26 Oktober 2010

Fonetik dan Fonologi Bahasa Inggris: Sebuah Tinjauan


English Phonetics and Phonology
Peter Roach
Cambridge University Press
1998
262 Halaman










Oleh: Musthafa Amin

Sebuah ungkapan menarik dicetuskan oleh April Mc Mahon dalam pendahuluan buku Introduction of English Phonology, bahwa seyogyanya manusia lebih pantas disebut dengan istilah homo loquens (makhluk yang berbicara) daripada nama ilmiah homo sapiens (makhluk yang berfikir) yang sudah populer. Hal ini dikarenakan karena banyak spesies memiliki sistem isyarat berlandaskan bunyi atau suara dan dapat berkomunikasi dengan anggota lainnya semisal isyarat bunyi tentang bahaya dan makanan. Manusia sendiri juga menggunakan bunyi sebagai isyarat linguistik dan kemampuannya jauh lebih berkembang. Struktur organ suara manusia sanggup menghasilkan beragam bunyi dengan cara yang beragam pula. Salah satu keunikannya yang bisa dilihat adalah antarbahasa memiliki sejumlah bunyi yang berbeda dan ada kecenderungan untuk lebih banyak atau lebih sedikit dari bahasa lainnya.

Bidang kajian bahasa yang mengeksplorasi sistem bunyi ini disebut fonetik-fonologi. Pertanyaan yang sering diajukan dan menjadi topik besar dalam kajian fonologis dan fonetik, setidaknya sejak esai Joshue Steele, The Melody and Measure of Speech (dalam April McMahon: 2002) adalah bagaimana varian titi nada (pitch) yang dihasilkan manusia dikaji dalam ilmu bahasa.

Tiap bahasa memiliki sistem bunyi dan stuktur silabel yang berbeda dengan kerumitan yang beragam. Bahasa Inggris merupakan salah satu bahasa yang memiliki ejaan yang cukup rumit dan memiliki beberapa silabel-silabel yang sangat kompleks sehingga sangat perlu mempelajari pengucapan kata-kata bahasa Inggris dalam kaitan fonem daripada huruf-huruf alfabetnya. Buku English Phonetics and Phonology karya Peter Roach, seorang profesor emeretus Fonetik di Universitas Reading mencoba menawarkan sebuah penjelasan dalam memahami fonetik-fonologi, terutama dalam bahasa Inggris.

Secara umum, sistematika pembahasan dalam uraian buku ini dibagi dalam 20 bagian pembahasan. Secara sistematis bab satu–tujuh mengenalkan konsonan dan vokal dengan teori fonetik dan fonemik yang cukup relevan. Bab delapan dan sembilan membahas silabel beserta pembagiannya menjadi silabel kuat dan silabel lemah yang seringkali menyebabkan kesulitan bagi penutur asing. Bab 10 dan 11 membahas stressing (tekanan) dalam simple words dan complex words berserta afiks infleksional dan derivasional. Bab 12 lebih fokus terhadap tingkatan rima dan aksen/stress kalimat dengan bentuk-betuk lemahnya. Bab 13 mengkaji sejumlah problematika dalam analisis fonemik dan mengenalkan fitur-fitur distingtif fonologi bahasa Inggris. Bab 14–19 membahas sejumlah aspek suprasegmental khususnya intonasi. Bab terakhir membahas beberapa area studi dalam fonetik dan fonologi dan studi tentang dialek.

Salah satu kompleksitas bahasa Inggris adalah triftong (triphthong). Ia lebih sulit diucapkan dan sulit untuk dikenali. Berbeda dengan diftong yang berbunyi dua rangkap untuk satu silabel, triftong adalah luncuran satu vokal menuju vokal kedua dan ketiga, dan diucapkan secara cepat (hlm. 23). Sebagai contoh, pengucapan kata hour kualitas vokal mirip ɑ: yang meluncur melalui area vokal belakang bundar (salah satu simbol yang digunakan adalah ʊ), kemudian diakhiri dengan vokal tengah/mid-central (ə). Simbol [aʊə] digunakan dalam pengucapakan hour.
Kesulitan bagi penutur asing terhadap bahasa Inggris modern adalah pergerakan vokal yang sangat kecil, kecuali dalam pengucapan yang hati-hati. Karena itulah, vokal tengah dalam tiga vola triftong sulit didengar dan suara yang dihasilkan sulit dibedakan dari beberapa diftong dan vokal panjang.

Pembahasan menarik yang diperbincangkan oleh Roach adalah problematika dalam analisis fonetis bahasa Inggris (bab. 13). Pandangan umum bahwa tuturan tersusun dari fonem dan di manapun bunyi diproduksi sangat dimungkinkan untuk mengenali fonemnya memang sepenuhnya benar namun terdapat problematika teoritis yang patut dipertimbangkan.

Menurut Roach ada dua problem teoritis yang terjadi, yakni dari perspektif analisis dan assignment (penempatan). Fonem merupakan satuan unit paling dasar dari bahasa namun ada beberapa kesulitan untuk menentukan fonem yang tepat dalam bahasa tersebut, utamanya bahasa Inggris. Akibatnya adalah beberapa penulis menghasilkan analisis sistem fonemik yang berbeda. Analisis fonemik tidak begitu rigid dan sederhana sebagaimana mempelajari huruf-huruf alfabet. Sebagai contoh adalah simbol ʧ dan ʤ dalam kosa kata church dan judge. Keduanya adalah bunyi letup (plosive) yang diikuti afrikatif. ada dua analisis yang muncul di sini yakni keduanya merupakan fonem konsonan tunggal dan analisis lainnya menganggap bahwa keduanya adalah dua fonem konsonan yang indipenden (t+ʃ dan d+ʒ). Hal ini akan menimbulkan kerancuan pemahaman meski tidak berujung pada perbedaan makna. Apalagi, masih menurut Roach, penutur asing yang awan bahasa Inggris menganggap keduanya merupakan satu bunyi, senada dengan analisis pertama.

Dari problematika assigment, Roach mencoba menampilkan salah satu contoh dalam uraian silabel kuat dan lemah (bab sembilan). Bunyi ɪ dan i, dalam beberapa konteks, jelas berbeda, namun di konteks lainnya terdapat kesulitan menentukan bunyi. Dalam Menentukan ɪ dan i dalam kata beat dan bit masih lebih mudah daripada menentukan bunyi silabel kedua dari kata easy dan busy dalam salah satu dialek bahasa Inggris, dialek Wales. Ada dua kemungkian penentuan fonem dalam kosa kata tersebut, yakni easy = /i:zi/+/i:zɪ/ dan busy = /bɪzi/+/bɪzɪ/. Hal ini juga terjadi dalam penentuan bunyi fonem u dan ʊ. Bilamana dalam penentuan bunyi untuk kata to, dalam kalimat good to eat dan food to eat, diucapkan dengan vokal ʊ sebagaimana fonem untuk good dan vokal u: sebagaimana fonem untuk food, maka penentuan vokal apakah untuk kata ‘to’ dalam kata I want to?

Meski buku ini dibuat sebagai bahan ajar bagi penutur asing agar mempermudah komunikasi dengan penutur asli Inggris, buku ini seyogyanya dapat menjadi memperkaya kajian dalam khazanah Linguistik dan berguna bagi linguis. Buku ini menyediakan penjelasan yang bernas tentang fonologi bahasa Inggris dengan cakupan teorinya. Diagram-diagram ilustratif untuk varian bunyi juga sangat membantu. Jika butuh membandingkan deskripsi sejumlah fenomena bahasa tertentu dengan bahasa Inggris, buku ini merupakan rujukan yang dapat diandalkan. Bagian asimilasi tingkatan kalimat sangat membantu untuk menunjukkan pentingnya menulis secara morfofonemik daripada menuliskannya secara fonetis. Di samping itu juga terdapat contoh-contoh yang gampang dicerna dalam prosesnya seperti asimilasi, elisi dan lain-lain dari bahasa Inggris. Selamat membaca!

Read more/Selengkapnya...

03 Oktober 2009

Sekolah (Bukan) Sebagai Komoditas


Judul : Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru)
Penulis : St. Kartono
Penerbit : Penerbit Buku Kompas – Jakarta
Cetakan Ke-1 : 2009
Tebal : 221 halaman








SEKOLAH (BUKAN) SEBAGAI KOMODITAS


Pendidikan adalah elemen penting dalam membentuk manusia yang intelek dan berkualitas. Dari sinilah asal muasal seorang pemimpin yang nanti akan memimpin negara ke depan. Menilik sistem pendidikan Indonesia, sebenarnya sejak dahulu ia menjadi concern pemerintah. Salah satunya adalah alokasi APBN sebesar 20 persen, yang bila dilaksanakan dengan baik dan benar, pendidikan Indonesia dinilai dapat berkembang dengan pesat dan semua lapisan masyarakat dapat mengenyam pendidikan dengan biaya murah bahkan gratis. Namun secara faktual, pendidikan di tanah air hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Sekolah acapkali dijadikan ajang bisnis, lahan mencari keuntungan dengan beragam cara dan motif.


Semisal pada proses penerimaan siswa baru, sudah menjadi rahasia umum adanya upaya-upaya “jual jasa” dari beberapa oknum lembaga pendidikan. Lain pula, bila ditilik dari segi biaya-biaya pendidikan yang semakin bervariasi dan pasti mahal menyisakan kegelisahan bahwa ukuran sekolah yang baik dan berkualitas harus mahal, di samping masih ada pungutan-pungutan liar mengatasnamakan kebijakan sekolah-sekolah. Dan juga bukan rahasia lagi, bila di dalam kebobrokan sistem tersebut, pendidik dan birokrasi memiliki andil dalam melanggengkan peralihan fungsi sekolah dari lembaga pendidikan menjadi lembaga jual beli.

Akibatnya, sistem “pasar” ini mengakibatkan terjadinya klasifikasi pendidikan ala ideologi pasar kapitalis. Si kaya akan mengenyam pendidikan berkualitas dan si miskin mengenyam pendidikan seadanya atau tidak sama sekali alias putus sekolah. Seumpama barang mahal, hanya kaum kaya yang mampu membeli. Hal ini tentu telah mengesampingkan hak rakyat atas pendidikan dan kewajiban negara sebagai penyedia pendidikan yang layak bagi masyarakat.

Buku Sekolah Bukan Pasar (Catatan Otokritik Seorang Guru) karya ST. Kartono ini merupakan salah bentuk otokritik dan perlawanan terhadap sistem pendidikan ala pasar dan perilaku aparat pendidikan di dalamnya. Penulis dengan bernas mengurai permasalahan-permasalahan yang menimpa dunia pendidikan di tanah air. Beliau menyajikan gagasan-gagasan konstruktif dan detail dalam mengkritisi dunia pendidikan Indonesia kontemporer.

Buku ini merupakan bunga rampai artikel-artikel ST. Kartono di salah satu media massa nasional. Secara garis besar, pokok pikiran beliau dapat dirumuskan pada kesalahan sistem pendidikan yang bermuara pada money interest. Kepentingan yang bersifat pragmatis ini mulai menyelimuti seluruh sistem pendidikan. Yang terlibat di dalamnya pun beragam dan terpola sistematis dan terorganisir, mulai dari birokrat pendidikan dan pendidik.

Empat puluh tulisan dalam buku ini dipetakan dalam tiga bagian dengan konteks pendidikan yang beragam. Bab pertama, Sekolah di Zaman Kini, penulis mengulas persoalan-persoalan yang selalu menggelantungi pendidikan dewasa ini terutama terkait alih fungsi sekolah menjadi pasar. Mulai dari perihal mahalnya biaya buku, sekolah sebagai proyek dan lain sebagainya. Bab kedua adalah Tergantung pada Guru yang menjelaskan bagaimana peran sesungguhnya seorang guru beserta problematika guru kekinian semisal terjerat dalam masalah kelayakan gaji. Dan bab yang terakhir adalah Mengajarkan Keutamaan. Pada bab terakhir ini, rumusan tulisan lebih dibentuk untuk menafsiri efek pendidikan pasar terhadap objek pendidikan yakni para siswa.

Artikel-artikel penulis di dalam buku ini ditulis dari kurun tahun 1996 hingga 2008 sebagai upaya kajian perilaku pendidikan di tanah air secara berturut-turut. Bisa dibayangkan bahwa problematika pendidikan pasar ini sudah mengakar sejak 8 tahun sebelumnya atau bahkan mulai tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, persoalan-persoalan yang dihadapi dunia pendidikan masih cukup seragam: pendidikan adalah komoditas. Bila itu semua tidak dapat teratasi, sekolah sebagai ladang pasar dan pengeruk keuntungan akan semakin langgeng dan tujuan dasarnya akan tergerus oleh perilaku oknum yang tidak mendidik. Sudah saatnya sekolah dibebaskan dari suasana bisnis yang dilakukan oleh siapa pun, baik oleh birokrat pendidikan nasional, kepala sekolah atau bahkan guru sekalipun.

Sebagai praktisi pendidikan, sekumpulan artikel penulis yang telah mendedikasikan diri sebagai guru selama puluhan tahun ini, menyiratkan objektifitas tentang perilaku negatif dunia pendidikan di tanah air. Tanpa tedeng aling-aling, penulis menggali dan menyodorkan banyak fakta. Fakta-fakta yang bermunculan mengarah pada oknum yang banyak berasal dari para guru sendiri. Meskipun penulis sendiri adalah guru, tanpa keraguan sedikitpun penulis membeberkan persoalan-persoalan sekolah sebagai ajang jual beli. Karena bagi penulis, terdapat banyak ruang yang perlu dikritisi dari dunia pendidikan dan ini harus dilakukan guna memperbaiki dan meningkatkan sistem pendidikan nasional yang lebih baik dan berkualitas.

Kehadiran buku ini tentunya diharapkan mampu menjadi otokritik dan perlawanan atas silang sengkarut dunia pendidikan saat ini di Indonesia, terutama dalam kondisi seperti sekarang ini di mana kebebasan berpendapat mulai dihormati. Buku ini layak dibaca dan menjadi rujukan oleh semua orang yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan, terutama bagi pengamat pendidikan, guru, birokrat pendidikan dan mahasiswa.

Read more/Selengkapnya...

29 Juli 2009

Identitas Sebuah Cerita


Semua orang punya cerita. Tetapi tidak semuanya dituliskan. Ada untuk konsumsi pribadi ada juga untuk konsumsi khalayak. Saya hanya sekedar menunaikan titah Pram. Dia bilang,"Semua harus ditulis. Apa pun.... Jangan takut tidak dibaca atau diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna." (Pramoedya Ananta Toer, Menggelinding 1, 2004)

Di bawah ini adalah cerita, kisah tentang pengalaman studi. Mungkin tidak menarik bagi anda kendati hal ini masih menyisakan gelak tawa dan senyuman, minimal untuk diri saya. Ini cerita tentang sakralnya sebuah simbol. Ini adalah kisah saya dengan Samuel Huet, dosen native saat semester 4 (kalau tidak salah) Di UIN malang. Kala itu dia mengampu mata kuliah Writing III (Alhamdulillah saya mendapat E, dan saya merasa pantas, untuk kekhilafan saya di masa itu).

Are You Fascist?
Pagi hari di Joyosuko, matahari memang sudah terbit namun belum menyengat. Malah menusuk dingin, menghembuskan hawa penuh rasa ingin tidur kembali. Aku harus bangun, dosen kali ini lumayan tangguh. Tidak ada kata telat. Telat, pertanda engkau akan dipandanginya. Kalau dipandangi mahasiswa masih lumayan, sebab pandangannya dilapisi senyum. Mengejek tentunya. Sementara dosen tangguh ini tatapannya lain. Tatap penuh pengertian dan penuh kata. Memberikan pengertian padaku dan berujar,”sebaiknya anda jangan masuk, sebaiknya anda pulang.”

Sial, aku lupa. Mesin air mati. Sumur pun kering. Sudah satu hari kamar mandi bau pesing. Mau sholat saja harus ke Musholla bapak Padil di tengah sawah. Terpaksa, ku turut teman satu kontrakan menuju tempat pemandian. Namanya sungai Metro, tempat pemandian tanpa sekat, tanpa dinding pembatas. Kelebihannya, airnya sangat jernih. Jauh berbeda dari air-air di wilayah Sumbersari dan Kerto, yang pekat, kuning dan penuh zat besi. Saran saya jangan telanjang bila mandi di tempat ini, dijamin anda aman dari bahaya intip-mengintip.

Dan lagi-lagi sial. Selesai mandi dan telah sampai di pintu kamar. Aku sadar, baju-bajuku belum kering. Hanya tinggal sepotong kaos dan jaket hitam agak lusuh. Sementara jam sudah menunjukkan enam lewat seperempat pagi. Terpaksa, itu saja yang kupakai, dengan bercelana tentunya. Oh…sepertinya ku bakal berlari lagi.

***

Untung saja, di gedung B lantai dua, dari jauh kulihat teman-temanku masih bergerombol di luar kelas. Pertanda yang sangat baik untukku. Sebuah doa bodoh muncul di otakku, “tuhan, semoga dia tidak masuk saja.” Kuperlambat langkahku. Lumayan, untuk mengeringkan keringatku yang sedikit muncul di pori-pori. Sayang, doaku tidak dikabulkan. Malah dosen tangguh itu muncul dari arah yang berlawanan dan lebih dekat dengan kelas. Aduh…duh…lari lagi!

Kelas dimulai. Dosen tangguh ini emang benar-benar hebat dalam mengajar. Rencana pembelajarannya matang, materi-materinya menarik, gak bikin bosen dan seringkali diselingi dengan joke-joke. Toh, meski begitu, tidak ada jaminan mahasiswa bakal tertarik juga mendengarkan. Repot mau menyalahkan siapakah yang sebenarnya bermasalah saat sistem pengajaran tidak berlaku baik. Mahasiswa cenderung menyalahkan dosen, sebaliknya dosen menganggap mahasiswanya kurang semangat. Hanya segelintir mahasiswa yang mengakui bahwa dirinya bermasalah sebab tidak memperhatikan, tidak mengerjakan tugas-tugas yang ada dan lainnya. Dan sedikit dosen juga yang mau peduli kenapa mahasiswanya seperti itu, kebanyakan menganggap tugas saya sebatas jam kerja saja. Meski lagi-lagi ini praduga saya.

Kuliah telah selesai, meski sudah sejak seperempat jam sebelumnya bukuku sudah kumasukkan dalam tas. Sudah terbayang, mau memasak apa di kontrakan. Pecek terong apa sayur asem. Atau hanya mie kuah diselingi dengan tempe menjes ala warung mas Andik.

Bapak Samuel Huet, si dosen tangguh itu sudah mempersilahkan mahasiswanya pulang. Semuanya kompak merapikan tas dan bergegas keluar kelas. Saat hendak mendekati pintu, tiba-tiba Bapak Samuel Huet memanggilku. Sontak saja aku kaget dan langsung beralih ke mejanya. “Why do you put that symbol in your jacket?” Tanya beliau penuh penasaran. Karuan saja, aku kebingungan dan langsung melihat jaketku. Di bahuku, ya jaketku memiliki beberapa jahitan bordiran berbentuk logo. Di bahu kanan berupa bendera jerman. Di bahu kiri berupa lambang swastika, symbol NAZI di era Hitler. Barangkali dia penasaran kenapa ada lambang NAZI di jaketku. “Is there something wrong sir?” kubalik bertanya. Sebab sejauh jaket ini ini kubuat sejak semester satu, tidak ada yang mempertanyakan, kenapa harus kuberi lambang NAZI dan bendera Jerman. Yang sering malah dipinjam oleh anak-anak kontrakan (Sholeh, Idil) dan kawan-kawan di Komisariat (Idris, Miftah, Faruq dll). Bahkan, sampai ada yang menanyakan jaket ini milik kelompok apa, kok sering dipakai banyak orang. Aku hanya tergelak dan berujar dalam hati, “yang ada bukan kumpulan atau grup tapi satu jaket dipakai banyak orang.”

Dosen Samuel tidak menjawab malah bertanya lagi. Pertanyaan dijawab pertanyaan, bukanlah hal yang asing dalam komunikasi meski dapat mengasingkan pikiran jernih. “Are you fascist?”, pertanyaannya menyentakku dan menyadarkanku bahwa symbol semacam ini masih begitu berarti bagi sebagian orang. Symbol yang kita pakai adalah bagian diri kita, bukan untuk bergaya, bukan untuk gagah-gagahan di depan orang. Ini adalah salah satu bentuk dentitas kita yang membedakan diri kita dengan orang lain. Sementara banyak orang di luar sana, memakai symbol untuk menegaskan eksistensinya, saya adalah ini atau saya adalah itu. Namun hanya sebatas kulit luar tak sampai mengenal lebih dalam atau malah menjadi bagian. Hal ini seperti orang yang memakai kaus Che Guevara dan dengan serius mengatakan dia bersaudara dengan Bob Marley dan Mbah Surip. Saya sadar, seketika itu juga.

“No sir, it’s just a symbol. It’s not my ideology,” jawabku sekenanya. Tanpa penjelasan lebih lanjut, aku pamit keluar. Bayangan menanak nasi bersama teman-teman kontrakan masih cukup kuat. Hal itu tidak menggangguku. Barangkali dosen Samuel masih terbayang-bayang apakah aku keturunan fasis yang katanya pelaku holocaust itu. Entah kenapa beliau mempertanyakannya. Apakah bagi orang luar negeri, symbol tersebut masih begitu sakral hingga hanya orang dengan ideology tersebut yang berani memakainya, atau barangkali benih-benih ideology semacam itu masih berkembang di beberapa Negara seperti kaum skinhead di Inggris yang begitu benci orang imigran. Ah, untung saja ku tak memakai logo palu arit, bisa-bisa ku dilaporkan ke BIN (Badan Intelejen Negara) untuk suksesi penguatan basis komunisme. Ah, lagi-lagi pikiranku terlalu kemana-mana. Hari itu kemudian berjalan seperti biasa. Penuh dengan kegiatan-kegiatan rutin.

Kini, jaket itu telat lusuh, sebagian kancingnya telah lepas. Kini kupajang dia di lemari pakaian bersama toga. Ada banyak kenangan di sana berkumpul dengan keringat kawan-kawan yang membekas di jaket itu. Kuanggap keringat itu masih ada meski sudah kucuci berulang-ulang. Keringat yang menandakan kita sempat memiliki identitas yang sama.

Kraksaan Probolinggo, 12 Juli 2009
NB: percakapan bahasa inggris tersebut hanya rekaan, yang inti pembicaraannya semacam itu. Sudah terlalu lama untuk ingat detailnya.

Read more/Selengkapnya...

14 Juni 2009

Lomba Cerpen Science Fiction (SIFIC)

Fiksi ilmiah akan memungkinkan kita semua untuk mengupas realitas dan menemukan kebenaran di dalamnya.” (Arthur C. Clarke)

Fiksi ilmiah adalah suatu bentuk fiksi spekulatif yang terutama membahas tentang pengaruh sains dan teknologi yang diimajinasikan terhadap masyarakat dan para individual. Di dunia sastra Indonesia, genre yang satu ini agak jarang disentuh. Tetapi di dunia sastra internasional, genre ini adalah genre yang sudah ada sejak pertengahan Abad 19. Jules Verne, yang kerap disebut-sebut sebagai Bapak Fiksi Sains menerbangkan balon udara dalam cerita mengelilingi dunia dengan balon selama delapan belas hari, sebelum Zeppelin menemukan balon udara; membantu NASA meluncurkan Apollo 11 dalam novelnya From The Earth to the Moon. Verne tidak menganggap novel-novelnya hanyalah khayalan. Dia yakin ada ilmuwan yang dapat mewujudkan imajinasi-imajinasi nya itu.

Di situlah letak keindahan sebuah fiksi-sains, bercerita melebihi jamannya. Yang patut digaris bawahi adalah pandangan pengarang tentang masa depan tidak hanya berpijak pada sudut pandang imajinasi semata, melainkan juga dari kaca mata ilmu pengetahuan. Berdasarkan kalkulasi akurat tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan dimasa sekarang, pengarang menciptakan sebuah imaji masa depan tentang keadaan masyarakat atau makhluk lain yang berada di luar khayalan manusia di abadnya. Kemudian timbul pula pertanyaan, mengapa di Indonesia masih sedikit penulis fiksi ilmiah? Apakah karena para ilmuwan kita tidak memiliki bakat mengarang dan para pengarang kita tidak punya latar belakang sains.

Menjawab pertanyaan ini maka Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFIS) Universitas Brawijaya, Malang akan mengadakan acara Science Fiction dengan tema:

Leading our future with imagination

Dengan Sub Tema Sebagai berikut:

  • Bagaimana sains merubah masa depan Indonesia
  • Mitologi Indonesia dalam Bingkai Sains
  • Indonesia tahun 2030

Peserta : Umum Pengumpulan : 4 Mei – 4 Juni 2009 Persyaratan cerpen yang dilombakan :

  1. cerpen harus karya asli penulis/pengarang; bukan terjemahan atau saduran
  2. Cerpen mengandung unsur sains, pendidikan, tidak bermuatan pornografi dan SARA.
  3. cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa, dan tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan lain
  4. Cerpen diketik dengan komputer dalam kertas A4 margin 4-3-3-3 spasi 1,5. Panjang 4 - 8 halaman; Times New Roman 12.
  5. Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 judul cerpen sesuai dengan tema
  6. Pendaftaran Rp. 20.000 / Cerpen
  7. Karya dikirim dalam bentuk hard copy dan HARUS disertai soft copy (dalam CD), formulir pendaftaran yang bisa di download pada web www.himafis. brawijaya. ac.id/sific2009. html dan fotokopi pengenal (KTP/KTM/SIM/ Paspor), dan bukti pembayaran.
  8. Naskah dikirim ke Panitia Science Fiction (SIFIC) Kesekretariatan Himpunan Mahasiswa Fisika Jurusan Fisika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya. Jl. Veteran no 1 Malang 65145
  9. Batas terakhir pengiriman naskah 4 Juni 2009 (Cap Pos)
  10. Semua naskah cerpen yang masuk sudah menjadi hak milik panitia
  11. Dipilih 30 nominator yang cerpennya akan diterbitkan oleh Bisnis2030 Online Publisher (Internet Business Provider) Webstore: www.bookoopedia. com

Aspek- Aspek yang dinilai adalah :

  • Base on Science (30%)
  • Kesesuaian dengan tema (25%)
  • Unsur-unsur Instrinsik (plot, setting, penokohan dll) (25%)
  • Pesan moral (20%)

Dewan juri:

  • Ir. D.J Djoko. H.S M.Phil.,Ph.D
  • Evi Widiarti (Perwakilan dari Bisnis2030)

Pengumuman pemenang Juara I, II, III dan nominator akan diumumkan pada acara seminar kepenulisan “Fiksi Ilmiah dalam Sastra Indonesia” pada tanggal 13 juni 2009 atau bisa langsung dilihat web HIMAFIS : www.himafis. brawijaya. ac.id


berita ini dilansir dari mywritingblogs.com

Read more/Selengkapnya...

Lomba Menulis Cerpen Remaja (LMCR) 2009

PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA

Kembali menyelenggarakan: LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2009) Memperebutkan: LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD

Total Hadiah Senilai Rp 80 Juta Peserta: Terdiri dari 3 (tiga) kategori : Pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Guru/Umum

Syarat-Syarat Lomba:

  • Lomba terbuka untuk Pelajar SLTP (Kategori A), Pelajar SLTA (Kategori B) dan Mahasiswa/Guru/Umum (Kategori C) dari seluruh Indonesia atau yang sedang studi/dinas di luar negeri
  • Lomba dibuka tanggal 10 Mei 2009 dan ditutup tanggal 3 Oktober 2009
  • Tema cerita: Dunia remaja dan segala aspeknya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, penderitaan, maupun kekecewaan)
  • Judul bebas, tetapi mengacu pada Butir 3
  • Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) judul
  • Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang benar, indah (literer) dan komunikatif serta bukan jiplakan dan belum pernah dipublikasi
  • Ditulis di atas kertas ukuran kuarto (A-4), ditik berjarak 1,5 spasi, font 12 (huruf Times New Roman), margin kiri kanan rata (justified) maksimal 5Cm
  • Panjang naskah antara 6 – 10 halaman, disertai: sinopsis, biodata dan foto pengarang, foto copy indentitas (pilih salah satu: KTP/Paspor/SIM/Kartu Pelajar/Kartu Mahasiswa) yang masih berlaku
  • Naskah yang dilombakan dicetak/diprint-out masing-masing judul 3 (tiga) rangkap disertai file dalam bentuk CD
  • Naskah yang dilombakan per judul dilampiri 1 (satu) kemasan LIP ICE jenis apa saja atau 1 (satu) segel pengaman SELSUN.
  • Naskah yang dilombakan beserta lampirannya (perhatikan ketentuian Butir 7b, 7c dan 7d) dimasukkan ke dalam amplop tertutup/dilem, cantumkan Kategori Peserta pada kanan ataspermukaan amplop dan dikirimkan ke Panitia LMCR-2009 LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau Sentul City, Bogor 16810 – Jawa Barat
  • Hasil lomba diumumkan 31 Oktober 2009 melalui website www.rayakultura.net dan www.rohto.co.id
  • Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat
  • Naskah yang dilombakan menjadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarang
  • Hadiah untuk Pemenang Karya Favorit (jika ada) memperoleh Piagam LIP ICE-SELSUN
  • Semua pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2009
  • Pajak hadiah para pemenang ditanggung oleh PT ROHTO LABORATORIES INDONESIA
  • Informasi lebih lanjut e-mail ke: lmcr.2009@gmail.com
berita ini dilansir dari mywritingblogs.com

Read more/Selengkapnya...

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP