orang hitam."

Aku terdiam lesu. Menyerah dalam keraguan dan ketidaktahuanku. Akhirnya, tak kupaksakan lagi untuk berkata apalagi mencoba menyanggah. Percuma. Lidahku kelu, urat sarafnya seperti putus. Egoku hilang tergerus dan diam dalam kekosongan hati. Sampai-sampai membuka bibir pun aku tak sanggup. Kasib melanjutkan omongannya.

"Massa merah ini bukanlah organisasi tanpa dasar dan tujuan. Ia mempunyai nilai-nilai yang sebenarnya telah ada, bahkan tersebut di kitab suci kita. Sampean Islam khan? Begitu pula saya". Diambilnya sebungkus rokok dari balik sakunya. Kemudian disulutnya hingga memerah. Asapnya membumbung tinggi mengurai langit yang tak beratap. "Maksud sampean apa Sib, saya gak paham. Maksud sampean organisasi ini berdasarkan pada Al-Quran?"

"Nyantai Jo, jangan kesusu ingin paham. Ngerokok dulu nih, mumpung malam masih lama menemani kita. Cukup kok untuk menjawab pertanyaan sampean, sebab malam tak akan pernah hilang!" Aku menggeleng, ketertarikan akan jawaban membuatku tak berselera untuk melakukan apapun. Apalagi merokok.

"Salah satunya itu, kita juga menggunakan segala yang baik untuk dijadikan pedoman. Agama yang kita anut telah mengajarkan konsep-konsep yang mendukung ideologi kita. Konsep Kemerdekaan (Liberty), Persamaan (Equality) dan Persaudaraan (Fraternity) telah tertuang dengan jelas di Al-Quran. Maaf Jo, aku gak hapal Al-Quran, tapi menurut salah satu pemimpin kita seperti itu. Marx, Hegel, Lenin, Stalin atau bahkan Muhammad adalah salah satu sosok pecinta kemanusiaan. Mereka tidak menginginkan sebuah ketimpangan sosial hanya karena pengkotak-kotakan jenis masyarakat. Di mata Muhammad, berdasarkan wahyu, tidak ada perbedaan antar manusia, yang ada hanyalah proses pembeda menuju ketajaman spiritual. Begitu pula, Marx yang menyokong pemikiran Hegel, ingin menciptakan masyarakat tanpa kelas. Satu tujuan tapi lain metode khan? Muhammad dengan Islam dan Marx dengan Sosialisme."

"Coba sampean lihat, nasib petani di desa kita. Mereka tetap saja tertindas, apalagi yang hanya mengarap tanah orang. Hasil yang mereka dapatkan hancur berkeping karena hanya Negara yang lebih senang mengimpor beras dari luar negeri. Dan lihat saja, tetap saja ada sekat antara yang kaya dan yang miskin. Karena itulah, gerakan Massa Merah ingin memperbaiki sistem yang sudah ada, bukan ingin membangun sistem yang baru seperti anggapan orang-orang."

"Warna kulit, bentuk, ataupun sifat manusia boleh saja beda. Tapi ada yang sebenarnya menyatukan mereka. Yakni warna darah. Merah, melambangkan keberanian untuk kemanusiaan yang harus dijunjung tinggi. Dan semua manusia berdarah merah. Karena itulah gerakan ini dinamakan Massa Merah. Merah seperti darah. Eh, Udah larut malam Jo, tak terasa. Aku pamit dulu yah, entar istriku marah-marah lagi. Haha, biasalah aku khan suami yang takut istri." Ujarnya sambil tersenyum sebelum pamit. Malam itu, aku masih tak bisa bicara banyak. Kaku dalam kesunyian. Perlahan, ucapan Kasib menggerogoti keyakinanku sehingga aku ingin benar-benar melebur dalam gerakan ini. Harus dan harus…

Malam bertambah larut. Hatiku semakin kalut. Pikiranku telah diracuni: aku yakin Kasib telah mencumbu maut. Dia pernah bersumpah di depanku, lebih baik mati daripada cita-citanya tidak tercapai. Ideologi Massa Merah seperti mendarah daging. Tak ada yang dibicarakannya kecuali membentuk masyarakat tanpa kelas tanpa ada diskriminasi antar golongan terutama kaum tertindas yang selalu dia ingin bangkitkan. Kau telah mencapai cita-citamu, Sib. Sulit merubah sistem Negara ini. Hati pemerintah telah teracuni Materialisme. Tak ada yang menjanjikan bagi kaum proletar di bumi pertiwi. Untuk menyebutnya sebagai tanah air kelahiranku aku merasa jijik dan muak. Kurebahkan badanku di dipan, mencoba untuk memejamkan mata dan bergelayut mesra dengan kegelapan. Merasakan sisa-sisa ketenangan di dalam bibir penjara yang menyesakkan. Door!!! Suara tembakan mengejutkanku, "Kasib!"

Read more/Selengkapnya...

Kata-kata

RAUT wajahmu berubah di saat ku mengucapkan kata itu. Sebuah ungkapan paling berdampak pada psikologis seseorang. Simbol bahasa yang bermakna dalam. Lebih dalam daripada sumur yang mempunyai dasar. Karena tak ada dasar pada dalamnya kata-kata itu. Senyummu mulai menghilang. Tertutup rapat dalam kebisuan. Tak kutemukan lagi kembang ceria pada lapis rekah bibirmu. Tanganmu tergenggam erat, menyiratkan kelemahan untuk berkata-kata. Secuil kalimat tak terdengar lagi. Hanya aliran angin berdesir pelan terdengar jelas mengarungi indera. Hari itu kau tak kunjung menjawab. Kemampuan bahasamu seperti hilang tanpa bekas. Ah, bahasa hati memang sulit diungkapkan.

Tatapan mata tak lagi bertemu. Masing-masing memandang ke lain arah. Aku pun mengalihkan pandangan pada segarnya rumput terhampar luas di depanku. Embun yang selalu mengiringi hari-harinya telah menguap ke atap langit. Kau pun tetap membisu. Wajahmu tak lagi kukenal. Di mana permata hatiku yang selalu memancarkan cahaya keceriaan? Sifatmu seperti telah berubah. Ketundukan dan keletihan telah mencengkeram hatimu perlahan. Kelopak matamu menutup seketika. "Jangan menangis, Sil," gumamku di hati.

Rasa bersalah berkecamuk di batinku. Keraguan untuk memastikan jawaban tetap melebur di otak. Akal telah mengalahkan hatiku. Keperkasaan intuisi ini melemah hanya karena kebekuan yang tak melahirkan kata. Setidaknya, jawaban itu akan membuatku senang atau tidak masih menginginkanku untuk menunggu. Sulit bagiku untuk melanjutkan. Semua harapan hancur perlahan. Maksud untuk melanjutkan perkataan terbenam dengan pelan. "fa, aku tak bisa menjawab sekarang," hanya itu yang kau ucapkan. Serentak membuatku tercekat. Seribu teka-teki bergelayut di pikiranku. Kenapa kalimat itu yang keluar dari bibirmu. Sebuah pernyataan pasti yang kutunggu. Bukan jawaban yang menyisakan pertanyaan. Terlalu lelah aku menunggu untuk mengetahuinya.

Ada sebongkah batu yang masih belum bisa aku angkat. Bebannya terlalu berat. Bongkahan bebatuan yang telah habis masih menyisakan satu lagi batu yang sulit untuk digerakkan. Letih. Perasaan ini terlalu letih untuk menyisakan rasa penasaran kembali. Andai saja jawabanmu tidak berupa kata-kata seperti itu, melainkan anggukan dan gelengan tentu aku tidak akan bingung. Aku yang lahir di dalam kekosongan tanpa pengetahuan kembali diliputi ketidaktahuan. Cukup bagiku untuk menjalaninya.

"Maaf, aku tidak bisa memberikan sebuah kepastian sekarang. Terlalu rumit buatku. Kau yang sudah kuanggap sebagai sahabat karib membuatku sulit untuk memutuskan," untaian kata-kata kembali meluncur darimu. Sahabat? Masih sangat ambigu buatku. Hatiku menimbulkan interpretasi yang beragam. Tapi, itu bukan jaminan kebenaran karena hak itu ada padamu. Ujung pengertian tidak lagi mengerucut, tetapi meluas entah ke mana. Menciptakan labirin yang mempunyai banyak jalan keluar.

Apa yang kuinginkan belum kucapai, malah menimbulkan masalah baru. Kau menjadi jauh, bagai sampul buku yang mulai mengelupas karena waktu. Kedekatan kita selama ini telah berubah menjadi seonggok kotoran, yang untuk mencium baunya orang enggan, apalagi memegangnya. "Sil, aku ingin kau mengerti. Aku mohon, jawablah sekarang juga. Rasa penasaran ini akan membunuhku cepat atau lambat," entah kenapa mulutku tak berhenti bicara. Kata-kata itu meluncur spontan. Aku tak mampu mengontrolnya. Apakah itu memang berasal dari hatiku atau hanya sebuah keterkejutan, aku tidak mengerti.

“Jangan paksa aku lebih dari ini, fa. Sebuah keterpaksaan takkan menghasilkan apa-apa. Kau pun tak mau menyesali apa yang kau dapatkan atas dasar paksaan. Tidak ada kejujuran di dalam kata paksa. Berikan aku waktu.” Ah, linglung aku mendengar kali kesekian jawabanmu. Ingin sekali kupaksa dirimu. Sekali lagi. Tapi pandanganmu memberi banyak arti. Namun kuasa makna tidak berpihak lagi padaku. Bukan padaku sekarang melainkan dirimu yang berhak memberikan sebuah penjelasan dari kata-kata yang akan engkau keluarkan. Membatu, desir darah berhenti seketika. Raut mukamu perlahan menghilang. Meninggalkan aku di tepi jurang kesunyian. Meratapi sebuah kegagalan kata-kataku yang tak mendapat jawaban. Lama aku terduduk meski sedari tadi engkau telah pergi. Kaki ini lumpuh untuk kugerakkan.

Read more/Selengkapnya...

Tidurlah denganku

Tadi malam, kehidupan malamku menghilang. Batas antara aku dan malam semakin jauh. Tak kurasakan belaian lembut angin malam

Read more/Selengkapnya...

Mungkin sudah waktunya

Isakan Raqib menggema
Atid pun begitu
mencucurkan air mata
diseka tanpa tangan
apalagi tisu
Membatu
tanpa nafsu

Hidupku layak
Matiku belum sepenuhnya
Haha...Riskan menggurui
Walau seperti asu
Termangu pada tuan guru

Although me myself being separated
I still standed on my Upset
Where is everyone inside?
Evrything pushed me aside

Let me see Your deep sight
Flashing by the light
I trully dont know
What I can be for creating my own show

Ah Syakban...
Ah Syakban...
kenapa juga kau mirip nama dosenku
dosen Lingustik lagi
Bahkan sangat killer lagi

kini kau mengajakku
untuk menari
di bayang-bayang ilahi rabbi
yang sebenar-sebenarnya aku tak tahu menahu
apa maksud nama atas bulan yang ternyata masih kaku

Yach Aku harap Raqib masih baik
jangan menjadi manusia yang kukenal
cukup malaikat saja
yang setia menemani kebaikanku
Oh Atid, Rokokmu udah habis
mau minta Djarum atau Marlboro
asal jangan catat dosaku untuk saat ini
demi Syakban yang kusayang
setelah Ramadhan

Sumbersari, 26 09 07

Read more/Selengkapnya...

Peraduan Hidup

Burung camar meliuk terbang
Di pantai yang cemerlang
Hinggap di batang-batang
Di bawah kelapa yang terbuang

Seekor ikan malang
Tercabik, terluka
Berdarah-darah
Menyusutkan hentakan karang

Burung camar meliuk terbang
Hampiri sarang bertatah harapan
Mengais sisa terik siang
yang meranggas karena pasang

Camarku malang
Tak sempat kau beranjak pulang
Menggelepar mengentas nyawa
dengan peluru merobek dada

Joyosuko, 13 11 06

Read more/Selengkapnya...

Kata-katamu mati

kata-katamu tak lagi berarti
sunyi dan mati
tak ada lagi rasa ingin; mengetahui
maksud katamu yang menggurui

dulu, katamu menyenangkan
kala itu, tulismu mendebarkan
meski, tidak seperti secarik
kertas menjadikanku tertarik
dan menarik

selamilah kata
bukan apa yang khan terlihat
angankanlah kata
bukan siapa yang khan terungkap

hanya bagaimana
dan kenapa
kemudian kata
akan mati raga

Joyosuko, 11 10 06

Read more/Selengkapnya...

Pagi Menjelang

Rinduku memandang pagi
tak lagi terbendung
Rerumputan yang hangus terbakar api
melengkapi abu yang berkabung

Engkau menahan diri
Dari amukan dan
Kobaran keinginan tanpa tepi
atas nama kenikmatan

Seonggok Harapan telah
kau temukan di dalam
asap racun tak bercelah
Hembuskan kebebasan terdalam

Tak engkau pikirkan balasan
di akhir kehidupan. Engkau
angkuh dalam pendirian
meski kau kadang terpukau
atas kesalahan

Joyosuko; 15 10 2006

Read more/Selengkapnya...

Antologi Kerinduan

(Satu)

Hawa merembet cepat merasuk
menusuk sendi rusuk
Kainmu tak berarti kali ini
Menutupi balutan kulit
Engkau tersadar atas diri
untuk menjamahnya pun sulit

Gerigi jari mulai bermain
melambai di atas patukan burung
yang hinggap tak tentu arah
seperti lamunan mengharap sadar

Engkaupun tak menjamin
membebaskanku dari kurung
terkesiap melihat darah
untuk melihat engkau yang berpudar

15 10 06

(Dua)

Terik siang itu sangat
Meski tanpa rasa iba
Aku berjalan tuk memahat
Ukiran kayu beraroma

Kukira hanya ilusi
Suaramu yang menyela
Dari arah yang berbeda
Meski hanya kira kira
Aku tahu kau bersuara
Di balik suara

Engkau kembali datang
Meski hanya lewat suara
Tanpa muka menjelang
Dan senyum tertata

Joyosuko, 23 11 06

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP